Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    8 Mitos yang Diam-diam Bisa Merusak Pernikahan

    Share

    clara

    945
    23.01.09

    8 Mitos yang Diam-diam Bisa Merusak Pernikahan

    Post  clara on Sun Aug 21, 2011 2:36 pm

    8 Mitos yang Diam-diam Bisa Merusak Pernikahan


    Ketika bicara tentang pernikahan, banyak mitos yang dipercaya umum oleh masyarakat. Tapi hati-hati, tak semua mitos yang beredar itu benar adanya.

    Ketika pasangan mempercayai mitos tertentu maka mereka akan menjalankannya terus menerus. Karena mitos tersebut sudah dipercaya oleh umum, maka jarang sekali pasangan yang mau berpikir dua kali jika kepercayaan tersebut tak berhasil membuat pernikahannya bahagia.

    Dikutip livescience, setidaknya ada 8 mitos salah yang bisa merusak pernikahan. Mitos ini jika dijalankan terus menerus bisa membuat pasangan frustrasi terhadap hubungannya. "Frustrasi adalah hal utama yang bisa membahayakan pernikahan," ujar Terri Orbuch, Ph.D, psikolog ternama yang pernah merilis buku "5 Simple Steps to Take Your Marriage from Good to Great".

    1. Pernikahan yang baik tak perlu terus menerus dirawat

    Pernikahan adalah sesuatu yang harus dirawat terus menerus agar dapat berkembang dengan baik. Menurut psikolog klinis Lisa Blum, Psy D, hubungan yang kuat dan tahan konflik itu adalah hubungan yang dirawat dengan usaha yang keras. Dia mengibaratkan hubungan pernikahan seperti sebuah taman yang harus selalu dirawat dan diberi pupuk agar tetap terlihat indah.

    Tapi juga jangan berlebihan. Jika Anda lebih sering merasa tidak puas daripada merasa bahagia dalam hubungan, ada kemungkinan Anda terlalu fokus pada hal lain dan lupa menikmati indahnya hubungan Anda dengan pasangan.

    Lakukanlah usaha mempertahankan hubungan bersama-sama pasangan. Melakukannya sendiri hanya membuat Anda merasa 'sendirian' dan seakan tak didukung oleh pasangan.

    2. Pasangan yang saling mencintai bisa mengetahui perasaan satu sama lain

    Kecuali Anda menikah dengan seseorang yang mempunyai kemampuan membaca pikiran, hal ini tak akan terjadi. Jangan pernah merasa pasangan Anda selalu tahu apa yang Anda mau. Lebih baik komunikasikan kebutuhan dan perasaan Anda kepada pasangan. Jika Anda ingin menguji cintanya, lebih baik uji apakah dia mendengarkan ketika Anda menyampaikan apa yang Anda rasakan dan inginkan. Menguji apakah ia bisa mengerti apa yang Anda rasakan tanpa dikomunikasikan sama saja dengan berusaha memicu konflik dengan pasangan. Hasilnya tak selalu sesuai dengan harapan.

    3. Pasangan yang jatuh cinta tak pernah kehilangan gairah

    Mitos ini hanya terjadi dalam film. Gairah cinta ataupun seksual pada pasangan bisa saja meredup. Hal ini karena sehari-harinya kita dihadapkan oleh berbagai tantangan dan permasalahan yang menyita pikiran. Rutinitas sehari-hari juga bisa membuat gairah berkurang. Belum lagi semakin berkembangnya tuntutan, tanggungjawab, dan peran yang membuat para pasangan memiliki makin sedikit waktu dan tenaga untuk satu sama lain. Jika tidak dijaga, pelan-pelan gairah pun bisa memudar. Sesekali, lakukan hal yang menyenangkan dan di luar rencana. Hal-hal spontan ini bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan gairah dan menghangatkan kembali hubungan Anda.

    4. Punya anak bisa memperkuat hubungan

    Beberapa penelitian menunjukkan kebahagian pasangan umumnya menurun setiap memiliki seorang anak. Ini bukan berarti cinta Anda berdua semakin berkurang atau kehadiran anak kurang menyatukan Anda. Yang sesungguhnya terjadi adalah tantangan yang semakin bertambah dan hubungan yang semakin rumit.

    Sebagai pasangan, Anda harus realistis tentang kapan momen yang tepat untuk memiliki anak. Jangan pernah menganggap memiliki anak adalah solusi untuk meredam konflik Anda dengan pasangan. Hidup Anda akan banyak berubah setelah memiliki anak. Sebaiknya kuatkan dulu hubungan dan komunikasi Anda dengan pasangan sebelum mencoba memiliki tanggungjawab yang lebih besar dengan memiliki anak.

    5. Cemburu adalah tanda cinta dan perhatian

    Faktanya, cemburu merupakan ukuran untuk menentukan seberapa aman dan percaya dirinya Anda terhadap sebuah hubungan. Pasangan yang memiliki rasa cemburu harus berusaha mengatasi perasaan tidak 'aman'nya terhadap hubungan yang dijalani. Bicarakan baik-baik dengan pasangan apa yang menjadi kekhawatiran sehingga bisa dicarikan solusinya. Jangan berharap perasaan tersebut akan hilang dengan sendirinya. Anda juga berkewajiban untuk mengetahui apa yang dirasakan dan diinginkan pasangan. Ajak ia bicara baik-baik dan temukan penyebab ia merasa tidak aman dengan hubungan ini.

    Jangan juga coba-coba dengan sengaja membuat pasangan cemburu. Seringkali tindakan ini akhirnya menjadi senjata makan tuan. Pria biasanya akan merasa marah dan kecewa jika dipermainkan perasaannya.

    6. Bertengkar bisa merusak hubungan

    Sesungguhnya yang bisa merusak pernikahan adalah tidak menyelesaikan konflik atau pertengkaran Anda. Pertengkaran merupakan suatu komunikasi penting dan bisa membantu menyelesaikan konflik.

    Usahakan pertengkaran Anda selalu berakhir pada solusi. Perlahan-lahan turunkan emosi agar bisa menemukan ujung dari pertengkaran Anda. Jangan menggunakan kata-kata kasar pada saat bertengkar. Katakan saja apa yang ada di perasaan Anda dan hindari tuduhan serta prasangka yang tidak berdasar. Fokus pada masalah yang diperdebatkan dan jangan mengungkit hal-hal lain apalagi kesalahan masa lalu.

    7. Pasangan harus berubah agar hubungan lebih baik

    Seringkali kita sibuk mengkritik pasangan dan lupa berkaca pada diri sendiri. Kita selalu menuntut dia untuk berubah padahal mungkin saja ia juga punya tuntutan terhadap kita. Kecuali jika pasangan Anda punya hobi melakukan kekerasan maka ia memang harus berubah. Namun jika masalah Anda tidak separah itu maka Anda dan pasangan harus sama-sama berubah jika dihadapkan pada suatu masalah.

    8. Berkonsultasi dengan ahli harus menunggu hubungan memburuk

    Jika Anda dan pasangan sudah tidak mampu mengatasi sendiri masalah Anda, tak ada salahnya berkonsultasi dengan ahli. Tak perlu menunggu hubungan Anda di ambang perceraian sebelum berkonsultasi dengan ahli. Semakin lama Anda tunggu, semakin parah masalah yang mendera Anda berdua. Terapi konsultasi pasangan lebih efektif jika dilakukan untuk mencegah dan pada tahap awal ketimbang jika dilakukan pada saat hubungan sudah di ujung perceraian.




      Waktu sekarang Tue Sep 27, 2016 12:23 am