Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Awas Depresi Karena Mencoba Jadi Ibu Sempurna

    Share

    kuning

    557
    07.10.09

    Awas Depresi Karena Mencoba Jadi Ibu Sempurna

    Post  kuning on Sun Aug 28, 2011 1:35 am

    Awas Depresi Karena Mencoba Jadi Ibu Sempurna


    Ketika menjadi seorang ibu bekerja, Anda akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan segalanya dengan baik. Namun menurut penelitian terbaru, wanita yang mencoba jadi ibu sempurna ini berisiko depresi.

    Penelitian tersebut dipresentasikan di meeting rutin American Sociological Association di Las Vegas. Dalam penelitian itu ditemukan, bekerja ternyata memiliki manfaat baik untuk kesehatan mental ibu.

    Di antara para ibu yang bekerja itu, mereka yang risiko depresinya kecil adalah yang tidak mencoba jadi supermom. Ibu yang tidak terlalu depresi ini tak terlalu berusaha keras menyeimbangkan kehidupan kerjanya dengan keluarga.

    "Wanita yang berusaha menjadi ideal justru meningkatkan gejala depresi dibandingkan wanita yang lebih skeptis soal menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga," jelas salah satu peneliti Katrina Leupp, lulusan dari Universitas Washington, seperti dikutip dari LiveScience.

    Penelitian yang dilakukan Leupp dan teman-temannya melibatkan 1.600 wanita menikah. Penelitian tersebut dinamakan 'National Longitudinal Survey of Youth' dan dimulai sejak 1987.

    Dalam penelitian tersebut, para wanita diminta menjawab pertanyaan untuk mengukur dukungan mereka pada wanita bekerja. Mereka juga ditanya apakah setuju atau tidak dengan pernyataan: "Wanita lebih bahagia jika jadi ibu rumah tangga dan mengurus anak".

    Pada 1992 dan 1994, para responden yang saat itu sudah berusia 40 tahun menjawab pertanyaan tentang gejala depresi yang mereka alami. Sama seperti penelitian sebelumnya, survei itu menunjukkan, ibu bekerja, memiliki gejala depresi lebih sedikit ketimbang ibu rumah tangga. Hal itu mungkin karena ibu bekerja lebih punya kesempatan untuk berinteraksi, aktivitasnya lebih beragam dan punya pendapatan.

    "Ironis memang, wanita yang tidak terlalu berusaha menyeimbangkan pekerjaan dan keluarganya memiliki kesehatan mental yang lebih baik ketimbang yang berusaha menjadi sempurna," jelas Leupp.

    Leupp berpendapat wanita bekerja yang berusaha menjadi sempurna ini sepertinya jadi merasa bertentangan dengan lingkungan kerjanya. Lingkungan kerja memang tidak mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.

    "Saat mereka tidak bisa menyeimbangkan semuanya dengan sempurna, supermom jadi lebih frutasi dan merasa bersalah," ujar Leupp.

    Dari penelitian ini, Leupp berharap para ibu bekerja bisa merasa lebih optimis dalam menjalani hari-harinya antara menjadi orangtua dan pekerja. Ibu bekerja diharapkan tidak menyalahkan diri mereka sendiri jika ada sesuatu yang salah dalam menjalani hari-harinya.



      Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 11:57 am