Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Kehidupan Seks Berujung Maut

    Share

    srikandi

    12
    20.08.11

    Kehidupan Seks Berujung Maut

    Post  srikandi on Tue Aug 30, 2011 3:16 pm

    Kehidupan Seks Berujung Maut

    Banyak orang melakukan sunat dengan banyak alasan, paling banyak adalah untuk kebersihan. Pada kalangan terpelajar yang modern, banyak yang percaya dengan penis yang disunat, maka kegiatan seks oral menjadi lebih “Berasa“. Sebab kulit pembungkus penis yang sudah dibuang menjadikan kepala penis ‘telanjang’ sehingga gesekan ketika aktivitas hubungan intim, menjadi lebih sensitif.

    Berbeda dengan sunat di Swaziland. Di sana, sunat dilakukan untuk mengatasi HIV yang banyak membuat laki-laki dan perempuan meninggal karena menderita akibat virus HIV/AIDS.


    Tradisi Sunat yang Membawa Maut

    Penderita AIDS di Afrika sangat banyak. Dari beberapa langkah pencegahan, sunat adalah salah satunya. Tetapi, jika caranya tidak tepat, sunat bisa membawa maut. Masyarakat disana masih melakukan sunat secara tradisional, dengan peralatan yang sangat jauh dari kata ‘bersih’, apalagi steril. Hahahaaa. Bahkan, mereka menggunakan kampak dan pisau kecil, serta mata tombak untuk melakukan penyunatan. Nah, mau menjemput karena proses sunat yang kotor menyebabkan infeksi dan membawa kematian pada orang yang disunat.



    Seorang Dokter Belanda prihatin akan masalah sunat secara tradisional ini sehingga dia datang dan banyak mengajarkan cara sunat yang benar pada masyarakat disana. Adam Groeneveld, 69 tahun, urolog Belanda yang membaktikan hidupnya untuk menolong para penderita HIV. Adam yang bekerja di Swaziland menceritakan keprihatinnya atas masalah penyakit akibat seks ini.

    Beliau menerangkan angka statistik negeri tersebut mengerikan. Satu dari empat orang tertular HIV/AIDS. Rata-rata, perkiraan hidup hanya 32 tahun. Makam pun sudah penuh sesak. Virus penyebab AIDS tersebar dengan cepatnya di Zambia, karena warganya gemar berhubungan seks dan melakukannya dengan siapa saja. Kebebasan seks begitu besar. "Pria yang sudah sunat langsung mengira kondom tidak diperlukan lagi," demikian ujar pakar urologi Adam Groeneveld. "Kita harus berkali-kali menekankan, mereka tetap bisa kejangkitan HIV, kansnya sampai 40 persen." (sumber: www.rnw.nl)

    Kampanye pamakaian kondom terkendala sulitnya proses distribusi ke daerah terpencil, dimana angka penderita penyakit menular seks sangat tinggi. Misalnya di Isiolo, Kenya yang terletak jauh dari kota. Sulitnya mendapatkan akses kondom membuat para pria pedesaaan di Kenya Utara harus mencuci dan menjemur kondom bekas pakai yang kemudian akan digunakan kembali. (berita : detik.com).

    “Banyak daerah pedesaan di negara tersebut tidak dapat diakses karena jaringan jalan yang buruk dan ini membuat pembagian kondom gratis sulit dilakukan,” jelas Peter Cherutich, Kepala National AIDS and Sexually Transmitted Infections Control Programme (NASCOP), seperti dilansir Health24, Kamis (31/3/2011). Menurutnya, hal ini disebabkan mayoritas kondom pemerintah tersedia di fasilitas kesehatan dan tidak banyak di daerah pedesaan, hal ini menciptakan tantangan lain dalam distribusi.

    Adam Groeneveld mengajari tenaga medis Matsapha cara menyunat seorang pria. Dia sendiri bekerja sebagai spesialis urologi di sebuah rumah sakit. Hebat jika manusia mampu memikirkan kebaikan untuk manusia lain, dimana hatinya berisi kebaikan, contohnya dokter Belanda ini. Ia mengatakan tidak mau kembali ke Belanda untuk menjadi dokter dan menikmati hidup dengan fasilitas bagus dan uang honor besar. “Saya sekarang sudah menikah dengan orang Afrika dan saya lebih kerasan di sini ketimbang di Belanda,” papar Adam.


    Di dunia, segala hal berlaku hukum keseimbangan. Ada manusia yang baik, ada manusia yang jahat. Beberapa hari ini saya ‘terpesona’ dengan tindakan seorang yang pernah divonis penyakit berat sampai harus dirawat dan ditolong oleh banyak manusia lain. Begitu pulih, ternyata di dalam pikirannya terekam kejahatan. Dulu waktu suami saya masih hidup pernah mengatakan manusia berpikiran jahat itu, bukan saja perlu mesin cuci darah, tetapi harus ditambah mesin cuci hati dan mesin cuci otak.

    Kita berharap di dunia ini akan semakin banyak orang baik seperti dokter Adam Groeneveld. Di Indonesia juga sudah ada beberapa nama dokter yang hidupnya diabdikan untuk menolong masyarakat terbelakang dan masih sangat primitif. Menurut saya, keadaan di Afrika tidak jauh berbeda dengan keadaan di Papua dan itu bukan kebetulan jika wajah, postur tubuh, cara berpakaian, dan keadaan hidup mereka sangat-sangat mirip.

    Di Papua pun angka penderita AIDS sangat tinggi. Penyebabnya juga kehidupan seks yang sangat bebas dan kebersihan hidup/tubuh sehingga memudahkan virus apapun masuk.

    Untuk meredam perkembangan penyakit ganas seperti HIV akibat seks bebas dilakukan dengan pemakaian kondom dan sunat. Selain itu juga dengan pemberian sertifikat untuk para gadis Papua yang berhasil mempertahankan keperawanannya.




    Tes keperawanan dilakukan oleh perempuan penetua adat. Para perawan diperiksa keperawanannya di lapangan sebelum akhirnya menerima sertifikat keperawanan. Prosesnya bisa dilihat dari foto di atas.




      Waktu sekarang Sun Dec 04, 2016 10:55 am