Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Khasiat Sereh Wangi
Today at 5:37 pm by flade

» Pria Ini Menghasilkan 38 Juta Per Hari Sambil Jalan-jalan Keliling Dunia!
Fri Jan 20, 2017 11:19 am by jakarta

» 'Game Mode' di Windows 10 Bisa Bikin PC Ngebut
Mon Jan 16, 2017 1:24 pm by via

» 10 Rumus Kehidupan Ini Akan Buatmu Lebih Bijaksana dan Bahagia
Mon Jan 16, 2017 1:18 pm by via

» Korowai Tribe
Tue Jan 10, 2017 1:25 pm by via

» Cinta "Terlarang" Bung Karno dan Penari Istana
Tue Jan 10, 2017 1:02 pm by via

» 7 Rahasia Wanita yang Tidak Akan Diceritakan ke Pasangannya
Tue Jan 10, 2017 12:44 pm by via

» Ini Shampo Untuk Mengatasi Kulit Kepala Gatal
Tue Jan 10, 2017 12:30 pm by lanang

» Sejarah Koteka
Tue Jan 10, 2017 12:23 pm by lanang

IKLAN ANDA


    Penelitian: Produk Anti Jerawat Tidak Efektif

    Share

    daun.kuning

    271
    17.11.09

    Penelitian: Produk Anti Jerawat Tidak Efektif

    Post  daun.kuning on Fri Sep 02, 2011 12:34 am

    Penelitian: Produk Anti Jerawat Tidak Efektif


    Selama ini, banyak produk pengobatan jerawat yang beredar di pasaran. Namun sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan, bahwa produk-produk yang mengklaim dirinya bisa mengobati masalah kulit tersebut ternyata tidak efektif.

    Para ahli dari University of Nottingham mengeluarkan sebuah laporan uji klinis hari ini. Dikatakan bahwa sedikit sekali bukti yang bisa ditemukan bahwa perawatan dengan produk penyembuhan atau anti jerawat lebih baik daripada pengobatan jerawat secara alami, seperti dikutip dari Dailymail.

    Sekitar 20% penderita jerawat justru kondisi kulitnya semakin kronis setelah menjalani pengobatan dengan produk-produk tersebut. Beberapa bahkan meninggalkan bekas seiring berjalannya waktu. Penelitian ini juga menunjukkan, dalam kurun waktu penggunaan yang cukup lama, kulit menjadi kebal terhadap kandungan antibiotik yang dikandungnya.

    Menyikapi hal ini, maka dibutuhkan pengobatan yang lebih efektif tanpa harus memasukkan kandungan antibiotik. Dilansir di situs The Lancet, Hywel Williams, profesor dermato-epidemology dan direktur Pusat Penelitian Kulit Universitas Nottingham mengatakan, "Hampir setengah dari penelitian tentang jerawat yang diterbitkan, tidak ditanggapi dengan penanganan yang serius."

    Penyebab jerawat ini pun bisa dibilang masih belum jelas. Faktor seperti keturunan, diet, sinar matahari, kebersihan, selama ini dipercaya menjadi penyebabnya. Namun hal ini tidak diperkuat dengan bukti yang signifikan. Alhasil, banyak orang rela mengubah gaya hidupnya demi mengobati jerawat tersebut.

    Disarankan, untuk mengobati jerawat, sebaiknya orang mengubah gaya hidup dan pola makannya menjadi lebih sehat ketimbang mengonsumsi beragam produk atau menjalani proses kimiawi. Studi lainnya baru-baru ini juga mengklaim bahwa pola gaya hidup dan diet ala barat mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Hal ini didasari oleh fakta bahwa tidak ada penduduk asli yang berjerawat di area Papua Nugini dan Paraguay, namun studi tersebut masih belum terbukti korelasinya.

    Profesor Hywel Williams juga menambahkan, "Dengan banyaknya jenis produk dan variannya yang jarang disertai dengan studi perbandingan, maka seringkali rekomendasi produk hanya didasari oleh saran ahli, bukan oleh bukti penelitian."


      Waktu sekarang Tue Jan 24, 2017 6:12 pm