Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Tue Sep 27, 2016 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Pria Lajang Punya Jantung Sehat

    Share

    sangi

    282
    13.02.09

    Pria Lajang Punya Jantung Sehat

    Post  sangi on Tue Sep 20, 2011 3:29 pm

    Pria Lajang Punya Jantung Sehat


    Banyak anggapan bahwa pria yang lajang cenderung liar dan tidak sehat dibandingkan pria yang sudah menikah. Fakta ilmiah juga banyak menyetujui anggapan tersebut. Kasus-kasus pernikahan sering membuat orang-orang menyangka bahwa pria yang menikah tampak lebih baik dibanding pria lajang. Benarkah seperti itu?

    Bagi pria, banyak manfaat kesehatan pernikahan dapat disimpulkan dalam satu ungkapan 'lebih sedikit melakukan kebiasaan bodoh seperti pria lajang'. Istri tidak hanya mencegah minum, merokok, dan mengebut, tetapi juga memasak makanan rendah lemak atau rendah kolesterol, menambah lebih banyak buah dan sayuran untuk makanan keluarga, dan mendorong kebiasaan tidur teratur.

    Tapi ketika orang kehilangan istri, baik karena kematian atau perceraian, para pria sekali lagi melanjutkan kebiasaan lajangnya.

    "Banyak penelitian tersebut salah dalam penafsirannya sehingga memperlihatkan seolah-olah mereka yang menikah lebih baik sedangkan mereka yang melajang terlihat buruk," ujar Bella DePaulo PhD, psikolog sosial dan penulis buku 'Singled Out: How Singles are Stereotyped, Stigmatized, and Ignored, and Still Live Happily Ever After'.

    Dari hasil penelitian yang dilakukan selama 8 tahun terhadap 9.000 orang pria usia 51-60 tahun ditemukan risiko penyakit jantung pria lajang lebih rendah ketimbang pria menikah.

    Penyakit jantung ditentukan berdasar diagnosis dokter terhadap serangan jantung, penyakit jantung koroner, angina, gagal jantung kongestif atau masalah jantung lainnya atau stroke.

    Probabilitas penyakit jantung pada pria seperti penelitian yang dilakukan oleh Zhenmei Zhang dari Michigan State University dan Mark D. Hayward dari Pennsylvania State University adalah:

    • Pria selalu lajang (29%)

    • Duda (33%)

    • Pria menikah lagi (42%)

    • Pria yang meneruskan pernikahan (46%)

    • Pria bercerai (50%)


    "Laki-laki yang meneruskan pernikahannya memiliki 46% kemungkinan mengidap penyakit jantung, lebih besar daripada bagi kelompok lain laki-laki kecuali laki-laki yang bercerai. Sedangkan pria lajang memiliki probabilitas yang lebih baik, hanya 29%," ujar Bella seperti dikutip dari Psychology Today.

    Penelitian nasional tentang penyakit jantung ini diterbitkan dalam Journal of Marriage and Family.

    "Saya menyadari pengalaman saya mungkin tidak representatif dan pendapat saya mungkin bias. Namun saya percaya bahwa kebanyakan pria lajang memiliki jantung yang sangat baik," tutup Bella.

    Ketika penelitian dimulai pada tahun 1992, para peserta penelitian berusia sekitar 51-60 tahun. Para peserta dihubungi sebanyak lima kali dari tahun 1992 hingga tahun 2000. Status perkawinan, status kesehatan jantung, dan perilaku kesehatan dinilai. Informasi lain seperti status sosial ekonomi juga dicatat.

    Peneliti mengelompokkan lima status perkawinan yang berbeda:

    • Meneruskan pernikahan (yaitu menikah sekali seumur hidup)

    • Menikah lagi

    • Duda/Janda

    • Bercerai

    • Selalu lajang.


    Peneliti kemudian melihat prevalensi penyakit jantung pertama kalinya pada awal penelitian.



      Waktu sekarang Thu Sep 29, 2016 1:47 pm