Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

» Kisah Mengagumkan Bocah Miskin India Jadi Direktur Utama Google
Wed May 24, 2017 12:17 pm by jakarta

IKLAN ANDA


    250 Juta Wanita dan 98 Juta Pria Dewasa Masih Mengompol

    Share
    avatar
    julia

    138
    25.06.11

    250 Juta Wanita dan 98 Juta Pria Dewasa Masih Mengompol

    Post  julia on Mon Oct 03, 2011 4:58 pm

    250 Juta Wanita dan 98 Juta Pria Dewasa Masih Mengompol


    Mengompol selalu identik dengan anak kecil, tetapi ternyata orang dewasa juga bisa mengalaminya. Bahkan ada sekitar 250 juta wanita dan 98 juta pria dewasa di dunia juga mengompol atau disebut dengan inkontinensia.

    Inkontinensia urine adalah pengeluaran urine di saat yang tidak diinginkan (mengompol) yang sulit dikendalikan dan sering mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau sosial.

    Inkontinensia urine dapat terjadi pada pria dan wanita. Jumlah penderita pada wanita dua kali lebih sering dibandingkan pria. Menurut data dari International Continence Society, sekitar 250 juta orang wanita dan 98 juta pria di seluruh dunia menderita inkontinensia.

    "Inkontinensia 2 kali lebih banyak pada wanita karena faktor risikonya lebih banyak pada wanita," jelas Dr. Harrina E. Rahardjo, SpU, PhD, dari Divisi Urologi RSCM-FKUI, dalam acara Media Edukasi 'Lakukan Tindakan Tepat untuk Mengatasi Inkontinensia Urine' di Hotel Akmani, Jakarta.

    Menurut Dr. Harrina, ada beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan inkontinensia, antara lain:

    • Proses penuaan (aging)

    • Berkurangnya hormon estrogen (perubahan kadar hormon saat menopause)

    • Kegemukan

    • Riwayat persalinan dengan cara normal dengan berat badan lahir bayi yang besar

    • Operasi-operasi daerah panggul seperti pengangkatan rahim

    • Kelainan atau penyakit neurologis seperti stroke dan tumor otak

    • Diabetes Mellitus

    • Riwayat konsumsi obat-obatan yang menggangu fungsi otot-otot saluran kemih, trauma tulang belakang dan operasi tulang belakang.


    "Faktor-faktor risiko itu lebih banyak terjadi pada wanita, seperti proses persalinan dan penurunan hormon estrogen yang berfungsi menjamin integritas anatomi saluran kemih," jelas Dr Harrina.

    Meski tidak mengancam nyawa, inkontinensia alias mengompol pada orang dewasa dapat menyebabkan beban bagi penderitanya baik dari psikologis maupun sosial seperti nyeri, malu, depresi dan rasa cemas.

    Sayangnya, banyak orang dewasa yang menderita inkontinensia tidak menganggap gangguan ini adalah masalah serius. Padahal, mengompol pada orang dewasa masih diobati dengan berbagai cara.

    "Kebanyakan orang yang tidak mencari bantuan medis adalah masyarakat yang tinggal di daerah rural (pedesaan) dengan tingkat sosial ekonomi, pendapatan dan pendidikan rendah, sehingga mengompol pada orangtua hanya dianggap biasa. Tapi bagi orang dengan sosial ekonomi tinggi, mengompol itu sangat menggangu karena menimbulkan bau, pesing," jelas Dr. Chaidir Mochtar, SpU, PhD.

    Ada 3 kategori untuk terapi yang bisa dilakukan untuk mengobati inkontinensia pada orang dewasa, yaitu:

    Terapi non farmakologis (terapi perilaku)
    Terapi ini dikenal sebagai terapi perilaku yang diajarkan kepada pasien untuk memodifikasi perilaku kesehariannya terhadap kontrol kandung kemih, antara lain:

    Pengaturan diet dan menghindari makanan atau minuman yang mempengaruhi pola berkemih (seperti kafein dan alkohol)
    Program latihan berkemih yaitu latihan penguatan otot dasar panggul atau Kegel

    Terapi farmalogis
    Terapi farmakologis merupakan terapi obat yang dapat diberikan sesuai dengan tipe inkontinensia yang dialami.

    Terapi pembedahan atau operasi
    Terapi ini dapat dipertimbangkan bila terapi perilaku dan farmakologis tidak berhasil.


      Waktu sekarang Sat Jul 22, 2017 7:54 pm