Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» 'Game Mode' di Windows 10 Bisa Bikin PC Ngebut
Mon Jan 16, 2017 1:24 pm by via

» 10 Rumus Kehidupan Ini Akan Buatmu Lebih Bijaksana dan Bahagia
Mon Jan 16, 2017 1:18 pm by via

» Korowai Tribe
Tue Jan 10, 2017 1:25 pm by via

» Cinta "Terlarang" Bung Karno dan Penari Istana
Tue Jan 10, 2017 1:02 pm by via

» 7 Rahasia Wanita yang Tidak Akan Diceritakan ke Pasangannya
Tue Jan 10, 2017 12:44 pm by via

» Ini Shampo Untuk Mengatasi Kulit Kepala Gatal
Tue Jan 10, 2017 12:30 pm by lanang

» Sejarah Koteka
Tue Jan 10, 2017 12:23 pm by lanang

» Saat Fantastic Beasts Bertemu Harry Potter di Dunia Anime
Tue Jan 10, 2017 12:15 pm by lanang

» Modifikasi Knalpot Motor Untuk Performa Terbaik
Tue Jan 10, 2017 12:01 pm by flade

IKLAN ANDA


    Jangan Menambahkan Gula Saat Bikin Susu Anak

    Share

    via

    856
    04.03.09

    Jangan Menambahkan Gula Saat Bikin Susu Anak

    Post  via on Wed Nov 09, 2011 4:34 pm

    Jangan Menambahkan Gula Saat Bikin Susu Anak


    Beberapa susu untuk bayi dan anak ada yang memiliki rasa tidak terlalu manis, kondisi ini kadang membuat orangtua menambahkan gula saat membuat susu. Tapi kebiasaan ini sebaiknya dihentikan karena sukrosa dalam gula yang berlebihan bisa menimbulkan risiko.

    "Jangan menambahkan gula saat membuat susu untuk anak, dan jangan mengenalkan makanan terlalu manis pada anak berusia di bawah 2 tahun," ujar dr Ahmad Suryawan, SpA(K) dalam acara Batasi Asupan Sukrosa Pada Bayi di KOI restaurant, Kemang.

    Hal ini karena gula mengandung sukrosa yang merupakan jenis disakarida dari karbohidrat simpleks. Di dalam sukrosa ini terkandung glukosa dan juga fruktosa. Sukrosa ini biasanya terdapat di dalam gul apasir, gula tebu atau gula palem.

    Dr Inge Permadi, MS, SpGK dari Departemen Ilmu Gizi FKUI menuturkan ada beberapa kerugian yang bisa dialami jika sukrosa yang dikonsumsi oleh anak-anak terlalu banyak yaitu:
    1. Menyebabkan karies gigi, hal ini karena sukrosa paling mudah difermentasi oleh bakteri Stafiokokus mutan sehingga menyebabkan suasana asam yang membuat enamel gigi larut. Dengan begitu hal ini membuat kalsium dan fosfor menjadi hilang sehingga mudah bolong.
    2. Kekurangan gizi, karena sukrosa membuat kenyang sehingga anak jadi tidak mau makan, serta studi menemukan asupan sukrosa yang tinggi menyebabkan asupan mikronutrient menjadi lebih rendah sehingga ada kemungkinan mempengaruhi pertumbuhan anak
    3. Asupan sukrosa besar maka anak cenderung mendapatkan energi yang lebih besar dibanding kebutuhan usianya, tapi kalau energi ini tidak dipakai ia akan menumpuk di dalam tubuh menjadi lemak dan memicu obesitas.

    "Penting diketahui oleh orangtua untuk menghindari pemberian sukrosa selama 6 bulan pertama kehidupan anak," ujar Dr Ahmad Suryawan selaku Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr Soetomo, FK Unair.

    Sukrosa yang diperkenalkan sejak dini atau bayi akan mempengaruhi preferensinya terhadap makanan sehingga bisa menyebabkan risiko gangguan kesehatan baik jangka panjang (obesitas) maupun jangka pendek (karies gigi).

    "Karena itulah seorang ibu harus mengerti cara memilih susu formula dengan memahami cara membaca komposisi bahan baku yang tercantum dalam label kemasan, dan jangan menambahkan gula lagi," ungkap Dr Inge.

    Sedangkan gula yang baik untuk pertumbuhan anak adalah jenis laktosa (gabungan antara glukosa dan galaktosa). Laktosa ini juga dikenal dengan gula susu karena ia terdapat di dalam susu termasuk ASI.

    Laktosa ini memiliki beberapa keuntungan yaitu:

    Merupakan sumber energi
    Membantu memelihara flora baik di usus, karena ia akan difermentasi oleh Lactobacillus bifidus sehingga menciptakan suasana asam dan bakteri baik bisa tumbuh
    Meningkatkan penyerapan kalsium

    "Dalam pemilihan asupan karbohidrat untuk bayi, pilihlah jenis karbohidrat laktosa dan jangan sukrosa," ujar Dr Inge.



      Waktu sekarang Thu Jan 19, 2017 1:18 am