Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Penyebab Anak Sulit Dikontrol & Mudah Nangis

    Share

    meilani

    97
    18.08.11

    Penyebab Anak Sulit Dikontrol & Mudah Nangis

    Post  meilani on Sat Nov 12, 2011 10:43 am

    Penyebab Anak Sulit Dikontrol & Mudah Nangis


    Anak-anak ketika menginjak usia balita mulai menjadi tantangan tersendiri untuk orangtua. Mereka mulai menunjukkan sifat memberontak, egois, kasar dan sulit dikontrol.

    Orangtua pun kewalahan menghadapi sikap anak tersebut. Apalagi biasanya sikap mereka diiringi dengan tangisan, yang bisa membuat orangtua semakin stres.

    Kenapa anak bisa memiliki sikap tersebut? Menurut dua psikolog anak Jacob Azerrad dan Paul Chance dalam tulisannya di Psychology Today, ada banyak sebabnya mulai dari terlalu banyak mengonsumsi gula, alergi, televisi dan masalah psikologi.

    Di luar faktor tersebut, dua psikolog itu percaya, ada sebab lainnya yang sangat mempengaruhi sehingga anak dengan mudahnya menjadi tidak terkontrol. Menurut mereka penelitian menunjukkan perilaku buruk anak itu terjadi karena orangtua memberikan perhatian yang salah.

    Dalam penelitiannya psikolog Betty Hart dan koleganya di University of Washington melakukan penelitian pada seorang bocah berusia empat tahun bernama Bill. Bill dijuluki 'crybaby' di pre schoolnya. Setiap pagi anak itu akan mengeluarkan jurus menangisnya 5-10 kali. Dia akan menangis saat jatuh atau saat anak lain mengambil mainannya. Setiap Bill menangis, guru akan mendatangi untuk menenangkannya. Hart dan koleganya melihat perhatian yang diberikan pada Bill untuk menenangkannya itu justru jadi penyebab kenapa anak itu suka menangis.

    Untuk memperkuat hipotesa tersebut, para peneliti kemudian meminta guru-guru Bill untuk menerapkan strategi baru. Sekarang, setiap Bill menangis, gurunya akan melihat padanya untuk mengetahui apakah dia terluka atau tidak. Kalau memang dia tidak terluka, sang guru tidak akan mendatanginya, bicara padanya atau memperhatikannya.

    Guru hanya akan memberikan perhatian khusus pada Bill hanya jika dia terluka atau kalau dia memang jatuh (tapi tidak terluka) dan tak menangis. Sang guru akan memberikan pujian pada Bill atas sikapnya itu. Hasilnya, setelah lima hari frekuensi menangis Bill berkurang.



      Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 3:22 am