Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    Anak Perempuan Lebih Marah Saat Disakiti Tapi Lebih Cepat Baikan

    Share

    sangi

    282
    13.02.09

    Anak Perempuan Lebih Marah Saat Disakiti Tapi Lebih Cepat Baikan

    Post  sangi on Thu Nov 24, 2011 6:59 am

    Anak Perempuan Lebih Marah Saat Disakiti Tapi Lebih Cepat Baikan


    Anak perempuan memang dianggap lebih sensitif dan emosional dalam persahabatannya dengan teman perempuannya. Namun ketika terjadi konflik dengan temannya, ternyata lebih bisa berusaha menyatukan kembali persahabatannya dibandingkan anak laki-laki.

    Anak perempuan dalam penelitian ini sama seperti halnya anak laki-laki ketika mengatakan akan balas dendam kepada teman yang telah menyinggungnya atau menyerang secara verbal dan mengancam akan mengakhiri persahabatan ketika harapannya dilanggar.

    Anak perempuan dan laki-laki yang diteliti ini lebih terganggu karena pelanggaran, merasa marah, sedih dan cenderung berpikir bahwa pelanggaran tersebut menunjukkan bahwa temannya tak lagi peduli tentang mereka atau sedang berusaha untuk mengendalikan mereka.

    Penelitian ini digawangi oleh Julie Paquette MacEvoy, asisten profesor di Sekolah Pendidikan Boston College Lynch dan Steven Asher, profesor di Departemen Psikologi & Neuroscience Duke University.

    MacEvoy dan Asyer memberikan 16 cerita kepada 267 anak kelas 4 dan 5 yang diminta membayangkan seorang teman yang melanggar persahabatan seperti: teman tidak mau bertanggung jawab dalam pekerjaan sekolah bersama sehingga menyebabkan nilai buruk, atau seorang teman tidak peduli dengan hewan peliharaan teman lain yang sedang sakit dengan mengatakan, "Itu bukan masalah besar, itu hanya hewan peliharaan".

    Dalam setiap cerita, anak-anak berusia 9 sampai 11 tahun ditanya bagaimana perasaannya jika hal itu benar-benar terjadi pada mereka, bagaimana mereka akan menafsirkan perilaku temannya, apa yang akan mereka lakukan dan seberapa banyak kejadian tersebut akan mengganggu mereka.

    Di antara semua anak-anak itu, 49,3 persen di antaranya anak Kaukasia, 26,6 persen anak Latin, 21,5 persen anak Afrika-Amerika dan 2,6 persen sisanya berasal dari etnis lain.

    "Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perempuan menganggap teman-temannya dengan standar yang lebih tinggi daripada anak laki-laki sehingga kita seringkali berpikir bahwa anak perempuan butuh waktu yang lama untuk mengatasi perasaannya jika salah satu teman melakukan sesuatu yang mengecewakan mereka," kata MacEvoy.

    Penelitian lain telah menunjukkan bahwa anak perempuan lebih baik dalam persahabatan daripada anak laki-laki karena lebih emosional dan intim persahabatannya. Anak perempuan lebih banyak membantu teman-temannya dan mereka lebih mudah menyelesaikan konflik dengan teman-temannya.

    "Kami menemukan bahwa anak perempuan juga pendendam dan agresif terhadap teman-temannya jika persahabatannya dilanggar, sama seperti anak laki-laki. Namun pelanggaran persahabatan dan konflik kepentingan dapat menyebabakan hal yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan," kata Asyer seperti dikutip dari Eurekalert.org.

    Penelitian Asyer menemukan bahwa kemarahan dan kesedihan berperan penting dalam cara anak laki-laki dan perempuan bereaksi terhadap teman yang menyinggungnya.

    Pada anak-anak perempuan, semakin kuat mereka merasa seorang teman sedang meremehkan atau berusaha mengendalikan mereka, semakin besar kemarahan dan kesedihan yang dirasakan.

    Semakin marah dia, semakin kecil kemungkinan ingin memperbaiki hubungan. Tapi perasaan sedih kemudian memotivasi anak perempuan berbaikan kembali. Semakin sedih perasaannnya, keinginan untuk memecahkan masalah dan mempertahankan persahabatan semakin kuat.

    Menurut penulis, kesedihan terkadang bisa berfungsi seperti perekat sosial yang meneguhkan hubungan.

    "Ketika kita mencoba untuk membantu anak-anak yang berjuang dalam persahabatannya, kita mungkin perlu berfokus pada isu-isu yang agak berbeda untuk anak laki-laki dibandingkan perempuan. Untuk anak perempuan, sepertinya penting untuk membantu mereka belajar bagaimana mengatasi masalah ketika seorang teman membuat mereka kecewa," kata MacEvoy.


      Waktu sekarang Mon Sep 26, 2016 7:16 am