Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Kebiasaan Bernapas yang Salah Bisa Sebabkan 'Lemot'

    Share

    clara

    945
    23.01.09

    Kebiasaan Bernapas yang Salah Bisa Sebabkan 'Lemot'

    Post  clara on Thu Nov 24, 2011 4:03 pm

    Kebiasaan Bernapas yang Salah Bisa Sebabkan 'Lemot'


    Fiona Troup, seorang fisioterapis di Six Physio London, menjelaskan orang dewasa sehat bernapas sekitar 10-14 napas per menit, tetapi beberapa orang bernapas 20 kali atau lebih. Hal ini dapat menyebabkan perasaan kehabisan napas dan berbagai gejala lain seperti kesemutan di jari dan sekitar bibir, kelelahan, serta ketidakmampuan untuk berkonsentrasi alias 'lemot'.

    Dikutip dari Daily Mail, gejala tersebut merupakan tanda Anda bernapas melalui mulut bukan melakukan pernapasan lebih dalam melalui hidung. Hal ini menyebabkan penurunan tingkat karbondioksida dalam darah, sehingga oksigen tidak bisa dilepaskan ke otot dan organ. Komplikasi lainnya juga menyebabkan kejang otot. Jika otak kekurangan kadar oksigen yang cukup, dapat menyebabkan kebingungan dan pusing.

    "Napas cepat pada dasarnya adalah sebuah kebiasaan buruk, yang sering terjadi saat sedang stres, nyeri punggung atau leher, trauma emosional atau operasi," kata Fiona.

    Stephen Spiro, profesor University College London Hospitals dan wakil deputi British Lung Foundation, menyatakan bahwa bernapas terlalu cepat seharusnya tidak memiliki implikasi jangka panjang terhadap kesehatan. Namun bernapas terlalu cepat dan sesak napas bisa menjadi tanda penyakit paru-paru, terutama asma dan bronkitis. Dengan kondisi seperti ini, saluran udara di paru-paru menyempit, sehingga membuat udara susah keluar-masuk.

    Fiona menambahkan, "Jika dokter tidak menemukan penyakit dalam diri Anda, dan bernapas terlalu cepat hanya kebiasaan Anda, maka Anda bisa dirujuk ke fisioterapis untuk melatih pernapasan Anda agar normal kembali."



      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 9:16 am