Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Virus Sharing....

    Share

    Belldandy
    Moderator Umum

    1395
    Age : 33
    Lokasi : Pontianak
    19.01.09

    Virus Sharing....

    Post  Belldandy on Fri May 22, 2009 7:27 pm

    Desak Transparansi Virus Sharing dalam WHA

    Friday, 22 May 2009


    JAKARTA - Indonesia mendesak disepakatinya mekanisme baru virus sharing pada World Health Assembly (WHA) ke-62. Desakan itu disampaikan Menkes Siti Fadilah Supari, ketika WHA berlangsung di Swiss. Jika mekanisme baru itu disepakati dan berkekuatan hukum dapat mengubah secara radikal tatanan penggunaan virus yang berlaku selama 62 tahun ini.
    WHA merupakan sidang tertinggi dari WHO dan bersidang sekali dalam setahun setiap Mei di Jenewa, Swiss. Sebelum WHA, telah digelar Intergovernmental Meeting - Pandemic Influenza Preparedness (IGM-PIP) yang berlangsung pada 14-15 Mei. Pertemuan itu berhasil menyepakati sebagian besar butir-butir pembahasan virus sharing tersebut. IGM-PIP adalah proses pertemuan negara anggota yang diselenggarakan Sekretariat WHO untuk memfinalisasi negosiasi mengenai sistem baru virus sharing influenza H5N1 dan benefit sharing atas penggunaan sebuah virus.
    "Saat ini, perjuangan kita hampir berhasil," ujar Siti usai dari Jenewa, Swiss. Virus sharing atau yang dikenal dengan Standart Material Transfer Agreement (SMTA) merupakan perjanjian berbagi virus atau sampel agar negara pemiliknya bisa mengetahui secara transparan kegunaan virus tersebut.
    "Sebab, selama ini WHO sering kali meminta sample virus kita, tapi kita tidak tahu pengunannya. Termasuk, keuntungannya," jelas dia. Jika mekanisme baru itu disahkan, negara asal atau pemilik virus dapat mengetahui penggunaan virus. "Apakah virus dipakai untuk pembuatan vaksin atau penelitian. Serta digunakan oleh siapa saja," cetusnya.
    Kesepakatan lain adalah mengembalikan sistem virus sharing sebagai tanggung-jawab WHO dan bukan Global Initiative Surveillance Network. Sebagian besar butir-butir kesepakatan telah disepakati dengan membentuk Advisory Mechanism dan Influenza Virus Traceability Mechanism.
    Siti menjelaskan, Meksiko telah menjadi negara yang amat dirugikan secara ekonomi gara-gara klaim WHO dalam menentukan status pandemi virus H1N1. Sebaliknya, klaim WHO tersebut telah menguntungkan kaum industrialis yang memproduksi vaksin, obat-obatan, masker, serta alat diagnostik. Sementara Meksiko tidak berdaya. Padahal, penetapan status pandemi itu dinilai tidak tepat.
    Harusnya, kata Menkes, WHO harus lebih transparan dalam menetapkan jenis dan sifat virus seperti apa serta bagaimana virus bisa bermutasi sehingga menyebabkan pandemi. "Karena ketentuan WHO dalam menetapkan pandemi turut menentukan nasib bangsa," ujarnya.
    Karena itu, kata Siti, Indonesia mendesak agar WHO meredefinisi kriteria penentuan tingkat kewaspadaan pandemi. Yakni, dengan tidak hanya melihat tingkat penularannya saja. Melainkan, mempertimbangkan pula indikator klinis, angka kasus dan kematian, dan tinggi atau rendahnya patogenetik dari virus.
    Menkes juga menyoroti sikap WHO yang tidak melakukan upaya proaktif dalam merekomendasikan negara-negara yang memiliki kapasitas produksi untuk memulai produksi suplai antivirus generik. Padahal, kata Siti, di saat yang sama, negara-negara maju telah menandatangani perjanjian dengan produsen vaksin untuk memastikan mereka mendapat produksi vaksin pandemi lebih dulu. "Suatu hal yang merugikan serta menimbulkan risiko bagi negara-negara berkembang," ungkap alumnus FK UGM itu. (kit)

      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 9:17 am