Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    orang cenderung berbohong kala online

    Share

    kuning

    557
    07.10.09

    orang cenderung berbohong kala online

    Post  kuning on Mon Dec 12, 2011 1:45 pm

    orang cenderung berbohong kala online


    Orang cenderung berbohong di e-mail atau pesan pendek (SMS) ketimbang ketika bertatap muka secara langsung.

    “Bukanlah sesuatu yang baru bahwa kita berbohong. Yang baru adalah bahwa kita lebih sering berbohong saat online,” kata Mattitiyahu Zimbler, mahasiswa pascasarjana dan peneliti senior di University of Massachusetts-Amherst.

    Dalam studi yang dilakukannya, peneliti merekrut 220 orang mahasiswa dan meminta mereka untuk berbicara dengan orang lain sesama jenis selama 15 menit, melalui e-mail, SMS, atau tatap muka langsung. Hasil studi ini dipublikasikan di Journal of Applied Social Psychology.

    Para partisipan memperkenalkan diri mereka dan peneliti merekam percakapan mereka. Kemudian para peneliti meminta partisipan untuk melihat transkrip percakapan mereka dan memberikan tanda pada bagian di mana mereka berbohong.

    Hasilnya, ditemukan bahwa rata-rata partisipan berbohong sekitar 1,5 kali selama percakapan 15 menit tersebut. Kebohongan tersebut cenderung hal-hal kecil atau terjadi karena kelalaian. Seseorang mengatakan, “Saya pendek, nilai lumayan”, daripada mengatakan gagal di dalam kelas. Yang lain mengatakan bahwa mereka “bagus” atau “baik” meskipun yang sebenarnya tidaklah demikian. Seseorang yang lain berujar, "Saya ingin menjadi pramugari," meskipun itu bukanlah yang sebenarnya.

    “Orang bicara di e-mail paling banyak berbohong, lewat SMS terbanyak kedua berbohong, dan mereka yang bicara secara langsung, face to face, berbohong paling sedikit,” kata Zimbler seperti dikutip Health Day.

    Ketika dicek lebih lanjut mengenai berapa sering para partisipan berbohong berdasarkan jumlah kata yang mereka ucapkan, para peneliti menemukan bahwa mereka yang berbicara melalui e-mail berbohong lima kali lebih sering ketimbang mereka yang berbicara secara langsung. Sedangkan mereka yang berbicara melalui SMS berbohong tiga kali lebih sering ketimbang yang berbicara secara langsung.

    “Semakin jauh jarak antara seseorang yang berkomunikasi satu sama lain, secara fisik maupun psikologis, semakin besar kecenderungan mereka untuk berbohong,” ujar Zimbler. Ia menambahkan bahwa para pengguna e-mail, yang pesannya membutuhkan waktu terlama untuk tiba di tujuan, berbohong paling banyak.

    Dibandingkan dengan percakapan secara langsung, “Di e-mail, Anda tak perlu khawatir dengan sikap apa pun sehingga Anda bisa merasa lebih bebas untuk berbohong mengenai perasaan,” kata Zimbler.

    Menurut Dana Carney, asisten profesor manajemen di University of California, Berkeley, yang mempelajari mengenai kebohongan, sangat mudah untuk keliru melalui teknologi. "Ketika Anda dekat dengan seseorang, face to face, mereka riil dan hal itu menyulitkan untuk melakukan sesuatu yang buruk, berbohong kepada mereka," ujar dia. “Semakin jauh jarak kita dengan seseorang, semakin kita cenderung untuk membuat keputusan yang rasional.”



      Waktu sekarang Sat Dec 03, 2016 11:39 am