Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Stigma Epilepsi Makin Negatif Akibat Sering Jadi Lelucon di Twitter

    Share

    lea

    383
    Age : 31
    08.03.09

    Stigma Epilepsi Makin Negatif Akibat Sering Jadi Lelucon di Twitter

    Post  lea on Mon Mar 05, 2012 7:25 am

    Stigma Epilepsi Makin Negatif Akibat Sering Jadi Lelucon di Twitter


    Kata 'epilepsi', 'ayan' atau 'sawan' sering dipakai sebagai bahan guyonan dalam pergaulan sehari-hari. Dan dengan merebaknya media jejaring sosial, stigma epilepsi pun makin negatif karena sering menjadi lelucon.

    Dalam studi yang dipublikasikan dalam Epilepsy and Behavior, peneliti Kanada menganalisis hampir 11.000 tweet yang berhubungan dengan kata 'epilepsi' dan 41 persen diantaranya dianggap sebagai ofensif (bersifat menyerang atau menyakiti penyandang epilepsi).

    Menurut peneliti, layanan jaringan sosial seperti Twitter tampaknya telah menjadi platform untuk komentar menghina tentang epilepsi dan kejang. Peneliti juga menunjukkan bahwa pesan di Twitter bisa memperkuat persepsi negatif pada penderita gangguan neurologis ini.

    "Meskipun kami sangat menyadari stigma yang dihadapi oleh orang-orang dengan epilepsi, kami terkejut melihat seberapa luas masalahnya dalam media sosial. Ini tentu menekankan kebutuhan untuk kampanye publik untuk memerangi sikap-sikap negatif," jelas Dr Paula Brna dari Dalhousie University di Kanada, seperti dilansir Healthday.

    Dalam pengumpulan tweet-tweet yang mengacu kepada epilepsi selama satu minggu pada bulan April 2011, para peneliti menemukan bahwa ada beberapa tweet yang mengkritik orang yang bercanda tentang epilepsi dan kejang.

    Namun dibutuhkan lebih banyak orang yang berbicara menentang stereotip negatif yang terkait dengan epilepsi dan pesannya harus lebih kuat.

    Dr Brna dan rekan menyimpulkan bahwa kesadaran lebih lanjut diperlukan tentang epilepsi untuk mendorong pemahaman yang lebih baik dari gangguan tersebut.

    "Sekarang saatnya bagi komunitas epilepsi untuk bangkit, buatlah revolusi Twitter kita sendiri dan ubah\' kondisi yang dirasakan ini," tutur Dr. Joseph Sirven, profesor neurologi dan ketua departemen neurologi dari Mayo Clinic di Arizona.

    Epilepsi adalah kejang spontan sebanyak 2 kali atau lebih tanpa sebab yang jelas. Penyakit ini disebabkan oleh faktor genetik, trauma kepala, infeksi pada otak, kelainaan sejak lahir atau kelainan metabolisme tubuh.

    Gejala teringan dari epilepsi, penderita melakukan gerakan ritmik lengan atau jari tangan, terlihat bengong, terjatuh tiba-tiba di saat berjalan.

    Gejala lain seluruh anggota\' badan dan tubuh kejang kaku (kelojotan) disertai hilang kesadaran (epilepsi umum). Sedangkan pada epilepsi fokal, penderita tidak mengalami hilang kesadaran hanya tangan yang mengalami kejang.



      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 3:36 pm