Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Orangtua Bisa Tularkan Stres ke Anak

    Share

    ariana

    61
    19.08.11

    Orangtua Bisa Tularkan Stres ke Anak

    Post  ariana on Thu Mar 22, 2012 7:02 am

    Orangtua Bisa Tularkan Stres ke Anak


    Stres tak hanya dialami oleh orang dewasa saja. Ternyata, anak-anak pun juga bisa mengalami stres. Sepanjang tahun 2011, Komnas Perlindungan Anak (KPA) mencatat terdapat peningkatan berbagai bentuk pengabaian dan pelanggaran hak anak di Indonesia.

    Data KPA mencatat terjadi 2.386 kasus pelanggaran atau rata-rata 200 kasus per bulan. Angka ini meningkat 98% dibanding tahun sebelumnya. Hasil pantauan menunjukkan bahwa 82,9% penyebab stres pada anak disebabkan minimnya komunikasi dengan orangtua ditambah padatnya aktifitas anakk sehingga mengurangi hak anak untuk bermain dan berekreasi.

    "Orangtua adalah garda terdepan yang seharusnya melindungi anak-anaknya. Stres pada anak sebagian besar berasal dari stres orang tuanya. Kami menemui kasus bayi mencoba bunuh diri hanya gara-gara dimarahi ibunya karena tidak cepat mandi," kata Arist Merdeka Sirait, ketua KPA dalam diskusi bersama media di Plaza Bapindo.

    Arist menjelaskan, sampai sejauh ini KPA telah menemukan 182 kasus percobaan bunuh diri pada anak-anak. 5 di antaranya masih berusia balita dan 2 balita tersebut meninggal. Ia menuturkan bahwa upaya bunuh diri dilakukan dengan cara menggantung diri.

    "Banyak orang tua beralasan capek jika melihat anaknya bandel. Ini adalah akibat minimnya pendidiman untuk menyiapkan pasangan menjadi orang tua sebelum menikah," kata Arist.

    Lebih lanjut lagi, Arist memaparkan gejala-gejala fisik yang bisa dilihat apabila anak-anak mengalami stres, yaitu: nilai akademis turun, sering mimpi buruk, sering gemretak giginya ketika tidur dan nafsu makannya menurun drastis.



      Waktu sekarang Sun Dec 04, 2016 11:16 pm