Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» 'Game Mode' di Windows 10 Bisa Bikin PC Ngebut
Mon Jan 16, 2017 1:24 pm by via

» 10 Rumus Kehidupan Ini Akan Buatmu Lebih Bijaksana dan Bahagia
Mon Jan 16, 2017 1:18 pm by via

» Korowai Tribe
Tue Jan 10, 2017 1:25 pm by via

» Cinta "Terlarang" Bung Karno dan Penari Istana
Tue Jan 10, 2017 1:02 pm by via

» 7 Rahasia Wanita yang Tidak Akan Diceritakan ke Pasangannya
Tue Jan 10, 2017 12:44 pm by via

» Ini Shampo Untuk Mengatasi Kulit Kepala Gatal
Tue Jan 10, 2017 12:30 pm by lanang

» Sejarah Koteka
Tue Jan 10, 2017 12:23 pm by lanang

» Saat Fantastic Beasts Bertemu Harry Potter di Dunia Anime
Tue Jan 10, 2017 12:15 pm by lanang

» Modifikasi Knalpot Motor Untuk Performa Terbaik
Tue Jan 10, 2017 12:01 pm by flade

IKLAN ANDA


    Orangtua Bisa Tularkan Stres ke Anak

    Share

    ariana

    61
    19.08.11

    Orangtua Bisa Tularkan Stres ke Anak

    Post  ariana on Thu Mar 22, 2012 7:02 am

    Orangtua Bisa Tularkan Stres ke Anak


    Stres tak hanya dialami oleh orang dewasa saja. Ternyata, anak-anak pun juga bisa mengalami stres. Sepanjang tahun 2011, Komnas Perlindungan Anak (KPA) mencatat terdapat peningkatan berbagai bentuk pengabaian dan pelanggaran hak anak di Indonesia.

    Data KPA mencatat terjadi 2.386 kasus pelanggaran atau rata-rata 200 kasus per bulan. Angka ini meningkat 98% dibanding tahun sebelumnya. Hasil pantauan menunjukkan bahwa 82,9% penyebab stres pada anak disebabkan minimnya komunikasi dengan orangtua ditambah padatnya aktifitas anakk sehingga mengurangi hak anak untuk bermain dan berekreasi.

    "Orangtua adalah garda terdepan yang seharusnya melindungi anak-anaknya. Stres pada anak sebagian besar berasal dari stres orang tuanya. Kami menemui kasus bayi mencoba bunuh diri hanya gara-gara dimarahi ibunya karena tidak cepat mandi," kata Arist Merdeka Sirait, ketua KPA dalam diskusi bersama media di Plaza Bapindo.

    Arist menjelaskan, sampai sejauh ini KPA telah menemukan 182 kasus percobaan bunuh diri pada anak-anak. 5 di antaranya masih berusia balita dan 2 balita tersebut meninggal. Ia menuturkan bahwa upaya bunuh diri dilakukan dengan cara menggantung diri.

    "Banyak orang tua beralasan capek jika melihat anaknya bandel. Ini adalah akibat minimnya pendidiman untuk menyiapkan pasangan menjadi orang tua sebelum menikah," kata Arist.

    Lebih lanjut lagi, Arist memaparkan gejala-gejala fisik yang bisa dilihat apabila anak-anak mengalami stres, yaitu: nilai akademis turun, sering mimpi buruk, sering gemretak giginya ketika tidur dan nafsu makannya menurun drastis.



      Waktu sekarang Wed Jan 18, 2017 9:03 pm