Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Alasan Kenapa Wanita Lebih Sulit Berhenti Merokok

    Share

    kuning

    557
    07.10.09

    Alasan Kenapa Wanita Lebih Sulit Berhenti Merokok

    Post  kuning on Thu Apr 05, 2012 6:17 am

    Alasan Kenapa Wanita Lebih Sulit Berhenti Merokok


    Wanita cenderung lebih sulit berhenti merokok dibandingkan pria. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa otak wanita non perokok lebih aktif merespons nikotin dibandingkan otak pria non perokok. Hal ini membuat wanita sulit meninggalkan kebiasaan merokoknya jika sudah terlanjur terkena nikotin.

    Ketika seseorang merokok, jumlah reseptor nikotin yang mengikat nikotin dan memperkuat kebiasaan merokok meningkat jumlahnya.

    Penelitian sebelumnya menemukan bahwa pria perokok memiliki lebih banyak reseptor nikotin dibandingkan pria yang bukan perokok. Namun yang mengejutkan, wanita perokok ternyata memiliki jumlah reseptor nikotin yang sama seperti wanita bukan perokok.

    "Pengobatan utama bagi orang yang ingin berhenti merokok adalah terapi penggantian nikotin, seperti koyo nikotin atau permen nikotin. Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita perokok mungkin akan lebih mendapat manfaat dari jenis perawatan lain yang tidak menggunakan nikotin, contohnya terapi perilaku seperti olahraga atau teknik relaksasi, dan lewat obat-obatan," kata peneliti, Kelly Cosgrove, asisten profesor psikiatri di Yale University School of Medicine seperti dilansir Fox News.

    Cosgrove dan rekan-rekannya memindai otak 52 orang pria dan 58 orang wanita. Sekitar setengah di antara peserta adalah perokok. Para peneliti memeriksa reseptor nikotin di otak menggunakan penanda radioaktif yang berikatan dengan reseptor yang bertanggung jawab dalam ketergantungan nikotin.

    Perokok dalam penelitian ini telah terbebas dari kebiasaan merokok selama seminggu sehingga reseptor nikotinnya bisa mengikat penanda yang digunakan dalam pemindaian.

    Para peneliti menemukan bahwa pria perokok memiliki reseptor nikotin sekitar 16% lebih banyak dalam area otak yang disebut striatum, 17% lebih banyak di otak kecil, dan 13 - 17% lebih banyak di wilayah korteks atau lapisan luar otak dibandingkan dengan pria yang bukan perokok. Perempuan perokok maupun bukan perokok memiliki jumlah reseptor nikotin yang sama pada bagian-bagian otak tersebut.

    Artinya, otak wanita yang tidak merokok pun memiliki reseptor nikotin yang sama dengan wanita perokok. Hal ini membuat wanita lebih sulit berhenti merokok karena secara alamiah otak mereka lebih mudah mencandu rokok ketimbang pria.

    Dr Len Horovitz, seorang spesialis paru di Lenox Hill Hospital di New York setuju bahwa sebaiknya terapi untuk mengatasi kebiasaan merokok lebih menekankan pada terapi tanpa menggunakan nikotin.

    "Semua nikotin yang ada di dalam tubuh dapat diganti, tapi para perokok mungkin masih ingin merokok. Merokok adalah pereda stres yang efektif bagi sebagian orang. Menghirup napas dalam-dalam adalah salah satu bagian dari kebiasaan merokok. Latihan pernapasan dapat membantu perokok karena meniru tindakan seolah-olah sedang mengisap sebatang rokok," kata Horovitz.

    Alasan perbedaan jenis kelamin yang ditemukan dalam penelitian ini masih belum jelas diketahui, tapi diduga ada hubungannya dengan tingkat hormon progesteron. Tingkat hormon ini berfluktuasi pada wanita, tergantung pada tahap siklus menstruasi. Jumlah hormon progesteron akan meningkat jauh setelah ovulasi.

    Penelitian yang dimuat jurnal Archives of General Psychiatry ini menemukan tingkat progesteron yang lebih tinggi berkaitan dengan jumlah reseptor nikotin yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa progesteron secara tidak langsung dapat menghalangi reseptor nikotin.



      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 6:50 pm