Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Ketika Merasa Frustasi, Orang Cenderung Ekspresikan Senyum

    Share

    zuu

    7
    17.06.12

    Ketika Merasa Frustasi, Orang Cenderung Ekspresikan Senyum

    Post  zuu on Fri Jul 06, 2012 10:13 am


    Meskipun senyum adalah ekspresi wajah yang sering digunakan untuk menunjukkan emosi positif, orang yang tersenyum belum tentu merasa senang. Nyatanya, orang yang merasa frustasi juga menunjukkan ekspresi yang sama. Namun ada sedikit hal yang membedakannya.

    Para ilmuwan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) membuat sebuah sistem komputer untuk membedakan manakah senyum karena senang dan manakah senyum karena frustasi. Software ini dikembangkan dengan tujuan untuk melatih orang-orang yang merasa kesulitan menafsirkan emosi orang lain, misalnya pada penyandang autis.

    "Tujuannya adalah untuk membantu orang ketitap berkomunikasi tatap muka," kata Ehsan Hoque, mahasiswa pascasarjana di Affective Computing Group di Lab Media MIT seperti dilansir Counsel & Heal.

    Dalam penelitian ini, para peserta penelitian dibawa ke laboratorium dan diminta mengisi formulir online yang membuat frustasi. Setelah peserta menekan tombol 'submit', data di formulir akan hilang dan harus diisi ulang dari awal. Bentuk formulir ini memang sengaja dibuat demikian. Segala tindak tanduk peserta direkam oleh kamera tersembunyi.
    .
    Para peneliti terkejut melihat banyak orang yang tersenyum ketika menghadapi situasi yang menyebabkan frustasi. Ketika belum begitu merasa frustasi, sebanyak 90% peserta tidak tersenyum sama sekali. Namun ketika benar-benar frustrasi, 90% di antaranya justru tersenyum.

    Hasil analisis rekaman video menunjukkan bahwa senyum yang dibuat ketika frustasi berbeda dengan senyum ketika senang. Jika senyum karena senang tersungging secara bertahap, senyum karena frustrasi muncul dan hilang dengan cepat.

    “Memahami seluk-beluk dan emosi yang mendasari ekspresi adalah tujuan utama dari penelitian ini. Penyandang autisme umumnya diajarkan bahwa orang yang tersenyum artinya senang. Namun penelitian menunjukkan bahwa pemahamannya tidak sesederhana itu,” kata Hoque.

    Penelitian juga menemukan bahwa manusia lebih akurat mendeteksi senyum karena senang dibandingkan program komputer. Namun senyum frustrasi lebih akurat terdeteksi oleh komputer. Para peneliti berpendapat, manusia cenderung cepat menafsirkan ekspresi, sedangkan algoritma komputer dapat melihat detil pergerakan senyum yang tidak disadari mata telanjang.

    Selain berguna untuk melatih para penyandang autis, agaknya metode pendeteksi senyum ini bisa berguna juga buat para salesman. Dengan memahami senyum frustasi ini, anggapan awam bahwa orang tersenyum selalu berarti senang tak kan lagi berlaku.



      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 7:02 am