Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Masalah Sepele yang Bikin Depresi

    Share

    zuko

    152
    25.06.11

    Masalah Sepele yang Bikin Depresi

    Post  zuko on Tue Jul 24, 2012 12:32 pm


    Parfum rekan kerja Anda, pewangi baju yang dikenakan tetangga Anda atau bau rokok yang bertebaran saat Anda menonton konser atau sekedar nongkrong di kafe mungkin takkan begitu mengganggu Anda, namun ternyata bagi sebagian orang lainnya kondisi ini sangat melemahkan, bahkan bisa mengancam nyawanya.

    "Mungkin kita menderita alergi ringan terhadap sesuatu, namun bagi beberapa orang sesuatu yang kita maksud itu bisa mendapatkan reaksi hebat meskipun kadar bahan kimianya sangat rendah dan baunya tak bisa kita cium," terang David Katerndahl, MD, profesor kedokteran komunitas dan keluarga di University of Texas Health Science Center, San Antonio.

    Katerndahl menyebut kondisi ini sebagai intoleransi kimia dan menurut sebuah studi baru yang dipublikasikannya dalam jurnal Annals of Family Medicine. Sejumlah orang yang menderita gangguan ini jumlahnya lebih tinggi daripada yang diperkirakan banyak teman sejawatnya.

    Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kondisi genetis atau hanya karena paparan bahan kimia berkadar rendah yang konstan selama bertahun-tahun sehingga menyebabkan munculnya intoleransi.

    Hal ini juga menjelaskan mengapa intoleransi kimia ini biasanya didiagnosis setelah penderita berusia 30 tahun. Orang yang alergi terhadap sejumlah bahan kimia semacam ini juga menderita multiple chemical sensitivity (MCS).

    Menurut studi sebelumnya, 13-33 persen masyarakat mengklaim mengalami sensitivitas yang 'tak biasa' terhadap bahan-bahan kimia tertentu, namun hanya 2-13 persen saja yang dapat diklasifikan sebagai intoleransi kimia. Berdasarkan studi yang dilakukan Katerndahl, 20 persen dari 400 orang dewasa yang diamatinya dapat dikualifikasikan mengalami kondisi tersebut.

    Selain itu, secara umum orang yang mengalami intoleransi kimia lebih sering mengunjungi UGD (rata-rata 23 kali pertahunnya) ketimbang orang dewasa yang sehat. Partisipan studi Katerndahl ini juga cenderung menderita alergi, depresi dan penyalahgunaan alkohol.

    "Penderita mendadak ketakutan karena mengira mereka terkena serangan jantung sehingga mereka langsung pergi ke UGD tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya," kata David.

    Penyalahgunaan alkohol itu sendiri merupakan salah satu bagian dari mekanisme gangguan dan bukan semata efek samping dari intoleransi tersebut.

    "Penderita bisa jadi menggunakan alkohol dan obat-obatan untuk mengatasi rasa cemas yang dialaminya," tambahnya.

    Kondisi lain yang cenderung dialami penderita antara lain masalah jantung, radang tenggorokan, asma, pneumonia, sinusitis, hipotiroidisme, penyakit autoimun, sindrom iritasi usus dan migrain.

    Para dokter pun mengaku baik intoleransi kimiawi dan MCS sangat sulit dibedakan, ujar Katerndahl. Pada banyak kasus, penderita intoleransi kimia atau MCS juga seringkali dikatakan menderita sindrom kelelahan kronis atau fibromyalgia.

    Semua ini bermuara pada fakta bahwa dunia telah dipenuhi oleh berbagai bahan kimia. Menurut PBB, industri kimia merupakan salah satu sektor terbesar dalam ekonomi dunia dan produksi bahan kimia meningkat 3-4 persen setiap tahunnya.

    Di AS sendiri ada lebih dari 80.000 bahan kimia industri yang digunakan untuk menghasilkan produk komersial, mebel, bahan bangunan, obat-obatan dan ribuan kegunaan lainnya.

    Katerndahl mengatakan meski begitu tak ada kelompok bahan kimia tertentu yang dapat dikaitkan dengan intoleransi kimi atau MCS, keduanya sangat spesifik bergantung pada kondisi masing-masing penderita.

    Namun hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah menghindari bahan-bahan kimia yang mungkin berpotensi mengganggu Anda sebanyak mungkin. "Masalahnya, tak ada obat-obatan yang dapat membantu Anda untuk mengatasi kondisi ini," lanjutnya.

    Selain itu, Anda juga perlu menyimak 3 cara sederhana untuk menyelamatkan rumah Anda dari produk-produk kimia yang berbahaya seperti dikutip dari rodale berikut ini.

    1. Gunakan Produk Organik
    Belakangan penggunaan pestisida pada bidang pertanian meningkat tajam, khususnya organofosfat yang telah terbukti mampu memicu gastrointestinal dan masalah jantung pada penderita MCS.

    Bahkan jika Anda tidak menderita gangguan intoleransi kimia sekalipun, Anda masih bisa melindungi diri dan keluarga Anda dari bahan-bahan kimia yang bisa menyebabkan gangguan hormon, gangguan sistem saraf dan masalah kesulitan belajar yang biasa dialami anak-anak.

    2. Katakan Tidak untuk Plastik
    Selain mengandung bisphenol A yang bisa mengganggu hormon, seluruh jenis plastik mengandung sejumlah bahan kimia yang sangat berbahaya, termasuk bahan fire retardant yang bisa menyebabkan kerusakan otak, bahan UV stabilizer penyebab kanker dan bahan produk-produk antibakteri yang bisa mengganggu hormon.

    Seluruh bahan kimia tersebut bisa keluar dari plastik dan masuk ke dalam makanan dan sumber air Anda, bisa juga menempel pada barang-barang di rumah Anda.

    3. Belajar Membuat Produk Pembersih Anda Sendiri
    Satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang ada di dalam sebuah produk adalah dengan membuatnya sendiri. Pelajari bagaimana mengendalikan hama dengan bahan-bahan seperti boraks dan cuka putih serta\' membuat produk pembersih rumahan Anda sendiri.

    Produk perawatan pribadi juga sarat dengan bahan-bahan kimia yang belum pernah diuji sebelumnya, padahal produk semacam ini bisa digantikan dengan produk kecantikan organik bikinan sendiri.



      Waktu sekarang Sat Dec 03, 2016 5:16 am