Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Yesterday at 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Kekerasan Mental Pada Anak-anak Bahayanya Seperti Kekerasan Fisik

    Share

    line

    21
    18.08.11

    Kekerasan Mental Pada Anak-anak Bahayanya Seperti Kekerasan Fisik

    Post  line on Wed Aug 01, 2012 11:08 am


    Anak-anak memiliki kondisi emosi yang sensitif dan rentan terluka. Pada anak-anak, kekerasan psikologis memiliki efek merusak kesehatan sebanding dengan kekerasan fisik seperti menampar, memukul atau menendang. Salah satu bentuk kekerasan psikologis pada anak yang paling banyak ditemui adalah penelantaran.

    "Kekerasan atau pelecehan psikologis meliputi tindakan seperti meremehkan, merendahkan, meneror, memperdaya, mengabaikan atau tindakan apapun yang berisiko merugikan kesejahteraan anak," kata Dr Harriet MacMillan, profesor di departemen psikiatri, ilmu saraf dan perilaku anak dari McMaster University seperti dilansir News Medical.

    Tindakan yang merugikan kesejahteraan anak merupakan segala perilaku yang membuat anak merasa tidak berharga, tidak dicintai atau tidak diinginkan. Misalnya ibu meninggalkan bayinya sendirian di boks sepanjang hari atau ayah mengajak anak remajanya untuk ikut mencandu narkoba.

    Namun apabila orangtua berseru kepada anaknya untuk melakukan perintah setelah 8 kali tak digubris, maka hal itu bukan dikategorikan sebagai kekerasan psikologis.

    Lain halnya jika berteriak setiap hari kepada anak dan memberi pesan bahwa anak tidak dinginkan oleh orangtua. Tindakan seperti itu merupakan contoh bentuk kekerasan psikologis yang berpotensi bahaya.

    Dalam laporan yang dimuat jurnal Pediatrics, penelitian menemukan bahwa kekerasan psikologis mengganggu perkembangan anak, merusak kelekatan dengan orangtua, memicu masalah akademik, menyebabkan kesulitan dalam bersosialisasi dan memicu gangguan perilaku.

    Kekerasan psikologis pada anak dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan dan mempengaruhi kesejahteraan sosialnya.

    Penelitian menemukan bahwa anak-anak korban kekerasan lebih besar kemungkinannya tumbuh menjadi orang dewasa yang bermasalah dan menjadi pelaku kekerasan terhadap anaknya sendiri.

    "Dampak dari kekerasan psikologis selama 3 tahun pertama kehidupan sangatlah mendalam. Kekerasan ini bisa terjadi dalam berbagai jenis keluarga, tapi lebih sering terjadi di rumah tangga yang banyak berkonflik, depresi atau terlibat penyalahgunaan zat," kata MacMillan.

    Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Inggris dan Amerika Serikat menemukan bahwa sekitar 8% - 9% persen wanita dan 4% persen pria mengaku pernah mengalami kekerasan atau pelecehan psikologis yang parah selama masa kanak-kanaknya.



      Waktu sekarang Wed Sep 28, 2016 10:29 am