Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Jika Masa Kecilnya Kurang Bahagia, Anak Cenderung Jadi Matre

    Share

    kalkulus

    5
    08.07.12

    Jika Masa Kecilnya Kurang Bahagia, Anak Cenderung Jadi Matre

    Post  kalkulus on Thu Aug 23, 2012 11:55 am


    Kebahagiaan memang tak dapat diukur dari materi, tapi kebanyakan orang tetap berlomba-lomba mengejar dan menumpuk materi untuk menjamin kebahagiaannya. Orang-orang yang terobsesi dengan uang dan materi ini disebut materialistis atau matre. Sifat ini ternyata bisa disebabkan karena masa kecil yang kurang bahagia.

    "Anak-anak yang kurang puas dengan kehidupannya lebih rentan percaya terhadap iklan yang menunjukkan bahwa harta bisa meningkatkan kebahagiaan. Anak yang kurang bahagia tak hanya menderita masalah harga diri, tetapi juga cenderung tumbuh menjadi materialistis," kata peneliti, Suzanna Opree seperti dilansir Medical Daily.

    Opree menggelar penelitian yang mensurvei 466 anak-anak dan tanggapannya terhadap pertanyaan mengenai materialisme. Misalnya anak diminta menjelaskan berapa banyak kekayaan yang dimiliki dibandingkan anak-anak lain, bahagiakah ia dengan kehidupannya, rumah, orangtua, teman, sekolah dan dirinya sendiri secara keseluruhan.

    Selain itu, para peneliti juga memperhitungkan paparan iklan dan mengukur seberapa seringkah anak-anak menonton acara televisi yang menampilkan banyak iklan. Peneliti kemudian menganalisis pengaruh materialisme terhadap kepuasan hidup atau sejauh apa seorang anak merasa bahagia terhadap hidupnya berdasarkan paparan iklan.

    Hasil penelitian yang dimuat jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa kepuasan hidup mempengaruhi sifat materialisme, tetapi hanya jika anak-anak sering menonton iklan. Makin bahagia seorang anak, maka ia akan makin kurang materialistis. Sedangkan anak yang kurang bahagia lebih cenderung menjadi materialistis.

    Opree yakin bahwa kecenderungan ini sangat berhubungan dengan pesan-pesan iklan yang seolah-olah mengatakan bahwa dengan membeli produk ini akan membuat bahagia atau membuat jadi lebih populer. Apalagi anak-anak zaman sekarang dibombardir dengan banyak iklan.

    Diperkirakan jumlah iklan untuk anak-anak setiap tahun bervariasi dari 10.000 iklan di Inggris sampai 40.000 iklan di Amerika Serikat. Sayangnya belum diketahui berapa banyak jumlah iklan untuk anak-anak di Indonesia setiap tahunnya.

    Opree menyarankan kepada orangtua untuk membantu anak-anak agar berfokus pada sumber kebahagiaan selain uang, misalnya cinta, persahabatan dan permainan. Hal ini penting untuk mengurangi pengaruh iklan karena anak-anak yang materialistis cenderung menjadi kurang bahagia di kemudian hari.



      Waktu sekarang Sat Dec 03, 2016 7:22 am