Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Tue Sep 27, 2016 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Jika Masa Kecilnya Kurang Bahagia, Anak Cenderung Jadi Matre

    Share

    kalkulus

    5
    08.07.12

    Jika Masa Kecilnya Kurang Bahagia, Anak Cenderung Jadi Matre

    Post  kalkulus on Thu Aug 23, 2012 11:55 am


    Kebahagiaan memang tak dapat diukur dari materi, tapi kebanyakan orang tetap berlomba-lomba mengejar dan menumpuk materi untuk menjamin kebahagiaannya. Orang-orang yang terobsesi dengan uang dan materi ini disebut materialistis atau matre. Sifat ini ternyata bisa disebabkan karena masa kecil yang kurang bahagia.

    "Anak-anak yang kurang puas dengan kehidupannya lebih rentan percaya terhadap iklan yang menunjukkan bahwa harta bisa meningkatkan kebahagiaan. Anak yang kurang bahagia tak hanya menderita masalah harga diri, tetapi juga cenderung tumbuh menjadi materialistis," kata peneliti, Suzanna Opree seperti dilansir Medical Daily.

    Opree menggelar penelitian yang mensurvei 466 anak-anak dan tanggapannya terhadap pertanyaan mengenai materialisme. Misalnya anak diminta menjelaskan berapa banyak kekayaan yang dimiliki dibandingkan anak-anak lain, bahagiakah ia dengan kehidupannya, rumah, orangtua, teman, sekolah dan dirinya sendiri secara keseluruhan.

    Selain itu, para peneliti juga memperhitungkan paparan iklan dan mengukur seberapa seringkah anak-anak menonton acara televisi yang menampilkan banyak iklan. Peneliti kemudian menganalisis pengaruh materialisme terhadap kepuasan hidup atau sejauh apa seorang anak merasa bahagia terhadap hidupnya berdasarkan paparan iklan.

    Hasil penelitian yang dimuat jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa kepuasan hidup mempengaruhi sifat materialisme, tetapi hanya jika anak-anak sering menonton iklan. Makin bahagia seorang anak, maka ia akan makin kurang materialistis. Sedangkan anak yang kurang bahagia lebih cenderung menjadi materialistis.

    Opree yakin bahwa kecenderungan ini sangat berhubungan dengan pesan-pesan iklan yang seolah-olah mengatakan bahwa dengan membeli produk ini akan membuat bahagia atau membuat jadi lebih populer. Apalagi anak-anak zaman sekarang dibombardir dengan banyak iklan.

    Diperkirakan jumlah iklan untuk anak-anak setiap tahun bervariasi dari 10.000 iklan di Inggris sampai 40.000 iklan di Amerika Serikat. Sayangnya belum diketahui berapa banyak jumlah iklan untuk anak-anak di Indonesia setiap tahunnya.

    Opree menyarankan kepada orangtua untuk membantu anak-anak agar berfokus pada sumber kebahagiaan selain uang, misalnya cinta, persahabatan dan permainan. Hal ini penting untuk mengurangi pengaruh iklan karena anak-anak yang materialistis cenderung menjadi kurang bahagia di kemudian hari.



      Waktu sekarang Thu Sep 29, 2016 3:28 pm