Forum Gaul dan Informasi - Follow Twitter @y3hoo_

Y3hoo Multi Bahasa

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Debus, Bentuk Eksistensi Banten di Sektor Pariwisata
Today at 6:29 am by nailahakimah

» Gampang Terdistraksi, Penyebab Utama Wanita Susah Orgasme
Wed Aug 20, 2014 8:35 am by alia

» Kisah Sangkuni
Tue Aug 19, 2014 9:33 am by kellyn

» Tradisi Leluhur Desa Guda Tak Pernah Punah
Mon Aug 18, 2014 6:33 am by flade

» Cara menghapus Smart Web Search
Sun Aug 17, 2014 12:53 pm by kellyn

» 4 Alasan Utama Pria Tidak Lagi Cinta Pada Pasangannya
Sun Aug 17, 2014 5:22 am by jakarta

» 6 Kota di Dunia untuk Mengakhiri Status Jomblo
Sat Aug 16, 2014 1:22 pm by online

» Google Doodle Hari Ini
Sat Aug 16, 2014 1:07 pm by online

» Jelajahi Batavia Tempo Dulu di Pelabuhan Sunda Kelapa
Fri Aug 15, 2014 8:17 am by alia

Ngobrol Via Twitter

Image hosted by servimg.com

Sponsor Y3hoo

Image hosted by servimg.com
Image hosted by servimg.com
Kontak Jodoh
Image hosted by servimg.com

    Mirah dari Marunda

    Share

    mayang.ungu

    301
    14.06.09

    Mirah dari Marunda

    Post  mayang.ungu on Sun Jun 21, 2009 12:13 pm

    Epos Perempuan Macan Marunda


    PEREMPUAN sering dianggap sebagai makhluk lemah.Namun,cerita rakyat Betawi Mirah dari Marunda menampilkan sisi keperkasaan dan kepahlawannan perempuan.

    Tema yang ditampilkan Regeneration Theatre pada pagelaran di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM),19–20 Juni itu, setidaknya mengafirmasi keperkasaan perempuan. Pementasan teater komedi berjudul Mirah dari Marunda tersebut mampu menghadirkan nuansa kehidupan Betawi di masa lalu.Pada awal pementasannya, teater yang disutradarai oleh Ari Kusuma Ningrum tersebut, hadir dengan tata panggung yang didesain menyerupai perkampungan Betawi dengan rumah dan bale-bale bambu di depannya.

    Anak-anak yang tengah bermain congklak dan sebagian lagi giat berlatih silat,menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Betawi yang harmonis di bawah perlindungan seorang wanita perkasa bernama Macan Marunda. Kehadiran seorang perempuan bernama Macan Marunda ternyata mampu mengatasi dan mengendalikan semua kejahatan di wilayahnya. Namun sayang, setiap manusia memiliki kekurangan, demikian pula dengan Macan Marunda.

    Ketika usia mulai senja, kekuatan tubuhnya pun berkurang. Sementara itu, kejahatan seperti tidak akan pernah berakhir dan mulai terjadi di mana-mana. Dari hari ke hari,Macan Marunda semakin khawatir tidak bisa lagi memberikan perlindungan karena usianya yang mulai senja. Ketiga anak gadisnya pun dilatih mempelajari ilmu silat yang dikuasainya, sehinggalahirlahanak-anakperempuan yang perkasa dan berani memberantas kejahatan yang terjadi.

    Salah satu anak gadisnya yang paling diandalkan dan diharapkan untuk menggantikannya adalah Mirah. Mirah adalah gadis yang percaya akan kekuatannya.Namun, sang ibu masih belum berani melepaskan anaknya berjuang sendiri memberantas perampokan yang selalu terjadi di kampung mereka. Sang ibu merasa yakin bisa melepaskan anak gadisnya berjuang jika Mirah telah mendapatkan seorang suami.

    “Bagaimanapun, yang paling Nyak khawatirkan adalah keadaanmu Mirah. Karena belum ada seorang laki-laki yang menjagamu,” kata sang ibu membujuk Mirah untuk segera menikah dan memilih seorang laki-laki menjadi suaminya. Akan tetapi, permintaan sang Macan Marunda itu ditampik Mirah karena merasa belum bertemu dengan seorang laki-laki yang mampu mengalahkan kekuatan ilmu silatnya.Pementasan Mirah dari Marunda semakin semarak dengan kehadiran beragam peran yang dimainkan oleh aktor yang berbakat.

    Seperti ketika seorang aktor yang memerankan lakon seorang banci hadir di panggung,penonton yang memadati Teater Kecil bahkan dibuat terpingkal-pingkal menyaksikan ulahnya di atas panggung. “Iya Mirah, pilihlah seorang calon suami.Atau kita adakan saja sayembara. Barang siapa bisa mengalahkanmu, dia berhak menjadi suamimu,” kata si banci sambil melenggang lenggok di panggung dengan logat Betawi yang kental. Lagak si banci yang mengenakan bendana kuning tersebut membuat pementasan teater berdurasi lebih kurang tiga jam itu semakin semarak.

    Apalagi ketika latihan silat, si banci sering kali mengacaukan situasi latihan. Ketika latihan silat usai, panggung berganti latar dengan sebuah toko milik seorang China yang berjualan ramuan tradisional. Seorang anak perempuan tengah melayani tamu dengan wajah cemberut. “Haiiiya...kalau melayani tamu harus dengan senyum. Bagaimana tamu betah kalau yang melayani marah-marah terus,” kata si ayah menasihati anak gadisnya. Sedang asyik menasihati si anak,datanglah seorang Menir Belanda yang ingin membeli ramuan. Kedatangan Menir tersebut ternyata untuk meminta uang yang dipinjam pemilik toko kepadanya.

    “Kenapa anak tuan marahmarah terus,” tanya si Menir yang berbusana serbaputih tersebut menyaksikan anak pemilik toko tidak tersenyum sama sekali.Ternyata selidik punya selidik,si anak merajuk karena ayahnya terlalu pelit sehingga tidak mau membelikannya baju baru. Tidak lama, datanglah seorang pedagang Arab ke toko China tersebut. Dengan logat Arabnya yang kental,si Arab menawarkan karpet kepada si Menir Belanda dan pedagang China itu. “Ini tuan-tuan, ana datang membawa karpet dari kulit semut Afrika yang sangat halus,ana juga membawa tenunan dari kulit kelinci perawan,” kata pedagang Arab disambut tawa penonton.

    Tengah asyik bertransaksi, segerombolan perampok datang dan merampas semua harta benda ketiga orang tersebut. Bahkan, si Menir Belanda harus kehilangan topi putihnya yang melambangkan kehormatan.Kepanikan melanda tiga orang tersebut, sehingga memutuskan mencari keluarga Mirah untuk meminta bantuan. Sementara itu, di rumah Mirah sendiri tengah dilangsungkan persiapan untuk pernikahan Mirah dengan Jamal dari Kemayoran atau dikenal sebagai Pendekar Geledek yang telah memenangkan sayembara.

    “Nyak bahagia sekali,akhirnya Mirah bertemu dengan belahan jiwanya yang sama-sama berani membela kebenaran,” kata Macan Marunda kepada Mirah dengan perasaan bahagia. “Pementasan kali ini hadir karena kecintaan kami kepada seni teater. Mirah dari Marunda berangkat dari kegelisahan akan minat masyarakat terhadap seni teater dan kurangnya media ekspresi itu sendiri,” kata Sutradara Regeneration Theatre Ari Kusuma Ningrum.

    Dia menambahkan,walaupun tidak mudah, teater yang berdiri pada 9 Juni 2005 lalu itu mencoba menampilkan kisah yang mengangkat martabat kaum perempuan itu sesempurna mungkin.(berbagai sumber)

      Waktu sekarang Fri Aug 22, 2014 2:52 pm