Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    Criticube, Gabungan Wikipedia dan Twitter Buatan Indonesia

    Share

    kuning

    557
    07.10.09

    Criticube, Gabungan Wikipedia dan Twitter Buatan Indonesia

    Post  kuning on Mon Oct 22, 2012 8:20 am


    Apa yang akan dilakukan seseorang ketika ingin mencari informasi atau berbagi ide? Dewasa ini, tempat yang cocok untuk memenuhi hal itu adalah internet. Jaringan global ini memang menyediakan bermacam-macam fasilitas yang bisa memfasilitasi keperluan tersebut.

    Dua diantaranya yang sering dikunjungi adaah situs Wikipedia dan Twitter, di mana banyak orang bisa berkontribusi pada pengetahuan dan menyebarkan ide tentang suatu hal ke seluruh penjuru dunia.

    Kebutuhan untuk mengembangkan pengetahuan dan berbagi ide ini ditangkap oleh Rama Manusama, mantan mahasiswa Indonesia jurusan S2 Bisnis yang kini bermukim di Belanda. Bersama sejumlah teman, dia mengembangkan CRITICUBE, situs serupa forum di mana penggunanya bisa saling mengemukakan pemikiran dan mengajukan tanggapan.

    "Konsepnya mirip Twitter, kita membuat posting tentang suatu thoughts atau pemikiran tentang sesuatu yang bisa dibaca oleh banyak orang sekaligus," jelas Rama kepada KompasTekno melalui conference call. Bedanya dengan Twitter, pemikiran para pengguna ini lebih terorganisir dengan pembagian ke kategori-kategori topik, atau yang disebut dengan istilah "cube".

    Pengguna kemudian bisa mengikuti perkembangan topik tersebut dengan cara mem-follow cube yang bersangkutan. Orang lain bisa menimpali sebuah 'thought' dengan menulis balasan atau reply.

    Nah, balasan ini bisa disampaikan dalam tiga sikap berbeda: postif atau mendukung, netral, dan challenge atau menentang. Pilihan sikap tersebut bisa dipilih dari checklist yang tersedia di kotak reply, maksudnya agar si empunya pemikiran paham benar bahwa pendapatnya -misalnya tentang situasi politik atau keilmuan- sedang didukung atau ditentang.

    Dengan cara ini, Rama berharap bisa menumbuhkan iklim diskusi di dalam Criticube. "Soalnya, masing-masing orang pasti punya pendapat berbeda, tapi justru dari perbedaan itu bisa ditumbuhkan pengetahuan baru," ujar Rama.

    Sebuah posting thoughts dalam suatu cube pun bisa di-follow, sehingga orang yang tertarik bisa senantiasa mengikuti perkembangan diskusi.

    Knowledge Sharing

    Jenis "cube" di situs Criticube cukup beragam. Ada sekitar 50-an cube dengan topik mulai dari seputar hobi seperti video game dan tokoh komik hingga yang lebih serius seperti social entrepreneurship dan bahkan diskusi tentang asal muasal manusia.

    Di samping menulis pendapat untuk cube yang sudah ada, masing-masing pengguna bisa membuat cube baru dengan topik sesuai minat.

    "Untuk beberapa cube yang sifatnya ilmiah pengetahuan, sebuah pemikiran harus mencantumkan sumber referensi. Ini supaya pembacanya tahu bahwa informasi yang disampaikan benar-benar faktual dan diperoleh dari sumber yang kredibel," jelas Rama.

    Tujuan dari hal itu, menurut Rama, adalah agar Criticube bisa digunakan sebagai sumber referensi informasi bagi orang yang membutuhkan.

    "Misalnya ada mahasiswa yang sedang menulis skripsi tentang penelitian media sosial, dia bisa mengikuti suatu cube yang topiknya berhubungan, atau membuat cube baru dan mengumpulkan informasi dari sana. Orang-orang yang punya interest sama bisa juga berkumpul di sini," katanya, sambil menambahkan pencantuman referensi tidak diperlukan untuk cube dengan topik casual atau tidak bersifat ilmiah.

    Untuk meningkatkan kualitas situsnya, Rama mengadakan sejumlah survei. "Kami tanya, berapa lama pakai criticube, apakah criticube bisa membantu dalam bekerja dan belajar, lalu feedback nya dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan aspek knowledge sharing Criticube."

    Sejak pertama kali dijalankan pada bulan Februari lalu, Criticube sudah mengumpulkan sekitar 500 pengguna yang kebanyakan berasal dari Belanda dan Indonesia. Sebanyak 40 persen dari jumlah itu berprofesi sebagai pekerja profesional dan mahasiswa.

    Untuk saat ini, posting dalam Criticube harus ditulis menggunakan menggunakan bahasa Inggris agar bisa dimengerti oleh audience internasional yang menjadi target situs tersebut, "Tetapi nanti juga akan ada cube dalam bahasa Indonesia untuk mengakomodir lebih banyak pengguna di Tanah Air," ujar Rama. [kompas]



      Waktu sekarang Mon Sep 26, 2016 7:14 pm