Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

» Kisah Mengagumkan Bocah Miskin India Jadi Direktur Utama Google
Wed May 24, 2017 12:17 pm by jakarta

IKLAN ANDA


    Bagaimana Cara Mengontrol Gairah Seks di Masa Puber?

    Share
    avatar
    y3hoo

    486
    16.01.09

    Bagaimana Cara Mengontrol Gairah Seks di Masa Puber?

    Post  y3hoo on Sat Nov 24, 2012 5:55 am


    Pubertas adalah pertanda bahwa bocah yang awalnya polos mulai berkembang organ seksualnya. Pada anak yang mengalami pubertas dini, seringkali perkembangan mentalnya tidak secepat perkembangan fisiknya. Jika tidak dikontrol, gairah yang muncul bisa bikin berabe.

    Umumnya anak perempuan mengalami pubertas pada usia 8-13 tahun sedangkan laki-laki usia 9-14 tahun. Namun sekarang ini tak jarang dijumpai anak-anak yang puber lebih cepat dari usia tersebut atau dikenal dengan pubertas dini.

    "Pubertas dini dapat disebabkan oleh nutrisi anak yang lebih baik sehingga perkembangan fisiknya juga jadi lebih cepat. Selain itu, jika sudah terpapar tayangan yang memancing gairah seksual sejak dini juga dapat memicu anak lebih cepat matang secara seksual," kata Dr. Nugroho Setiawan, MS, Sp.And spesialis andrologi dari RS Fatmawati kepada d-Health.

    Kematangan organ reproduksi merupakan salah hal yang menyertai pubertas. Akibatnya mulai muncul dorongan untuk bereproduksi atau dorongan seksual. Namun karena jiwanya masih labil seperti halnya anak-anak, pubertas dini berisiko memicu remaja terjerumus dalam perilaku seks yang tak aman.

    "Remaja ini organ seksualnya sudah matang, tetapi secara psikoseksual belum sehingga memperbesar kemungkinan melakukan perilaku seksual yang berisiko ataupun seks pra nikah," imbuh dr Nugroho.

    Untuk memperkecil risiko tersebut, dr Nugroho menyarankan agar remaja yang sedang puber diberi kegiatan atau aktivitas yang menyibukkan. Bisa dengan olahraga ataupun hobi sehingga membuat energi dan pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang produktif. Selain itu, tubuh sebenarnya secara alami sudah memiliki mekanisme berupa mimpi erotis.

    Apabila aktivitas yang menyibukkan tersebut belum mampu membendung gairah remaja, maka sah-sah saja jika remaja melakukan masturbasi. Bukan berarti menyarankan mengajarkan anak-anak untuk bermasturbasi, namun orang tua ataupun guru harus bersiap memberikan penjelasan akan seksualitas jika anak bertanya.

    "Biasanya anak-anak menemukan sendiri caranya bermasturbasi. Saat itulah orang tua perlu menjelaskan kepada anak apa yang sebenarnya dia alami. Orang tua harus terbuka kepada anak dan sebaliknya, jadi orang tua sebaiknya menjadi teman anak-anaknya agar anak mau berkomunikasi secara terbuka," kata dr Nugroho.

    Dr Nugroho menekankan peran orang tua amat penting bagi remaja, tak hanya remaja yang mengalami pubertas dini saja, melainkan para remaja secara keseluruhan. Untuk remaja dengan pubertas dini, orang tua memang agaknya perlu berupaya lebih keras karena tantangannya lebih besar dibanding remaja pada umumnya.



      Waktu sekarang Sun Jul 23, 2017 11:47 pm