Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    Penjaga Pulau Terluar Indonesia - Sunyi & Sepi

    Share

    online

    452
    27.08.09

    Penjaga Pulau Terluar Indonesia - Sunyi & Sepi

    Post  online on Mon Dec 31, 2012 5:28 pm


    Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 tahun 2002 tentang titik-titik dasar garis pangkal kepulauan RI terdapat pulau terluar di tanah air. Di antara 92 pulau terluar ada 4 buah pulau terluar di negara kita yang patut kita telusuri.

    Pulau Rondo.

    Jika ingin menginjak kaki ke pulau ini kita dapat menggunakan motor boat dan merapat ke tepi pantai yang agak landai di sekitar hutan bakau bagian Selatan. Secara keseluruhan kondisnya agak terjal dengan ketinggian 0 - 35 meter dpl.


    Kediaman penjaga pulau Rondo

    Pulau Rondo itu luasnya hanya 4 Km persegi. Untuk mencapai pulau indah dan eksotik ini dari Sabang (Pulau Weh) dapat ditempuh dengan perjalanan laut (Kapal Motor) sejauh 15,6 Km dengan waktu tempuh hanya 45 menit. Pulau Rondo tidak ada penduduknya, pulau ini bisa dimanfaatkan untuk pariwisata karna memiliki kakayaan laut yang melimpah ( sekarang belum tersentuh).

    Meskipun jalur di depan pulau ini sangat padat karena menjadi lalulintas laut untuk pelayaran Asia dan Eropa para penjaga-penjaga yang hidup di tengah kesunyian di Pulau Ronda ini sangat jarang diberitakan aktifitas dan peranannya dipemberitaan manapun di tanah air. paling kita hanya dapat informasi dari situs milik pemerintahan kota Sabang.

    Oleh karena itu, Menteri Pertahanan Purnomo Sidi beberapa waktu berkenan hadir menjenguk dan melihat mereka bersama jajaran Kodam I/Iskandar Muda. Di sana Menhan meletakkan batu pertama pembuatan prasasti sebagai tanda batas negara Republik Indonesia.

    Fasilitas apa saja yang dimiliki oleh Marinir penjaga Pulau Rondo? Sangat sederhana. Selain tidak memiliki Helipad, tidak memiliki dermaga yang layak, juga tidak ada pos pengamat Angkatan Laut yang memadai. Mereka hanya tinggal di barak yang dibangun sangat sederhana. Akan tetapi Pangdam I/Iskandar Muda Mayjen Hambali Hanafiah mengatakan pihaknya terus memberikan berbagai dukungan seperti kesehatan bagi para prajurit yang ditugaskan menjaga perbatasan tersebut. Selain tetap menyuplai logistik juga tetap memberikan latihan penjagaan dan juga menyiapkan akomodasi kesehatan meskipun harus dikirim ke Sabang.

    Oleh karena tidak berpenghuni dan menjadi pulau terluar negara kita, pulau ini hanya dijaga oleh Marinir Angkatan Laut Indonesia secara bergiliran. Di sana ada sebuah tugu yang dibangun oleh TNI AL. Mereka inilah yang hidup di tengah kesepian.

    Sangat disayangkan masih lemahnya perhatian pemerintah kita. Keberadaan penjaga mercusuar dan penjaga prasasti (Marinir) kita masih serba terbatas. Utuk berobat harus ke Sabang, untuk telepon saja tidak punya selain Handphone milik pribadi itupun jarang dapat signal selain dari Telkomsel.

    Dapat dibayangkan betapa repotnya para penjaga negara ini memantau arus pelayaran di jalur yang padat dan strategis tersebut. Apa jadinya jika pulau itu tiba-tiba didarati oleh pasukan musuh ? Apakah Marinir kita akan lari? Tentu tidak bukan? Tapi bertempur pun mereka akan sangat beresiko dengan peralatan dan fasilitas terbatas. Untuk berkomunikasi saja tidak bisa karena belum sampai jangkauan jaringan komunikasi di sana.

    Pulau Liki


    Pulau Liki

    Pulau ini jauh beda kondisinya dengan ’saudaranya’ Pulau Rondo yang merasakan sunyi sepi di tengah keramaian pelayaran Samudrah Hindia menuju Selat Malaka. Pulau Liki lengkapnya disebut Pulau Lifendo, tapi orang sudah terbiasa menyebutnya dengan Liki.

    Pulau yang masuk dalam Provinsi Papua ini ada penduduknya. Pulau ini berpenghungni sebanyak kurang lebih 300 jiwa, orang dipimpin oleh seorang kepala desa dari suku asli Sobey. Selain itu ada suku minoritas puluhan orang dari suku Biak. Penduduknya semua beragama Kristen, oleh karenya terdapat 1 rumah ibadah (Gereja) dan merupakan satu-satunya tempat beribadat di pulau ini.

    Di Pulau Liki hanya ditemukan sebuah Sekolah Dasar Inpres dengan jumlah siswa 25 orang dari Kelas 1 sampai kelas 6. Muridnya dari anak kecil hingga ibu-ibu dan orang dewasa. Sekolah ini hanya mempunyai seorang guru merangkap kepala sekolah, merangkap Tata Usaha dan merangkap juga sebagai penjaga sekolah, dia adalah Mariana Yanu. Serikandi inilah yang menjadi Kartini di pulau terpencil ini. Dia tamatan Universitas Cendrawasih, Sejak tahun 2002 dia menjadi pengajar di sini. Akan tetapi seak tahun 2008 dia mengajar sendirian saja .

    Penduduk pulau ini pada umumnya nelayan tangguh yang mencari ikan sampai ke Laut Pasifik sehingga kadang tertangkap akibat melewati ZEE. Selain itu ada beberapa orang menunggu pantai dengan menyiapkan tempat istirahat (Homestay) dan warung seadanya untuk pelancong yang ingin menikmati keindahan pantaipulau Liki yang memang sangat menarik tapi kurang gencar publikasinya.

    Siapa yang menjaga pulau LIKI?

    Pulau ini ternyata dijaga dan dikelola dengan baik seorang kepala Desa, saat ini masih dipimpin oleh seorang suku asli yaitu bapak Frederik Kiman.Padahal sesuai Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004, salah satu tugas TNI dalam operasi militer, selain perang adalah mengamankan wilayah perbatasan.

    Masalah jaringan komunikasi? Jangan tanya. Nasbibya sama dengan saudaranya yang lain. Lihat saja: Telepon/ Wartel tidak ada. Kantor Pos tidak ada. Apalagi BTS, pasti tidak ada. Maka tak heran orang di sini tidak mengenal Telepon apalagi telepon GSM. Bukan tak sanggup membeli tapi karena tidak ada jaringannya.

    Selain itu, ternyata di pulau ini tidak ada Pos pengamatan Angkatan laut, jadi memang pulau ini dijaga oleh Pak Frederik Kiman dan teman-temannya.

    Pulau Dana atau Dana Rote

    Tidak ada penduduk di pulau seluas hampir 1Km2 ini kini telah dibangun monumen Jendral Sudirman pada yang diresmikan oleh Pangab Joko Santoso pada 1/8/2010 lalu. Patung Jendral Sudirman setinggi 13 meter ini diharapkan memberi inspirasi kepada negara luar untuk menghormati teritorial NKRI dan kepada para penjaga diharapkan meneapkan nilai-nilai luhur dan heroisme Jendral Sudirman.


    Petugas penjaga pantai pulau Dana bagian Timur

    Mengapa hal ini penting, perlu diketahui bahwa pulau Pasir yang menjadi tetangga terdekat Pulau Dana telah lama lepas ke Australia, . Pulau Pasir sendiri akhirnya jatuh ke tangan Australia karena lemahnya diplomasi Indonesia dalam mengklaim wilayah teritorinya. Lepasnya Pulau Pasir ini memang luput dari perhatian publik selama ini, maka dengan meingkatkan penjagaan pulau Dana ini diharapkan pulau ini tidak lepas lagi. Sejak 2009 penjagaan pulau ini memang telah diperketat skalanya.

    Pulau Dana yang terdapat dalam gugusan pulau Rote ini memang strategis dan kondisinya memang rawan karena pulau yang luasnya relatif kecil memang, hanya 0,95 Km persegi ini meskipun kecil posisinya memiliki keindahan dan kekayaan yang belum dieksploitasi berlimpah. Posisi ini sangat strategis secara ekonomis dan secara maritim.

    Secara ekonomis kawasan ini terkenal dengan segitiga “Celah Timor” yang kaya dengan hasil tambang Minyak dan Uranium yang membuat Australia ngiler dan mengajak Timor Leste menganggu sedikit demi sedikit kawasan ini.Sedangkan secara Maritim, jika kawasan ini lepas, akan sangat memudahkan pihak lawan menyerang ke posisi terdekat negara kita kemanapun sesukanya musuh menyerang.

    Di Pulau ini juga memiliki Mercusuar jenis Flash yang sangat baik dan berperang sangat penting untuk mengatur pelayaran di kawasan celah Timor.

    Siapakah yang menjaga pulau Dana?

    Pulau Dana ini posisinya lebih ke Selatan dari pulau Rote sehingga hampir berbatasan dengan perairan Timor Leste dan perairan Australia. Pulau ini dijaga oleh satu Pleton TNI AL dari Satgaspam, TNI AL.

    Meski tidak ada penduduk secara resmi, namun hasil pemantauan pesawat pengintai Boeing 737 Pengintai milik TNI-AU .Pesawat yang dilengkapi SLAMMR (side looking airborne multi mission radar) pada keinggian 10 ribu kaki itu mampu mendeteksi adanya perumahan di sana. Dan setelah dijajaki melalui darat ternyata ditemukan beberapa rumah milik warga Australia untuk keperluan wisata mereka.

    Melihat kondisi yang rawan ini seharusnya pemerintah dapat membangun Lantamal di Pulau ini dan jika perlu menempatkan beberapa satu squadron khusus di sana. Meskipun biaya mahal kondisi ini tentu akan meningkatkan rasa ingin tahu atau Coba-coba Australia untuk mencaplok pulau ini setelah sukses mencaplok Pulau Pasir.

    Pulau Miangas.

    Pulau Miangas seluas 3,15 Km persegi atau 210 Ha ini masuk dalam wilayah pemerintah daerah Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Di pulau Miangas ada sekitar 900 - 1000 orang penduduk. Pulau ini sedang bersengketa dengan Filipina. Meskipun dalam semangat dan persatuan ASEAN tidak diperkenankan pendekatan kekerasan dalam hal sengketa wilayah antara sesama ASEAN tapi hingga kini beberapa poltisi Filipina belum rela melepas posisi pulau Miangas kepada kita. Perlu diketahui adalah bahwa Kota Davao (ibukota Provinsi Mindanao Selatan) hanya berjarak 83 Km dari kota kecamatan Miangas kita.


    Kantor Polsek pulau Miangas

    Siapakah yang menjaga Pulau Miangas?

    Oleh karena itulah dipandang penting dan perlu menjaga pulau ini selama 24 jam sehari. Kenyataannya memang demikian. Sejumlah 100 prajurit TNI AD Batalyon Infanteri 712/ Wiratama yang bertugas di perbatasan RI- Filiphina telah tiba di pelabuhan pulau Miangas, Sulawesi Utara, Sabtu lalu (2/4/2011). Mereka adalah personil pengamanan perbatasan (pamtas) yang telah bertugas selama satu tahun di pulau Miangas, Pulau Marore, dan Marampi.

    Para penjaga perbatasan kita yang berada di pulau Miangas ini kondisinya hampir sama meski agak lebih lumayan karena adanya beberapa sarana dan prasarana pendukung. Akan tetapi sayangnya di Miangas belum ada Bandara Perintis (akibat masih konflik dalam kepemilikan tanah), padahal di sini diperlukan sistem pertahanan angkatan Udara dan Laut yang memadai.

    Meskipun perundingan antara Amerika Serikat dan Hindia Belanda di atas kapal Greenphil tanggal 4 April 1928, memutuskan Pulau Miangas masuk ke wilayah kekuasaan Hindia Belanda karena persamaan budaya dengan masyarakat Talaud dan semakin dipertegas diresmikannya tugu perbatasan antara Indonesia dengan Philipina di tahun 1955, dimana Miangas berada di wilayah Indonesia. tidak berarti petugas kita yang dikirim ke sana harus hidup dan bertahan dengan seadanya, bukan?

    Posisi pulau ini lebih baik dalam segala hal dari ke tiga “saudaranya’ di atas dalam beberapa hal. Selain juga memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak, sarana komunikasi, informasi dan kesehatan juga telah ada di sini.

    Bagaimana status Miangas ditingkatkan menjadi kota Pelabuhan Marinir Indonesia atau bahkan kota Angkatan Udara Indonesia yang dapat menjangkau seluruh areal dalam rentang kendali Matitim Bagian Timur secara efektif dan efisien.

    Demikianlah sekilas pandangan tentang 4 (empat) buah pulau terluar negara kita yang mengandung potensi ancaman dari luar dan dari dalam. Dengan mengenal kondisi dan situasi pulau-pulau tersebut sedikit tidaknya kita dapat merekomendasikan apa yang harus disikapi oleh pemerintah kita. Membiarkan pulau - pulau itu merana seperti Kerakap tumbuh di batu, hidup segan matipun tak mau, atau membiarkan penjaga pulau sepi di tengah pulau nun jauh di mata dengan perlengkapan seadanya saja..?

    Bukankah lebih baik meningkatkan sarana, prasarana dan perlengkapan penjaga-penjaga perbatasan dan meningkatkan petumbuhan ekonomi kawasan tersebut akan lebih baik..? Ataukah karena sebuatan “Miangas” itu dalam bahasa Talaud berart “MALU” sehingga wilayah ini pun seperti malu-malu untuk tumbuh dan berkembang? Padahal potensinya lebih baik dari ke 3 ’saudaranya’ yang lain (di atas) yang jauh lebih miskin dan terbatas dalam segala hal.

    Kompasiana.com




      Waktu sekarang Mon Sep 26, 2016 8:58 pm