Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    Studi: Mengejar Kebahagiaan Hanya akan Bikin Kesepian

    Share

    via

    848
    04.03.09

    Studi: Mengejar Kebahagiaan Hanya akan Bikin Kesepian

    Post  via on Mon Mar 11, 2013 3:18 pm


    Setiap orang tentu ingin bahagia dan mereka pasti melakukan berbagai cara untuk mencapai kebahagiaannya itu. Tapi ironisnya, sebuah studi baru mengungkap orang yang berjuang mati-matian demi mendapatkan kebahagiaannya justru akan berakhir tak bahagia dan kesepian. Kok bisa?

    Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion, hal ini karena orang yang berambisi untuk bahagia cenderung hanya terfokus pada dirinya sendiri, alih-alih menjaga hubungannya dengan orang lain. Pada akhirnya, mereka akan terisolasi dan merasa kesepian, padahal kondisi ini dapat menurunkan tingkat kesejahterannya.

    "Tampaknya ada hal yang lebih alami dan fungsional dari sekedar ingin bahagia. Bahkan dari studi ini kami menemukan bahwa menilai kebahagiaan terlalu tinggi justru memberikan sejumlah konsekuensi negatif. Salah satunya adalah merusak hubungannya dengan orang lain dan membuat mereka kesepian," terang peneliti dari University of Denver and University of California, Berkeley.

    Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti melakukan dua percobaan. Pada percobaan pertama peneliti meminta 206 pria dan wanita berusia 20-60 tahun menyelesaikan survei online tentang seberapa besar mereka menilai pentingnya kebahagiaan bagi hidup mereka.

    Seminggu kemudian partisipan diminta menulis diari harian sebelum tidur untuk melaporkan kejadian yang paling membuat partisipan stres dalam sehari dan seberapa besar stres yang mereka rasakan karenanya, termasuk sebesar apa kesepian yang mereka rasakan. Penulisan diarinya berlangsung selama 2 minggu.

    Dari percobaan pertama ini peneliti menemukan semakin besar penilaian partisipan terhadap kebahagiaan maka semakin partisipan merasa kesepian ketika mengalami kejadian yang membuatnya tertekan tersebut. Bahkan hasilnya dapat dipastikan setelah peneliti mempertimbangkan faktor lain seperti usia, jenis kelamin dan status sosioekonomi.

    Sedangkan pada studi kedua, peneliti mencoba mencari tahu apakah mengagungkan kebahagiaan-lah yang menyebabkan orang-orang makin merasa kesepian. Untuk mengetahuinya, peneliti meminta 43 mahasiswi untuk menonton video klip yang netral (secara emosional) lalu partisipan diminta menilai seberapa besar kesepian yang mereka rasakan.

    Setelah itu partisipan dibagi menjadi dua kelompok; kelompok satu diminta membaca sebuah artikel buatan yang menekankan manfaat kebahagiaan terhadap hubungan dengan pasangan, karir serta\' kesejahteraan seseorang secara menyeluruh. Tapi kelompok kontrol diminta membaca artikel yang sama namun kata 'kebahagiaan'-nya diganti dengan 'pertimbangan akurat'.

    Kemudian seluruh partisipan menonton sebuah film berdurasi 35 menit yang dirancang khusus untuk menimbulkan rasa keterikatan dan keintiman.

    Hasilnya, di awal studi kesepian yang dirasakan kedua kelompok tidak tampak berbeda. Tapi lain halnya ketika percobaan selesai dilakukan. Pasalnya, kelompok yang dimanipulasi untuk mengagungkan kebahagiaan (membaca artikel buatan tentang manfaat kebahagiaan terhadap kehidupan) dilaporkan merasakan kesepian yang lebih besar secara signifikan.

    "Temuan ini mempersembahkan penjelasan tentang mengapa keinginan untuk mencapai kebahagiaan itu justru berujung pada penurunan kebahagiaan dan kesehatan. Jadi mungkin untuk menuai manfaat dari kebahagiaan itu orang-orang harus bersikap tak begitu menginginkannya," simpul peneliti seperti dilansir Daily Mail.






      Waktu sekarang Mon Sep 26, 2016 7:15 pm