Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Bagaimana Tidak Hipertensi? Sedikit-sedikit Pakai Garam dan Kecap Asin

    Share

    bibang

    108
    20.08.11

    Bagaimana Tidak Hipertensi? Sedikit-sedikit Pakai Garam dan Kecap Asin

    Post  bibang on Mon Apr 08, 2013 8:33 am


    Hipertensi atau tekanan darah tinggi lebih banyak terjadi di negara berkembang, bukan di negara maju. Salah satu sebabnya adalah pola makan, yang cenderung suka asin. Makan apapun rasanya tidak lengkap kalau tidak tambah garam atau kecap asin.

    "Orang di negara berkembang kalau makan itu kan yang penting cuma asin. Ikan asin, kecap itu sudah cukup," kata Dr Nani Hersunarti,SpJP(K), FIHA, Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH) usai pencanangan Gerakan Nasional Periksa Tekanan Darah oleh Menteri Kesehatan di Istora Senayan.

    Kebiasaan makan serba asin itu menurut Dr Nani merupakan salah satu penyebab naiknya jumlah penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi di negara berkembang. Bahkan dibandingkan negara maju yang identik dengan asal muasal junk food atau makanan sampah, hipertensi di negara berkembang justru lebih banyak.

    Menurut Dr Nani, kebiasaan makan makanan serba asin termasuk juga mi instan bukan hanya karena kurangnya edukasi tentang bahaya hipertensi. Kadang sudah tahu risikonya, tetapi karena faktor ekonomi dan daya beli yang terbatas di negara berkembang akhirnya masyarakatnya tidak punya pilihan selain mengonsumsi makanan yang banyak garamnya.

    "Orang di negara maju bisa memilih mau makan apa, di negara berkembang tidak. Kalau kita mau teliti, itu di daerah-daerah justru lebih banyak yang hipertensi. Makan ikan asin, mi instan. Karena tidak punya pilihan, untuk makan fresh fruit misalnya," tambah Dr Nani yang sehari-hari bekerja di RS Jantung Harapan Kita.

    Untuk mengurangi asupan garam di masyarakat, Dr Nani mendukung salah satu usulan pemerintah untuk mewajibkan pencantuman kadar garam pada makanan seperti junk food dan mi instan. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, melarang warung-warung makan dan restoran menyediakan garam di meja makan demi kesehatan para pelanggannya.

    "Biar selalu sadar (kalau ada label garamnya), misalnya kalau mau makan 'oh garamnya banyak juga ya'," jelas Dr Nani.




      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 11:06 am