Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Studi: Bayi Banyak Berkeringat Justru Lebih Tenang

    Share

    kuning

    557
    07.10.09

    Studi: Bayi Banyak Berkeringat Justru Lebih Tenang

    Post  kuning on Fri May 03, 2013 9:16 am


    Orang tua seringkali khawatir jika bayinya mengeluarkan keringat terlalu banyak. Ibu, tak perlu khawatir itu adalah tanda bahwa anak akan menjadi balita yang tenang.

    Dikutip dari Dailymail, para ilmuwan telah menemukan bahwa anak berusia 1 tahun yang berkeringat lebih ketika menghadapi situasi menakutkan akan menunjukkan agresi yang rendah dari anak-anak lain, pada saat mereka tiga. Monitor keringat yang melekat pada kaki bayi berguna untuk mengukur reaksi mereka terhadap suara keras dan rangsangan ketakutan terhadap robot-robot mekanik.

    Para peneliti membandingkan hasilnya dengan perilaku anak-anak, seperti yang dinilai oleh ibu mereka, ketika mereka mencapai usia tiga tahun. Hal ini menunjukkan bahwa bayi dengan reaksi fisik yang kuat untuk rasa takut dan marah memiliki agresivitas rendah secara fisik dan verbal ketika mereka balita.

    Profesor Stefanie van Goozen, dari Cardiff University's school of psychology mengatakan, bayi dengan sedikit keringat saat gugup lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku antisosial ketika balita. Stefanie berkata, "Anak agresif mungkin memiliki gairah tingkat rendah secara fisiologis karena mereka tidak mengalami tingkat yang sama dari rangsangan emosional dalam menanggapi situasi menakutkan seperti teman-teman mereka kurang agresif," ujarnya.

    "Karena mereka memiliki respon takut yang lemah, mereka lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku antisosial," kata Prof Stefanie. Dia menjelaskan dalam rangka untuk berperilaku agresif Anda relatif hanya merasa sedikit takut.

    "Anda berani untuk menjadi agresif dan tidak ditahan oleh kekhawatiran bahwa orang lain akan lebih agresif pada Anda," tambanya. Menurutnya, kebanyakan orang tidak agresif karena mereka takut konsekuensi dari agresi mereka.

    Antisipasi dari berbagai bentuk hukuman menghentikan kita untuk lebih agresif. Ia pun menambahkan, "Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat kemungkina untuk mengidentifikasi anak-anak yang berisiko, jauh sebelum perilaku bermasalah dapat diamati.

    "Mengidentifikasi prekursor gangguan dalam konteks perkembangan yang khas dapat menginformasikan pelaksanaan program pencegahan yang efektif dan pada akhirnya mengurangi biaya psikologis dan ekonomi perilaku antisosial kepada masyarakat," jelas Prof Stefanie. Tingkatan keringat dipantau oleh aktivitas konduktansi kulit (Skin Conductance Activity) yang mengontrol bagaimana tubuh atau fisik bereaksi ketika terangsang oleh rasa takut atau marah.

    Tapi Profesor van Goozen mengatakan ilmu pengetahuan belum menemukan mengapa beberapa bayi memiliki reaksi fisik yang kuat untuk takut pada orang lain. Satu teori adalah bahwa hal itu mungkin juga bersifat genetik dan bahwa agresi pada balita dapat diturunkan melalui keluarga.

    Profesor Adrian Raine, Ketua Departemen Kriminologi di University of Pennsylvania pun tak ketinggalan. Ia mengatakan bahwa temuan terbaru Stefanie van Goozen menunjukkan hasil yang kuat dalam prediksi agresi kedepannya melalui pengukuran ini.

    "Jika hasil baru ini dapat direplikasi dan diperluas untuk usia lain, mereka memiliki implikasi potensial penting untuk prediksi masa depan mengenai perilaku agresif dan kekerasan," kata Prof Adrian. Mereka menyoroti kesanggupan dalam pengukuran tindakan biologis juga dalam pemahaman penyebab dari perilaku tidak takut terhadap sikap agresif.




      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 2:56 pm