Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Tue Sep 27, 2016 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Bayi Anda Berkeringat Saat Ketakutan?

    Share

    online

    452
    27.08.09

    Bayi Anda Berkeringat Saat Ketakutan?

    Post  online on Mon May 06, 2013 12:43 pm


    Apakah bayi Anda berkeringat saat merasa ketakutan? Jika ya, jangan khawatir, sebab itu justru pertanda baik. Pasalnya, para ilmuwan menemukan bahwa bayi yang berusia 12 bulan dan berkeringat saat menghadapi situasi menakutkan akan menunjukkan sikap yang lebih tenang (kalem) dibandingkan anak lain saat mereka berusia 3 tahun.

    Pemantauan keringat ini dilakukan pada kaki bayi untuk mengukur reaksi mereka terhadap suara keras dan rasa takut, termasuk robot mekanik.

    Para ilmuwan, seperti dikutip situs Daily Mail edisi 1 Mei 2013, membandingkan hasil tersebut dengan perilaku anak-anak, seperti diungkapkan oleh ibu mereka, saat anak-anak balita itu mencapai usia 3 tahun. Hasilnya, anak-anak yang mempunyai reaksi fisik yang kuat terhadap rasa takut dan marah ternyata cenderung kurang agresif secara fisik maupun verbal, ketika mereka berusia 3 tahun.

    Profesor Stefanie van Goozen dari School of Psychology di Cardiff University mengatakan bahwa bayi dengan saraf keringat yang lebih sedikit ternyata lebih cenderung bersikap antisosial saat balita. "Anak-anak yang agresif kemungkinan mempunyai level gairah psikologis yang lebih rendah karena mereka tidak mengalami level gairah emosional yang sama saat merespons situasi menakutkan sehingga mereka kurang agresif dibandingkan teman-temannya," ujar Goozen.

    Ditambahkan Goozen, "Karena mereka mempunyai respons rasa takut yang lebih rendah, mereka lebih cenderung berperilaku antisosial." Untuk bersikap agresif, dia melanjutkan, "Anda memerlukan rasa takut yang sedikit, Anda akan tertantang untuk agresif dan Anda tidak khawatir bahwa orang lain bisa bersikap agresif terhadap Anda."

    "Banyak orang tidak bersikap agresif karena mereka khawatir konsekuensi dari agresivitas mereka," ujar Goozen. "Antisipasi dari sikap agresif berupa hukuman juga membuat kita berhenti untuk bersikap agresif."

    Temuan ini, kata Goozen, menunjukkan, mungkin untuk mengidentifikasi risiko pada anak-anak jauh sebelum masalah perilaku tersebut muncul ke permukaan.

    Menanggapi temuan itu, Profesor Adrian Raine, Ketua Department of Criminology di University of Pennsylvania, mengatakan bahwa hasil riset Goozen itu sangat kuat dalam menunjukkan bahwa pengukuran psikologis secara obyektif bisa memprediksi agresivitas di kemudian hari, melebihi metode pengukuran lainnya.

    "Jika temuan baru ini bisa direplikasi dan diperluas untuk usia yang lebih tua, mereka berpotensi mempunyai implikasi penting untuk prediksi agresivitas pada masa depan dan perilaku kekerasan," kata Prof Raine. "Temuan ini juga menjanjikan pengukuran biologis dalam pemahaman yang lebih baik sebagai penyebab perilaku agresif tanpa ketakutan."





      Waktu sekarang Fri Sep 30, 2016 12:03 am