Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Yesterday at 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA

Paid2YouTube.com

    Arca Joko Dolog, Warisan Majapahit yang Terlupakan

    Share

    zuko

    150
    25.06.11

    Arca Joko Dolog, Warisan Majapahit yang Terlupakan

    Post  zuko on Mon Jun 17, 2013 7:34 am

    Papan nama benda cagar budaya Arca Joko Dolog
    Berkeliling Kota Tua Surabaya seakan tak ada bosannya. Ada banyak destinasi sejarah menarik yang sering didatangi wisatawan di kota ini. Salah satu di antaranya adalah Arca Joko Dolog.

    Kunjungan kami ke Surabaya kali ini menuju kawasan Jalan Pemuda Surabaya. Di kawasan yang menjadi jantung Kota Buaya ini kita dapat menjumpai beberapa destinasi menarik, antara lain yaitu Balai Pemuda, Gedung Negara Grahadi, Patung Gubernur Suryo, dan Arca Joko Dolog.

    Destinasi yang menarik perhatian kami adalah Arca Joko Dolog, karena usia benda yang sudah terbilang ratusan tahun ini, konon merupakan bukti sejarah purbakala sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit. Di samping itu, arca ini seolah menjadi patung monumental belaka yang terabaikan begitu saja di kota metropolis seperti Surabaya.

    Sebab itulah kami meluangkan waktu sejenak untuk menengok dan menggali informasi lebih dalam tentang arca ini. Memasuki tempat arca ini terasa teduh. Udara sekitarnya juga terasa segar, mungkin karena keberadaan pohon beringin tua yang rindang. Selain menjadi peneduh, pohon ini menciptakan suasana mistis. Ditambah aroma bau Lidi Yuswa dari para pengunjung yang umumnya kaum Tionghoa menambah suasana mistis yang ada di tempat ini. Saat kami datang, tidak banyak pengunjung, paling hanya beberapa orang Tionghoa yang sedang melakukan ritual bakar Lidi Yuswa saja.

    Arca Joko Dolog adalah sebuah bentuk penghormatan terakhir Raden Wijaya yang merupakan raja pertama kerajaan Majapahit sebagai keturunan Ken Arok, yang merupakan raja pertama Kerajaan Singosari terhadap mendiang Prabu Kertanegara yang menjadi raja terakhir Kerajaan Singosari kala itu. Arca ini sebenarnya merupakan perwujudan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari atau yang kita kenal dengan Kerajaan Singosari. Dengan kepiawaian Mpu Baradha sebuah patung yang sebenarnya lebih mirip patung Buddha ini akhirnya berhasil diciptakan.

    Sebagian sejarawan berpendapat, bahwa Arca Joko Dolog dipelihara Raden Wijaya dan ditempatkan di salah satu komplek candi Majapahit yakni Candi Jawi. Sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap Kertanegara selaku leluhur Raden wijaya. Prabu Kertanegara dikenal sangat berani melawan kerajaan asing yang mencoba menaklukannya. Terbukti beliau telah berani melukai telinga utusan Raja Kubilai Khan dari negeri Mongolia.

    Raden Wijaya semakin memantapkan kedudukannya, dan mendirikan singgasana di Hutan Tarik yang kala itu banyak ditumbuhi buah-buahan "Maja" yang rasanya "Pahit". Selanjutnya kawasan tadi dinamakan "Majapahit". Dengan begitu, Raden Wijaya menjadi pendiri sekaligus raja pertama Majapahit.

    Setelahnya, arca ini sempat terkubur dalam tanah. Di bagian atasnya tertutup oleh tumpukan kayu jati yang masih berupa kayu bulat atau gelondongan. Seorang warga pribumi yang secara tak sengaja menemukan arca yang tertimbun dalam tanah dan di atasnya terdapat tumpukan kayu jati gelondongan atau dolog kemudian dia menyebutnya Jogo Dolog.

    Berita ini akhirnya tersiar kemana-mana dari mulut ke mulut, kata "jogo" berubah menjadi "joko" akibat salah pengucapan. Begitu seterusnya, sehingga arca tersebut dinamakan Joko Dolog seperti sekarang ini. Arca Joko Dolog terbuat dari batu Andesit (semacam batu gunung).

    Raden Wijaya kala itu sebagai pendiri Majapahit sengaja mempersembahkan arca ini bagi anak keturunannya kelak, untuk menghormati mendiang Prabu Kertanegara sebagai raja terakhir Kerajaan Singosari. Hal ini terbukti dari cara beliau merawat dan menyimpan arca ini di salah satu komplek candi yang dibangunnya yaitu Candi Jawi.

    Di bagian bawah arca tertulis Bahasa Sansekerta yang merupakan Bahasa Jawa Kuno dengan pahatan yang sangat halus dan indah, yang menceritakan keinginan luhur Prabu Kertanegara dalam mempersatukan beberapa wilayah di Jawa Timur yang saat itu bernama Daha (Kediri) dan Tumapel (Malang) serta\'\' beberapa daerah lainnya hingga meluas seperti Jawa Timur sekarang ini.

    Rupanya kala itupun seorang arsitek purba seperti Mpu Baradha bukan hanya sanggup mencipta sebuah karya seni patung tingkat tinggi. Lebih dari itu beliau juga mampu menuliskan pesan bagi generasi-generasi berikutnya lewat pahatan batu andesit tentang arti penting persatuan dan kesatuan wilayah, meski masih dalam lingkup daerah yang lebih kecil, yaitu wilayah Jawa Timur.

    Bangsa Belanda yang sempat menjajah negara ini memang sangat sekarang. Tidak hanya kekayaan alam bumi pertiwi ini yang dieksploitir dan diangkut ke negaranya, rupanya beberapa benda purbakala pun turut diangkut ke sana. Di masa pendudukan kolonial Belanda, arca ini hampir saja menjadi koleksi Museum Leiden, Belanda.

    Untungnya arca ini tidak jadi dibawa ke Belanda, sehingga generasi penerus bangsa ini masih bisa menyaksikan keberadaannya. Namun karena sesuatu hal Belanda tidak jadi membawanya. Kemudian ditinggalkan begitu saja pada sebuah tempat di Surabaya, semacam museum Belanda yang sekarang dijadikan tempat SMU Trimurti, Surabaya.

    Arca Joko Dolog merupakan perwujudan Prabu Kertanegara



    Arca Joko Dolog


    Gedung Negara Grahadi di Jalan Pemuda Surabaya yang letaknya tidak jauh dari Arca Joko Dolog


    Gedung Balai Pemuda yang berada di Jalan Pemuda. Sekarang jadi kantor pusat turisme di Surabaya. Letaknya berdekatan dengan Grahadi dan Joko Dolog
    Bagi traveler yang ingin melihat benda purbakala warisan nenek moyang ini, bisa datang ke jantung kota Surabaya, di Taman Apsari, Jalan Pemuda Surabaya. Keberadaannya menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya kota Pahlawan, Surabaya. Seolah hanya sebagai monumen sejarah purbakala yang terlampaui begitu saja.

    Hiruk-pikuk, lalu-lalang orang berkendara seolah tak pernah menghiraukan keberadaannya. Ya, mungkin orang menganggapnya cuma batu monumental belaka yang sama sekali kurang menarik di era hightech seperti sekarang ini. Bagi Anda warga Surabaya dan sekitarnya yang masih berminat menelusuri situs-situs purbakala, Arca Joko Dolog bisa menjadi salah satu objek wisata sejarah budaya dan bahan studi kepurbakalaan.

      Waktu sekarang Sun Sep 25, 2016 2:12 pm