Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Yesterday at 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA

Paid2YouTube.com

    Makan Ulat Sagu, Biarkan Lumer di Mulutmu

    Share

    via

    848
    04.03.09

    Makan Ulat Sagu, Biarkan Lumer di Mulutmu

    Post  via on Fri Jul 19, 2013 9:17 am


    Ulat sagu, makanan khas Suku Kamoro

    Pastikan Anda mampir kalau digelar Festival Kamoro di Timika, Papua. Di dalam festival ini, wisatawan berkesempatan mencicipi makanan unik, ulat sagu. Nikmati sensasi ulat gemuk ini yang lumer di dalam mulut kita. Sepintas jijik, tapi rasanya enak!

    Tim Dream Destination Papua 2 menikmati Festival Kamoro selama dua hari, 9-10 Maret 2013 di Rimba Golf Papua, Kuala Kencana, Timika, Papua. Selama dua hari itu digelar aneka acara seru mulai dari tarian, para pria menabuh tifa, mengolah sagu dan memasak makanan mulai dari ikan bakar sampai olahan sagu.

    Saya memperhatikan beberapa mama, sebutan untuk ibu-ibu di Papua sedang asyik dengan tusuk sate dan sebuah baskom merah besar. Apa kira-kira isinya?

    Rupanya ada ulat-ulat besar segemuk ibu jari di dalam baskom itu, jumlahnya mencapai puluhan ekor dan masih hidup. Inilah yang disebut warga Kamoro sebagai ulat sagu. Ulat sagu adalah salah satu bahan makanan dan sumber protein penting untuk mereka.

    Untuk mereka yang asing, mungkin jijik rasanya melihat ulat-ulat gemuk itu akan dimakan. Tapi serius, kandungan gizinya tidak diragukan lagi.

    "Ulat sagu bisa dimakan mentah, tapi bisa juga dibakar dulu. Itu lebih enak," ujar seorang mama, sambil menusuk ulat sagu menjadi sate.

    Oh iya, kepala ulat sagu sangat keras dan tidak dimakan. Nanti cara memakannya adalah pegang kepalanya, gigit badannya, dan kepalanya lantas dibuang.

    Puluhan tusuk sate ulat sagu pun kini berpindah ke atas panggangan. Para mama mengipasi arang, sementara para pria menari dan menabuh tifa, gendang khas Papua. Suasananya semakin ramai.

    Nah, akhirnya ulat sagu pun siap. Huff! Huff! Kami meniup ulat sagu panas yang baru diangkat dari panggangan. Kulit ulat tampak putih berkilatan sekarang karena terpanggang, tapi tetap gemuk.

    Hap, saya pun melahap ulat sagu itu. Bagaimana rasanya?

    Yang pertama saya rasakan adalah kenyal. Tekstur kulitnya seperti karet, namun daging di dalamnya seperti lemak. Rasanya nyaris tawar dengan sedikit beraroma seperti nangka. Karena ini pengalaman pertama saya, agak sulit juga mengunyah kulitnya dengan daging ulat yang lumer di dalam mulut kita.

    Sungguh makanan unik dan tiada dua. Variasi lain dari ulat sagu ini dimakan dengan sagu dan dibungkus daun seperti pepes. Ulat sagu pun semakin berasa.

    Jika lain kali Anda datang ke Festival Kamoro, pastikan ulat sagu khas Suku Kamoro menjadi makan siang Anda!


    Para mama mempersiapkan ulat sagu dengan tusuk sate


    Yang lain menyiapkan sagu untuk dimakan bersama ulat sagu


    Ulat sagu siap untuk dipanggang


    Para mama membakar ulat sagu di atas panggangan



      Waktu sekarang Sun Sep 25, 2016 5:40 am