Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    10 Ritual Budaya Aneh yang Masih Dilakukan Hingga Kini

    Share

    via

    851
    04.03.09

    10 Ritual Budaya Aneh yang Masih Dilakukan Hingga Kini

    Post  via on Sun Jul 28, 2013 5:18 pm

    Sejak adanya peradaban manusia, banyak sekali ritual-ritual yang telah dilakukan. Dimulai dari ritual sederhana seperti beribadah hingga ritual mengerikan yang menyangkut nyawa seseorang. Beberapa ritual sudah tidak dilakukan, namun ternyata ada ritual-ritual aneh dan tabu yang masih dilakukan hingga sekarang. Berikut 10 ritual budaya aneh yang masih terjadi dan eksis hingga sekarang ini.

    10. Timiti


    Timiti merupakan sebuah ritual berjalan di atas api dalam festival Hindu yang berasal dari Tamil Nadu, India Selatan. Mungkin Anda pernah melihatnya di Indonesia, baik itu di film ataupun secara nyata karena memang ritual ini juga ada di Indonesia.

    Ritual ini juga secara nyata masih dilakukan dalam festival Nine Emperor Gods yang dirayakan di Penang, Malaysia. Salah satu ritual penyucian mencakup berjalan di atas api dengan bertelanjang kaki. Mereka percaya bahwa api akan membersihkan kenajisan dan melawan kejahatan dari tubuh mereka. Jadi, berjalan di atas api menyimbolkan kekuatan pria dan seberapa kuat keinginannya untuk membebaskan diri mereka dari kejahatan.

    9. Pengurbanan Anak Kecil (Child Sacrifice)


    Pengurbanan manusia yang pernah dilakukan oleh Suku Aztec merupakan sebuah tindakan pelanggaran hukum atas kemanusiaan sekarang ini. Tapi di awal abad 21, Uganda memunculkan kembali hal ini dengan melakukan pengurbanan anak kecil. Investigasi pemerintahan menemukan bahwa ritual ini lebih sering terjadi daripada yang dibayangkan.

    Hal ini ternyata dilakukan oleh politikus-politikus dan orang-orang kaya sebagai kepercayaan atas praktik voodoo dan agama-agama tradisional (terdahulu). Hal ini telah menjadi sebuah usaha komersial. Walaupun banyak orang yang mengecam akan hal ini, ritual ini tetap dilakukan karena kurangnya pembiayaan resmi untuk menentang hal ini. Sebenarnya child sacrifice bukanlah sebuah ritual budaya, hal ini disebut begitu sebagai sebuah alat agar pemerintahan tidak usah mengambil aksi dan pembelaan bagi orang yang melakukannya.

    8. Sky Burial (Penguburan Langit)


    Di Tibet, Kaum Budhists melakukan sebuah ritual suci yang aneh. Mereka menyebutnya sebagai Jhator atau Sky Burial. Kaum ini percaya bahwa tidak perlu sebuah tubuh dipertahankan sesudah kematian karena adanya siklus reinkarnasi, yang dimana roh dari orang terkait sudah bergerak ke alam berikutnya.

    Oleh karena itu, mayat dari orang yang sudah meninggal akan dibawa ke tanah terbuka dengan ketinggian yang sangat tinggi. Mayat ini akan dijadikan sedekah bagi pemakan bangkai, seperti burung bangkai misalnya. Untuk membuat ritual ini dijalankan dengan cepat dan menghabiskan mayat tersebut dengan cepat, seorang spesialis akan memotong mayat tersebut menjadi bagian-bagian kecil dan menyebarkannya untuk dimakan.

    7. The Sun Dance (Tarian Matahari)


    Pribumi asli Amerika (Native Americans) diketahui telah melakukan banyak ritual untuk menghargai Roh Bumi. Ritual-ritual yang mereka lakukan ditujukan untuk berdoa kepada Roh Besar sembari menyiksa diri merka dengan mempertahankan komunikasi langsung ke Pohon Kehidupan.

    Ritual ini dilakukan dengan menusuk tembus kulit dada mereka dengan sebuah tusukan menyerupai tusukan sate (skewer). Tusukan tersebut terhubung dengan sebuah tiang melalui sebuah tali yang menyimbolkan Pohon Kehidupan. Lalu, para partisipan dari ritual ini diharapkan untuk bergerak mundur untuk mencoba membebaskan diri mereka dari tusukan tersebut, yang tentunya sangatlah sakit karena kulit mereka akan tertarik. Tarian ini akan terjadi selama beberapa jam.

    6. Menari Bersama Mayat


    Famadihana, yang berarti "Pengembalian Para Tulang" merupakan sebuah festival tradisional di Madagaskar. Para partisipan percaya bahwa semakin cepat sebuah tubuh terurai (membusuk), maka semakin cepat juga jiwanya mencapai kehidupan selanjutnya.

    Oleh karena itu, mereka melakukan ritual ini dengan menggali kembali orang tercinta mereka (yang sebelumnya sudah terkubur), menari bersama mayatnya dengan musik di sekitarkuburan dan menguburkannya kembali. Ritual aneh ini dilakukan setiap 2 sampai 7 tahun sekali. Uniknya, para partisipan sadar bahwa mereka tidak dapat berkomunikasi dengan yang sudah meninggal, tetapi mereka percaya bahwa ritual ini dapat memperkuat hubungan di generasi mereka.

    5. Ritual Pemakaman (Funeral Rite) Suku Yanomami


    Dalam menghadapi kematian seseorang, Suku Yanomami di Amazon percaya bahwa ada sebuah ritual yang harus mereka lakukan. Ritual ini sendiri dibagi menjadi 3 tahap, pertama suku Yanomami akan menunjukkan kemarahan dan kesedian dengan memasukkan tobacco ke dalam mulut mereka. Kemudian mayat akan dikremasi karena mereka percaya bahwa dengan mengubur mayat tersebut maka itu berarti mereka meninggalkannya daripada membebaskannya.

    Yang aneh dan mengerikan adalah tahap terakhir dari ritual ini. Sesudah mayat dikremasi, maka abu hasil kremasi akan dimakan dengan cara digabungkan bersama pisang yang sudah dikremasi. Mereka melakukan ini untuk memastikan agar roh orang yang meninggal akan tinggal bersama mereka.

    4. Scarification (Cicatrization)


    Sebuah suku di Papua dengan nama Suku Kaningara melakukan sebuah praktik yang dikenal dengan nama scarification. Scarification adalah sebuah ritual yang mencakup mencakar, menggores, membakar, mecap, atau secara dangkal membuat sebuah desain dengan memotong ke kulit dari si subjek ritual untuk mengubah bentuk tubuh. Suku Kaningara melakukan ini dengan tujuan menguatkan hubungan mereka dengan lingkungan mereka.

    Walaupun hal ini dilakukan oleh orang ahli, scarification sangatlah berbahaya. Selain dari rasa sakit yang akan diarasakan, scarification memiliki resiko tinggi akan infeksi dan trauma ke kulit. Hal ini dilakukan oleh pemotong ahli ke seseorang dari suku mereka yang sudah dianggap mencapai kedewasaannya. Scarification ini adalah bukti dari kedewasaannya. Scarification juga dilakukan di Ethiopia.

    3. Impaling



    Festival tahunan vegetarian (annual vegetarian festival) di Phuket, Thailand, merupakan salah satu festival paling mengerikan yang pernah ada, bahkan penontonnya saja dapat merasakan rasa sakit dengan menonton festival ini.

    Selama 10 hari, para penduduk Thai-Chinese di Phuket akan menjadi vegetarian dengan tujuan untuk membersihkan diri mereka. Namun tidak hanya itu saja, para partisipan akan mendorong masuk tombak, pedang, pisau, kail, atau bahkan pistol ke pipi mereka. Mereka percaya bahwa Yang Di Atas (Para Dewa) akan masuk ke tubuh mereka saat ritual ini dilakukan, melindungi mereka dari yang jahat dan membawa keberuntungan bagi komunitas mereka.

    2. Nekropagi


    Jika Anda mengetahui istilah kanibal sebagai suatu kejadian dimana seseorang memakan sesamanya (manusia lainnya), maka nekropagi adalah hal yang serupa. Hanya saja nekropagi dilakukan terhadap sebuah mayat. Ritual ini masih dilakukan oleh suku Aghori, yang tinggal di kota Varanasi, India. Mereka percaya bahwa ketakutan tertinggi umat manusia adalah kematian mereka sendiri, dengan menghadapi hal ini maka seseorang dapat mencapi pencerahan.

    Mayat-mayat ini mereka dapatkan dari sungai. Bagaimana sebuah mayat bisa di sungai? Mayat yang ada di sungai ini adalah mayat-mayat yang tidak dikremasi di agama Hindu, yakni orang suci, anak di bawah 5 tahun, ibu hamil, orang dengan penyakit leprosy atau chicken pox, dan orang yang bunuh diri. Orang-orang yang meninggal dalam salah satu 5 kondisi inilah yang biasa pad akhirnya menjadi makanan suku Aghori. Selain dari ini, mereka juga terkadang mendapatkan mayat dari tanah kremasi.

    Mayat-mayat yang mereka dapatkan ini dapat mereka makan secara langsung (mentah) atau dimasak dengan api terbuka. Suku Aghori percaya ini bukanlah sesuatu yang tabu, bahkan merupakan pendekatan ilmiah untuk menemukan bagaimana sebenarnya siklus kehidupan terjadi dan mendekatkan mereka ke pencerahan.

    1. Kanibalisme


    Merupakan sebuah praktik memakan daging atau organ tubuh manusia. Kanibalisme merupakan sebuah bentuk primitif dari Nekropagi yang lebih mengerikan dan kejam. Jika di nekropagi manusia yang dimakan adalah manusia yang telah mati dalam waktu relatif lama (mayat), maka kanibalisme adalah memakan manusia tanpa peduli apakah manusia itu masih hidup atau tidak. Jika ia masih hidup, bunuh saja dan langsung dimakan, itulah praktik kanibalisme.

    Salah satu suku yang masih melakukan ritual ini adalah Suku Korowai, Papua Tenggara. Dalam suku tersebut ada sebuah peraturan dimana jika diketahui seseorang melakukan praktik dukun atau bahkan seorang dukun, ia akan disiksa, dibunuh lalu dimakan. Bahkan ada yang mengatakan otaknya biasa langsung dimakan, saat masih hangat. Para antropologis percaya bahwa sekarang ini ritual ini sudah jarang dilakukan,

    source: tahupedia.com



      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 11:20 pm