Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    TELAGA KEHIDUPAN

    Share

    lily.putih

    120
    Age : 37
    10.08.09

    TELAGA KEHIDUPAN

    Post  lily.putih on Mon Aug 10, 2009 2:31 pm

    Untuk anak dan suamiku

    Aku tengah berada di sebuah telaga yang menjajikan kedamaian.
    Dengan Bahtera yang ku tumpangi tak bosannya aku mengayuh dayung.
    Mengeksplorasi setiap sudut telaga. Beberapa ikan berlompatan, berenang dan
    berkejaran. Rumput-rumput yang menjulur ke air, bagaikan jemari penari yang
    meliuk-liuk.

    Setiap berada di telaga ini, aku selalu merasa nyaman. Mungkin keteduhan dari
    rimbunnya pepohononan di tepi telaga memberi efek dingin. Dan air telaga itu
    sendiri yang berwarna campuran hijau dan biru pun memberi kesan adem.

    Kicau burung di kejauhan dan sinar mentari yang menerangi sekeliling telaga,
    memberikan kehangatan yang terasa sampai ke dalam jiwa. Setelah lelah seharian
    beraktivitas, menumpangi bahtera dan berkeliling telaga, selalu mampu
    mengembalikan ketenangan jiwa dan energi yang sudah tertumpah.

    Di sekeliling telaga ini, aku bisa menikmati penuh suasana ditengah
    orang-orang ku cintai dan mencintaiku. Oh…yah, aku lupa bercerita, aku dan
    keluargaku sudah cukup lama tinggal di telaga ini. Telaga ini bukan telaga
    alam tapi telaga buatan. Aku dan suami selalu bercita-cita memberikan
    lingkungan kehidupan yang sehat dan menyenangkan bagi keluarga yang akan kami
    bangun.

    Ketika komitmen kami terucap untuk mengisi kehidupan di hari mendatang
    bersama-sama, maka kami sepakat membangun telaga ini sebagai tempat tinggal
    kami. Di telaga ini, kami lengkapi taman bermain yang setiap saat, aku, suami
    dan anakku bisa berinteraksi. Bersenda gurau sekaligus mengeksplorasi fisik dan
    jiwa anakku.

    Di saat-saat senggang aku membiasakan bernyanyi bersama-sama. Aku tahu
    suaraku tak semerdu Mariah Carey atau Ruth Sahanaya . Yang aku tahu, suarku
    mampu memberikan ketenangan bagi jiwa anakku. Di bawah rindangnya pohon,
    beralas tikar pandan kami bernyanyi bersahut-sahutan.

    Ku biarkan anakku bergumam sendiri karena itu dapat mengembangkan daya cipta
    dan kreasi mereka. Aku dan suami hanya sesekali membetulkan kata atau arti yang
    pas agar enak di dengar. Suara bening kami menyatu dengan kicau burung yang
    seakan ingin turut melengkapi kebahagiaan kami.

    Setiap hari di sekeliling telaga ini dipenuhi suara-suara kami. Ada tawa,
    tangis, teriakan marah, jeritan kesal atau tangis bahagia. Ada kalanya perang
    mulut, saling mengolok-olok dan bisanya diakhiri dengan berpelukan, bergulingan
    di rerumputan. Kaki-kaki kecil anakku tak hentinya berjalan atau berlalri,
    mengitari telaga ini. Tak sekali atau dua kali mereka pulang dengan kaki atau
    tangan yang luka. Baik karena jatuh atau kena duri.

    Aku dan suami secara bergantian membersihkan dan mengobati lukanya. Aku tahu,
    satu pelajaran kehidupan sudah anakku dapati hari ini. Semoga besok lusa anakku
    lebih berhati-hati. Bukankah guru yang paling baik adalah pengalaman?

    Bila aku dan suami merasa lelah dan tertekan karena bekerja seharian, telaga
    ini menjadi curahan jiwa. Aku bisa berteriak sekeras-kerasnya, paling tidak
    cara ini, bagiku dapat sedikit melegakan himpitan sesak di dada. Suamiku bisa
    berlari sepuluh atau dua puluh kali mengeliling telaga ini untuk menuntasan
    emosinya. Dengan begitu ketika kami berkumpul dengan anak, kami tidak membawa
    kekesalan dari luar.

    Kami sangat menyadari tidak semua keinginan kami bisa terwujud tapi
    mensyukuri apa yang sudah kami peroleh dalam hidup ini, membantu kami
    menghargai apa yang sudah kami miliki. Salah satunya telaga ini, kami membiarkn
    bahkan memberikan izin bagi orang-orang yang ingin menikmati telaga ini bahkan
    kami sangat menyarankan mereka membangun telaga serupa.

    Kami sudah membuktikan telaga yang kami bangun selalu memanggil kami pulang.
    Telaga yang menjanjikan air kehidupan yang memberikan ketenangan jiwa bisa
    dimiliki siapa saja, karena sesungguhnya telaga itu adalah Telaga Kehidupan.
    Setiap orang bisa memiliki telaga kehidupan yang sesungguhnya yaitu keluarga.
    Keluarga menanti dan selalu menanti kita pulang. Kemanapun kita pergi Telaga
    Kehidupan kita tetap milik kita.

    Penghuni telaga adalah kita sendiri, melestarikan telaga kehidupan bisa kita
    lakukan dengan senantiasa menghidupkan kesadaran akan perlunya aturan main.
    Kedisiplinan dapat membantu kita menjaga, Telaga Kehidupan kita. Dengan
    menghargai, merawat dengan cinta dan kasih sayang, lingkungan kehidupan di
    sekitar telaga akan tumbuh dan berkembang menjadi satu lingkungan yang sehat
    dan menyenangkan. Aku percaya dari lingkungan yang sehat dan nyaman, cikal
    bakal masyarakat yang beradab dan santun dapat dilahirkan. Aku bertekad untuk
    terus melestarikan Telaga Kehidupanku.

    Akan kubiarkan anak-anakku belajar tentang kehidupan dari alam karena alam
    sesungguhnya adalah sumber ilmu yang tak pernah habis. Menghargai alam sama
    dengan menghargai kehidupan itu sendiri. Dan satu hal yang ku sadari bersikap
    bijaksana tidak dapat diajarkan tapi bersikap bijaksana hanya dapat dipelajari.

    Karenanya aku tak dapat mengajarkan anak-anakku untuk bersikap bijaksana,
    tapi aku yakin mereka mampu belajar bersikap bijaksana. Semoga Telaga Kehidupan
    yang aku dan suamiku bangun untuk keluarga kami bisa menjadi sumber
    pembelajaran bagi anak-anakku mengenai kehidupan itu sendiri.

      Waktu sekarang Sun Dec 04, 2016 11:15 pm