Y3hoo Forum Bicara Cinta

Selamat Datang di Portal Y3hoo



terima kasih atas kunjungan anda


Forum Gaul dan Informasi

Y3hoo Multi Bahasa

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Ngobrol Via Twitter

Latest topics

» Cabai, Metode Baru Kikis Lemak Perut
Today at 5:47 am by kuning

» Cara Menangani Anak yang Sulit Makan
Yesterday at 9:52 am by lea

» Bahaya Punya Poni Samping
Yesterday at 9:38 am by lea

» 5 Cara Unik PDKT yang Sulit Ditolak Pria
Sat May 19, 2012 2:08 am by kuning

» Ayo Makan Tepat Waktu Biar Nggak Gampang Gendut!
Sat May 19, 2012 2:04 am by kuning

» Bisnis Menggiurkan: Jasa Persewaan Pacar
Fri May 18, 2012 7:12 am by flade

» Jantung Sehat dengan Makan Ikan Dua Kali Seminggu
Thu May 17, 2012 9:11 am by via

» Facebook Bisa Buat Orang Khawatirkan Bentuk Tubuh
Thu May 17, 2012 9:08 am by via

» Kenali 5 Tanda Pasangan yang Cemburu Buta
Wed May 16, 2012 6:54 am by via

Sponsor Y3hoo

Bisnis Dahsyat tanpa modal

Image hosted by servimg.com
Image hosted by servimg.com
Image hosted by servimg.com
Kontak Jodoh
Image hosted by servimg.com

    Militer yang Sukses di Sepakbola

    Share

    andy

    4
    14.08.09

    Militer yang Sukses di Sepakbola

    Post  andy on Fri Aug 14, 2009 8:42 pm

    Pelatih Sriwijaya FC Rahmad Darmawan



    PALEMBANG - Kapten Rahmad Darmawan rasanya pantas mendapat predikat sebagai pelatih fenomenal. Anggota militer aktif ini membawa Sriwijaya FC Palembang meraih prestasi sehingga patut diacungi jempol.

    Prestasi itu adalah merebut kejuaraan Liga Djarum Indonesia dan Copa Dji Sam Soe belum lama ini hingga disebut double winner pada musim kompetisi tahun lalu. Ini merupakan rekor baru.
    Kemudian di musim kompetisi tahun ini, ia kembali menorehkan rekor baru. Dua kali berturut-turut tim yang dilatihnya, kesebelasan Wong Kito, meraih juara Copa. Prestasi mengawinkan dua piala dalam satu musim tersebut merupakan catatan fantastis dan fenomenal dalam sejarah sepakbola Indonesia, terlebih bagi Sumatera Selatan (Sumsel) yang baru tiga tahun memiliki sebuah klub profesional.
    Sukses tim berjuluk ”Laskar Wong Kito” ini tidak lepas dari peran pria berusia 42 tahun ini. Dua tahun berturut-turut menggondol juara Copa merupakan rekor yang belum pernah ada sebelumnya.
    Pengalamannya sebagai pemain di lapangan hijau berpadu dengan ilmu kepelatihan, merupakan bekal Rahmad, setelah sebelumnya mengawaki Persijatim (Persija Jakarta Timur). Ilmu kepelatihan diperolehnya saat kuliah di IKIP Jakarta Jurusan Kepelatihan, serta sejumlah kursus internasional.
    “Melatih sepakbola bukan hanya harus memiliki pengetahuan dan kemampuan tentang dasar-dasar ilmu kepelatihan sepakbola. Tidak juga hanya menyangkut cara bermain, membentuk fisik prima, tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah psikologi kepelatihan. Yang terakhir ini bahkan sangat dominan ketika dihadapkan pada kendala-kendala di luar teknik sepakbola,” ujar Rahmad, saat ditemui SH di sela-sela penandatanganan kontrak pemain 21 SFC yang tahun ini digelari The Dream Team di rumah dinas Gubernur Sumsel Griya Agung, pekan lalu.
    Bagi Rahmad, faktor psikologis tidak bisa ditawar. Saat melatih Persipura Jayapura, ia selalu mengikuti acara religius yang rutin dilakukan oleh pemain menjelang pertandingan. Hasilnya, ia mengantarkan “Mutiara Hitam” ke panggung juara Liga Indonesia 2005. Latar belakangnya sebagai anggota Marinir (kapten aktif) terkadang digunakan untuk menegakkan disiplin, seperti saat seorang pemain terlambat datang latihan. Namun karena cara ini tidak berhasil, dia kemudian mengubah pola pendekatan.
    Di Sriwijaya FC, Rahmad menerapkan cara sedikit berbeda, tetapi tetap bermuara pada faktor psikologis pemain. Dia memadukan pendekatan kekeluargaan dan profesional. Setiap pemain adalah bagian keluarga, tidak ada yang dianakemaskan ataupun dianaktirikan.
    Prestasi gemilang untuk pelatih lokal di tengah banjirnya “arsitek” asing sempat membuatnya dicalonkan menangani tim nasional menggantikan Ivan Kolev walau kemudian PSSI lebih memilih Benny Dollo.Rahmad dilahirkan sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara di Punggur, Metro.
    Sebetulnya putra pasangan H Sumardi dan Hj Koesila itu pada kelas III SD tidak bercita-cita menggeluti sepakbola. Dia lebih memilih bulutangkis menjadi olahraga kegemarannya. Dia meninggalkan bulutangkis ketika kelas VI karena lapangan yang ada di depan rumahnya lebih banyak dipakai oleh orang tua. "Akhirnya saya bersama teman-teman bermain sepak bola," kata perwira staf administrasi personalia Lantamal III ini.
    Pemberian bola dan sepatu bola dari sang ayah yang dibelinya di Palembang membuat segalanya berubah. Minatnya pun berganti ke sepakbola yang di kemudian hari melambungkan namanya. Ia juga tidak merasa resah meski karier kemiliteran jadi tertinggal dari teman-teman seangkatannya.
    Bagi Cek Mad, demikian warga Kota Palembang kerap menyapanya, kedua orang tuanya paling berjasa dalam menuntunnya ke sepakbola. Sejumlah nama lain, seperti Tarehatta (kini pelatih di UKI Jakarta), Maruli Sianipar (mantan manajer Tim Persija), dan Hindarto (pelatih Persija) pun di matanya sangat berperan dan mendominasi dalam kariernya sebagai pemaian maupun pelatih. Rahmad juga memberi apresiasi tinggi kepada istrinya Eti Yuliawati (38), serta dua anaknya Febia Aldina Darmawan (14) dan Ravaldi Agung Darmawan (9).

    Jangan Rusuh
    ”Saya ingin membawa SFC ke jenjang atas persepakbolaan nasional, menjadikan tim yang disegani dan sarat prestasi,” ujar lulusan SMA Negeri Kota Gajah, Metro, itu. Namun, pria yang bertutur lembut dan rendah hati ini mengaku prihatin atas kerapnya terjadi kerusuhan di tengah lapangan baik karena kepemimpinan wasit maupun ulah pemain yang berlebihan. Padahal, sikap dan mental pemain di lapangan sangatlah penting. Terhadap keputusan wasit yang merugikan timnya, Rahmad menekankan agar pemain jangan larut dan ikut-ikutan melakukan protes.
    “(Bermain) sepakbola memerlukan konsentrasi tinggi. Semakin sering pemain melakukan protes, mengakibatkan konsentrasi buyar. Kalau sudah demikian, bersiaplah menerima kekalahan karena lawan akan memanfaatkan momen tersebut,” ujar alumni IKIP Negeri Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta), Fakultas Pendidikan Olahraga Jurusan Kepelatihan tahun 1990 ini. Rahmad yang dipanggil Cek Mad ini masuk ke IKIP lewat jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK).

    sisi lain

    Punya Suara Emas
    LAGU “Aku Mau” milik Once “Dewa” melantun dari atas panggung di ruangan Griya Agung, rumah dinas Gubernur Sumatera Selatan. Tepukan pun menggema. Jika tak melihat siapa yang menyanyi, mungkin ada yang salah terka, dikira Once yang tampil di ruangan itu. Padahal, yang di atas panggung itu adalah pelatih SFC, Rahmad Darmawan.
    Suara emasnya itu didendangkan untuk sang istri, terlebih saat mereka mengisi waktu-waktu kosong. Namun, ternyata sang istri, Eti Yuliawati (38), mengaku tertarik kepada Rahmad bukan karena suara merdu itu, melainkan karena kehebatan Rahmad di bidang sepak bola. Kebetulan ia berkenalan dengan Eti karena Eti punya hobi nonton Persija di Stadion Menteng. Eti kebetulan merupakan adik ipar dari Kamarudin Beta, salah seorang pemain bola yang cukup disegani kala itu.
    Pada tahun 1990, Rahmad mengantongi sarjana IKIP, lalu ditawari masuk wamil karena ketika itu TNI punya PS ABRI yang bermain di Galatama. Hingga 1997, Rahmad memperkuat berbagai tim sampai akhirnya mengalami cedera lutut kiri saat memperkuat Persikota dan akhirnya memutuskan full sebagai pelatih.

    siongirl
    Admiral

    1842
    Age: 31
    Lokasi: surabaya
    18.01.09

    Re: Militer yang Sukses di Sepakbola

    Post  siongirl on Fri Oct 09, 2009 9:55 am

    hmmm..tyt talentanya bnyk bapak yg satu ini ya Smile

      Waktu sekarang Mon May 21, 2012 5:49 am