Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Kisah Wanita Amerika yang Tinggal dalam Tabung Besi Selama 61 Tahun

    Share

    Amanda_juliana

    62
    09.07.13

    Kisah Wanita Amerika yang Tinggal dalam Tabung Besi Selama 61 Tahun

    Post  Amanda_juliana on Fri Oct 11, 2013 7:47 am


    Karena terserang polio, seorang wanita terpaksa menghabiskan hampir seumur hidupnya untuk tinggal di dalam sebuah tabung besi setelah penyakit itu membuatnya lumpuh total. Meski hanya berada dalam tabung, wanita asal Amerika ini mengaku telah mencapai banyak hal.

    61 tahun sudah wanita bernama Martha Mason ini terbaring di dalam sebuah tabung besi di rumahnya. Ini bukan sembarang tabung, melainkan sejenis ventilator yang berfungsi meningkatkan dan menurunkan tekanan udara agar paru-parunya mengembang serta\'\'\' berkontraksi karena otot paru-paru Martha terlalu lemah.

    Tabung yang kemudian lebih sering disebut dengan 'iron lung' (paru-paru besi) ini memiliki panjang 7 kaki dan berbahan besi seberat 363 kilogram yang menutupi seluruh tubuh Martha, kecuali kepalanya.

    Oddity Central melaporkan Martha mulai lumpuh ketika usianya baru 11 tahun akibat polio. Beberapa saat sebelumnya, sang kakak Gaston juga meninggal dunia karena penyakit ini. Setelah kakaknya dikebumikan, Martha seketika menyadari jika ia juga memiliki gejala yang sama dengan Gaston. Namun rasa sakit itu Martha pendam sendiri agar orangtuanya tak bertambah sedih.

    Dalam sebuah video yang direkam sebelum Martha meninggal dunia pada tahun 2009, wanita ini menuturkan, "Saya sering bertanya-tanya bagaimana perasaan orangtua saya ketika saya jatuh sakit. Mereka baru saja mengubur putra mereka. Bahkan banyak yang berasumsi jika kedua orangtua saya akan hidup lebih lama dari saya. Apalagi dokter mengatakan mungkin saya hanya bertahan maksimal selama setahun, tapi berkat 'paru-paru besi' ini saya bisa hidup sampai sekarang."

    Orang-orang di sekitar Martha yang mendengar dan mengamati tentang kehidupannya pun mengatakan jika rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginannya untuk bisa hidup normal yang begitu tinggi tampaknya telah menjadi kunci panjang umur Martha.

    Tapi pencapaian hidup Martha tak kalah dengan orang-orang yang hidup dengan normal, terlepas dari kondisi fisiknya yang mengenaskan. Martha yang lahir pada tahun 1937 dan tinggal di Lattimore, Carolina Utara ini pun akhirnya berhasil menuntaskan jenjang SMA-nya setelah sekian lama, bahkan menggelar pesta bersama teman-temannya untuk merayakan kelulusannya itu.

    Dalam tabung yang sama, Martha juga berhasil menuntaskan sebuah buku berjudul 'Breath: Life in the Rhythm of an Iron Lung. Untuk membuat buku ini, ia dibantu oleh software pengenalan suara yang diperkenalkan kepadanya. "Hidup seperti ini telah menjadi hal yang normal bagi saya. Saya bahkan tak memikirkannya sama sekali," katanya seperti dilansir Daily Mail.

    Bagi Martha, tinggal di dalam 'paru-paru besi' itu juga memberinya kebebasan karena alat ini membiarkannya bernapas tanpa menggunakan selang atau sayatan di tenggorokannya, ataupun memaksanya tinggal di rumah sakit. "Mesin yang mengambil alih fungsi diafragma ini seperti halnya kantung udara yang besar. Sebenarnya ada metode ventilasi lainnya, tapi saya lebih memilih yang ini," tandas Martha dalam video yang sama.

    Martha dan 'paru-paru besinya' lebih memilih tinggal di rumah dengan dibantu dua orang asisten rumah tangga. Dan semua urusan rumah tangga dikendalikan sendiri oleh Martha dari dalam tabung besinya.

    Pasca kematian Martha, salah seorang rekannya yang juga profesor dari Wake Forest University, Mary Dalton pun mengenang sahabatnya itu dengan mengatakan, "Ia tinggal di dalam mesin ini jauh lebih lama dari siapapun di dunia. Awalnya bentuk dan suara 'paru-paru besi' yang bising ini begitu mengganggu, tapi seketika Anda berbicara dengan Martha, semua itu jadi seperti 'hilang' karena Anda akan terkesima dengan semangat hidupnya."

    "Ia pun mengatakan jika ia berhasil bertahan hidup selama bertahun-tahun, sedangkan banyak pasien lainnya yang meninggal karena perhatian dari orangtua dan komunitasnya yang diberikan kepadanya, dan karena ia selalu terdorong untuk terus semangat belajar," tutupnya.

    - detikHealth


      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 1:26 am