Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Yesterday at 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA

Paid2YouTube.com

    Agar Anak Bisa Cerdas Berperilaku dan Berperilaku Cerdas

    Share

    bibang

    108
    20.08.11

    Agar Anak Bisa Cerdas Berperilaku dan Berperilaku Cerdas

    Post  bibang on Sun Nov 24, 2013 10:08 am


    Kecerdasan si kecil kerap kali dikaitkan dengan kemampuan akademis atau logika matematikanya. Padahal, kecerdasan juga erat kaitannya dengan perilaku anak-anak, sehingga terdapatlah istilah berperilaku cerdas dan cerdas berperilaku.

    "Berperilaku cerdas itu mampu menyelesaikan masalah dengan tepat, cepat, dan benar, banyak sekali akalnya, punya alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan, cerdas berperilaku yaitu dia bisa adaptif, misal di rumah lari-lari waktu diajak bertamu dia bisa adaptif menyesuaikan diri," terang Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA(K), ketua divisi tumbuh kembang bidang ilmu kesehatan anak FK UNAIR/RSU Dr Soetomo, Surabaya.

    Dua kemampuan itu, menurut dokter yang akrab disapa dr Wawan ini, harus dibentuk sedini mungkin terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan anak. Orang tua perlu membentuk kemampuan melihat, mendengar, dan menyentuh anak dengan baik di tahun pertamanya.

    Terdapat dua kunci di 1.000 hari pertama yang merupakan awal pembentukan otak anak yaitu nutrisi dan stimulasi. Nutrisi terdiri dari mikronutrien yaitu mineral terutama zat besi dan vitamin. Kemudian, makronutrien seperti karbohidrat sebagai sumber energi, lemak dan asam lemak seperti AA, DHA dan omega 3 sebagai energi serta\' bahan pembentuk sel otak, serta\' protein.

    "Nah, salah satu protein yang terbaik adalah yang ada di ASI. Maka dari itu, kebutuhan nutrisi terbaik yang dibutuhkan anak yaitu yang terkandung di ASI," kata dr Wawan. Hal itu disampaikan dr Wawan di sela-sela seminar 'Siap Cerdaskan si Kecil Sejak Dini' di Kuningan City, Jakarta.

    Setelah memberi nutrisi yang tepat dan seimbang, maka diperlukan stimulasi. Stimulasi adalah kegiatan memberi pengalaman pada anak. Stimulasi akan membantu membentuk struktur otak anak jika dilakukan sedini mungkin, rutin, dan dilakukan melalui kegiatan sehari-hari, minimal setengah atau satu jam asal tiap hari dilakukan.

    Contohnya, dengan mengajak anak tersenyum atau bermain bersama untuk mengasah kreativitasnya. Selanjutnya, sampai usia enam tahun maka diperlukan pengembangan kemampuan motorik kasar, motorik halus, berbahasa dan berkomunikasi serta\' bersosialisasi.

    "Struktur otak anak sudah dibentuk sampai 95 persen ketika dia berusia enam tahun. Aspek perkembangan perilaku dan kecerdasan tidak bisa dibentuk secara instan," papar dr Wawan.

    dr Wawan menambahkan, anak usia nol sampai satu tahun biasanya akan menjiplak apa yang dilakukan orang tua. Tapi saat usia satu sampai tiga tahun, anak akan menjadi apa yang dia inginkan. "Makanya bunda yang punya anak satu sampai tiga tahun siap tahan emosi ya," ujar dr Wawan sembari tertawa.

    Ketika berusia tiga sampai enam tahun, karena otaknya sudah terbentuk hampir 95 persen maka anak akan menjadi apa yang dia imajinasikan.

    "Dia punya keinginan meniru yang luar biasa misalnya superman terbang. Makanya orang tua harus tegas, mana acara TV yang harus ditonton mana yang tidak boleh, karena kalau dia normal, dia pasti akan meniru apa yang dia lihat," jelas dr Wawan.

    "Nah, untuk menilai kecerdasan dan perilaku anak jangan berdasarkan perbandingan dengan anak lain, bukan penilaian sesaat, dan berdasarkan keinginan orang tua. Sebaiknya, nilailah secara rutin dan sesuaikan dengan tahapan usia anak. Jika dibutuhkan ayah atau bunda bisa berkonsultasi dengan dokter," papar dr Wawan.



      Waktu sekarang Sun Sep 25, 2016 3:53 pm