Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Jenis - Jenis Kertas Yang Sering Digunakan Dalam Dunia Percetakan
Fri Aug 18, 2017 1:34 pm by flade

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

IKLAN ANDA


    Kisah Taman Lawang di Jalan Latuharhary, Menteng

    Share
    avatar
    nailahakimah

    14
    13.11.13

    Kisah Taman Lawang di Jalan Latuharhary, Menteng

    Post  nailahakimah on Tue Nov 26, 2013 8:27 am


    Taman Lawang menjadi tempat mangkal favorit waria. Baik untuk sekadar bertemu sapa dengan waria lain, menjadi tempat berekspresi, atau pun menjadi tempat mengais rezeki.

    Tempat ini paling populer bagi waria di Jakarta. Taman di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ini berfungsi ganda. Di siang hari, taman ini akan terlihat seperti taman lainnya. Ada pedagang kaki lima menjajakan makanan dan suasana taman di malam hari menjadi tempat mangkal waria.

    Taman Lawang di Jalan Latuharhary ini dulunya oleh Belanda di Batavia menjadi proyek kota kecil yang disebut sebagai Niew Gondangdia (Menteng). Pola rancangan tersebut dibuat oleh seorang arsitek asal Belanda, P.A.J Moojen, pada 1910 yang telah disetujui oleh Gemeente (Kota Praja).

    Pembangunan Niew Gondangdia sendiri dimulai pada 1912 dan disempurnakan oleh F.J kubatz pada 1918. Perbedaan rancangan keduanya terletak pada peniadaan lapangan bundar, diganti dengan Taman Suropati yang jauh lebih kecil. Sisa lapangan luas tersebut kemudian hari dipakai untuk lapangan olahraga.

    Muncul pertanyaan, kenapa Taman Lawang menjadi tempat berkumpulnya waria? Di awal tahun 1970, para waria menjadikan Taman Lawang untuk berkumpul dan berbagai cerita tentang kehidupan mereka. Sebelumnya, sebutan waria pada tahun 1970 adalah wadam.

    Di kala itu para waria belum menjadikan Taman Lawang sebagai tempat prostitusi. Para waria tersebut bahkan tidak menjajakan diri mereka. Hingga kemudian pada sekitar tahun 1973, beberapa lelaki mulai menggoda dan merayu para waria dengan menawarkan uang. Hal itu tentunya juga menggoda waria untuk melakukan apa yang diminta para pria tersebut dan akhirnya berkelanjutan sampai sekarang.



      Waktu sekarang Mon Aug 21, 2017 1:35 pm