Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Tak Ingin Sakit Ketika Pensiun, Kurangi Stres Ketika Bekerja

    Share

    putri

    46
    27.06.11

    Tak Ingin Sakit Ketika Pensiun, Kurangi Stres Ketika Bekerja

    Post  putri on Sat Jan 11, 2014 8:15 am


    Stres memang musuh bersama setiap orang. Bukan saja karena perasaan pusing dan tegang yang dihasilkannya, namun stres juga dipercaya sebagai pemicu penyakit-penyakit berbahaya. Tak hanya penyakit, stres juga bisa memicu gangguan pada sistem saraf yang nantinya bisa berujung pada gangguan jiwa.

    Penelitian terbaru dari Finlandia bahkan menemukan efek stres lainnya. Dikatakan bahwa tegang dan stres pada pekerja, baik pada fisik maupun mental, akan berujung pada masalah kesehatan ketika seseorang berusia lanjut.

    Stres pada mental bisa dihasilkan oleh deadline yang ketat, tuntutan pekerjaan yang berat dan tidak ada pengendalian diri ketika bekerja. Sementara itu, stres fisik bisa berasal dari ketegangan otot, berkeringat berlebihan, serta\' keletihan yang mengakibatkan susah bernapas.

    "Stres akibat pekerjaan berbeda-beda untuk tiap orang. Ketika ada beberapa orang dengan pekerjaan yang sama mengeluh tentang stres, keluhan mereka bisa saja berbeda," ujar Mikaela von Bonsdorff, ketua tim peneliti dari University of Jyväskylä di Finlandia.

    Dikutip dari Reuters pada Senin (30/12/2013), von Bonsdorff menambahkan bahwa stres dan tegang ketika bekerja memang tidak bisa dihindarkan, namun jika terjadi secara terus menerus tanpa penanganan akan memunculkan masalah kesehatan yang berbahaya.

    Penelitian dilakukan dari tahun 1981 dengan mengambil sampel 5000 orang pekerja paruh baya di bidang publik. Lalu peneliti mengambil data dari rumah sakit nasional selama 28 tahun berikutnya. Hasilnya menunjukkan bahwa pekerja usia paruh baya yang sering tegang dan stres memiliki persentase dirawat di rumah sakit lebih sering.

    Dari tiap 1000 orang dengan tingkat stres yang rendah, mereka rata-rata hanya dirawat 8 hari tiap tahunnya. Sementara itu, pekerja dengan tingkat stres yang tinggi memiliki rata-rata 13 hari dirawat di rumah sakit, terutama karena ketengan dan stres fisik.

    "Yang menarik adalah tidak ada hubungan antara jenis pekerjaan yang Anda ambil. Tingkat stres dan ketegangan akan membawa Anda ke rumah sakit, terutama setelah Anda berumur 65 tahun," ujar von Bonsdorff yang juga mengajar tentang gerontology.

    Loretta Platts, kandidat doktoral dari Imperial College London, mengatakan bahwa stres pada pekerja dapat muncul dari pekerjaan apapun. Meski begitu, ia mengakui bahwa pekerjaan di bidang jasa untuk kelas menengah memiliki risiko stres fisik yang lebih besar. Contohnya adalah supir, tukang, pelayan, koki, serta\' pramuniaga.

    "Penyebabnya mungkin adalah terbentuknya gangguan pada otot dan tulang akibat pekerjaan yang menggunakan tenaga fisik. Hal ini biasanya menyebabkan nyeri dan sakit yang bisa berujung pada osteoarthritis (rematik) pada usia tua," terangnya.

    Platts juga menambahkan bahwa stres pada mental pun bisa membawa akibat berbahaya. Menurutnya, stres dan tegang pada kondisi mental seseorang dapat memicu penyakit jantung, salah satu penyakit berbahaya yang dapat mengancam nyawa manusia.

    Meski begitu, Platts berharap bahwa penelitian ini bisa dilakukan di tempat lain. Alasannya adalah subjek penelitian yang berasal dari negara eropa yang notabene standar kehidupannya lebih baik dari benua-benua lain.

    "Bisa saja hasilnya berbeda ketika dilakukan penelitian di pekerja swasta pada negara dengan perekonomian yang lebih lemah," pungkasnya.


      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 8:46 pm