Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Waspada, Hobi dan Kebiasaan Pun Bisa Jadi Kecanduan

    Share

    putri

    46
    27.06.11

    Waspada, Hobi dan Kebiasaan Pun Bisa Jadi Kecanduan

    Post  putri on Mon Jan 20, 2014 10:19 am


    Niatnya hanya untuk mencari hiburan atau sekadar mengisi waktu di kala senggang, hobi tentu memberikan kesibukan tersendiri. Tapi jangan sampai asyik sendiri, apalagi sampai porsinya berlebihan karena hobi atau kebiasaan pun bisa jadi penyebab kecanduan.

    Cek beberapa hobi yang bila tak dikontrol akan berubah jadi gangguan mental dan kecanduan seperti dikutip dari Huffingtonpost, berikut ini.

    1. Kecanduan judi
    Dari berbagai jenis perilaku kecanduan, kecanduan pada judi merupakan salah satu yang paling mendekati gejala kecanduan obat-obatan dan alkohol. Kendati American Psychiatric Association (APA) baru-baru ini menggolongkan kecanduan judi pada 'gangguan kontrol impulsif', namun belakangan organisasi ini berupaya mempertimbangkan kembali untuk mengubah klasifikasinya menjadi 'gangguan adiktif'.

    Faktanya, beberapa studi memperlihatkan bahwa kecanduan judi 'menyalakan' bagian otak yang sama dengan yang terlihat pada pecandu narkoba. Bahkan terapi untuk kecanduan judi biasanya juga hampir sama dengan yang diberikan pada pecandu narkoba atau alkohol.

    2. Kecanduan seks
    Sejatinya kecanduan seks belum digolongkan secara resmi ke dalam 'gangguan adiksi atau kecanduan', kendati metode pengobatan untuk gangguan ini sudah ada. APA sendiri tengah mempertimbangkan untuk memasukkan perilaku seksual adiktif dalam update Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders dengan nama 'gangguan perilaku hiperseksual'.

    Gejala gangguan ini antara lain kehilangan kontrol dan tak mempedulikan risiko maupun konsekuensi dari seks berlebihan, sangat mirip dengan gejala kecanduan pada umumnya.

    Terapi pengobatannya juga sama dengan yang diberikan pada pecandu narkoba, alkohol hingga judi, yaitu program 12 langkah seperti yang dilakukan organisasi Sex Addicts Anonymous untuk memulihkan kecanduan seks.

    3. Kecanduan internet
    Internet seperti sudah tidak bisa dilepaskan dari kehidupan setiap orang, namun ternyata ada juga yang sampai mengatakan tak bisa hidup tanpa internet. Para psikolog sendiri tidak mengatakan bahwa kecanduan internet adalah salah satu jenis kecanduan, meskipun mereka mengakui bila sebagian orang bermasalah dengan hal ini.

    Orang yang mengidap kecanduan internet juga memperlihatkan gejala kehilangan kontrol sehingga berdampak negatif terhadap pekerjaan dan kehidupan rumah tangganya.

    Sebuah studi bahkan menemukan penggunaan internet secara kompulsif terjadi pada 6-14 persen pengguna internet. Studi lainnya mengatakan seorang pecandu internet sanggup duduk di depan komputer hingga lebih dari 11 jam lamanya.

    4. Kecanduan belanja
    Belanja hanyalah contoh perilaku lain yang bisa membuat orang yang gemar melakukannya jadi kehilangan kontrol. Bila ini sudah terjadi, maka gila belanja ini bisa digolongkan dengan 'gangguan kontrol impulsif', tapi belum bisa dikatakan sebagai kecanduan.

    Pecandu belanja sebenarnya adalah orang-orang yang gemar membeli-beli sesuatu demi menghindari perasaan sedih. Kalaupun sudah membeli, mereka biasanya malah menyesal. Namun sejauh ini orang-orang semacam ini hanya dikatakan sebagai 'shopaholic', bukan pecandu.

    Beberapa studi pun mengatakan kegemaran belanja yang kompulsif lebih sering terjadi pada wanita, dan hal ini bisa menimbulkan masalah besar, entah pada kepribadian orang yang mengalaminya maupun kondisi finansialnya.

    Pengobatan untuk kecanduan belanja biasanya seputar konseling dan terapi perilaku.

    5. Kecanduan video game
    Menurut riset, kecanduan video game lebih banyak menyerang anak laki-laki maupun pria dewasa. Bahkan studi terbaru mengatakan 1 dari 10 penggemar video game berusia 8-18 tahun merasa games-nya seperti nyata.

    Bila menemukan orang yang mengalami kondisi ini, bisa diatasi dengan konseling rutin dan terapi modifikasi perilaku.

    6. Kecanduan operasi plastik
    Untuk mempercantik penampilannya, beberapa orang cenderung melakukan operasi plastik hingga berulang kali. Bahkan orang-orang ini rela mendatangi lebih dari satu dokter untuk menemukan dokter bedah plastik atau dermatologis yang mau mengoperasi mereka.

    Namun sebenarnya orang-orang ini tergolong ke dalam penderita 'gangguan dismorfik tubuh', bukannya kecanduan operasi plastik.

    Penderita 'body dysmorphic disorder' (BDD) sendiri jumlahnya mencapai 1-2 persen dari populasi dan lebih dari 15 persen pasien juga merasa kurang puas dengan penampilan fisiknya atau selalu merasa jelek.

    7. Kecanduan makanan
    Selama bertahun-tahun para pakar mendebatkan apakah obsesi terhadap makanan tertentu dapat digolongkan ke dalam kecanduan makanan, atau apakah label 'gangguan' ini hanya sekadar alasan. Yang jelas, 'binge eating disorder' merupakan masalah yang riil dan dialami tiga persen orang dewasa di AS saja.

    Gejalanya antara lain makan demi menenangkan emosi, berulang kali makan ketika sedang sendirian, dan merasa bersalah setelah makan banyak. Namun meskipun makanan sama halnya dengan narkoba bagi orang-orang yang mengidap gangguan makan, para pakar akhirnya sepakat bila ini tidak tergolong dalam kecanduan.

    Sejauh ini penyebab gangguan makan belum ditemukan, namun ada yang menduga ini erat kaitannya dengan depresi, bukannya kecanduan itu sendiri.

    8. Kecanduan perilaku berisiko
    Orang-orang yang mengidap kecanduan jenis ini sangat menyukai tantangan, bahkan kegemaran mereka terhadap skydiving atau panjat gunung hampir sama seperti narkoba bagi para pecandunya.

    Tak tanggung-tanggung, selesai melakukan satu kegiatan ekstrem, mereka langsung mencari lagi kegiatan berbahaya lainnya demi merasakan kegirangan yang sama.

    Berbagai studi juga menunjukkan sensasi yang mereka rasakan itu dilepaskan oleh zat kimiawi dari otak yang sama dengan yang dilepaskan obat adiktif atau narkoba.


      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 4:43 pm