Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Terkuak, Porsi Makan Bukan Penyebab Tubuh Melar

    Share

    sari_bunga

    14
    16.07.12

    Terkuak, Porsi Makan Bukan Penyebab Tubuh Melar

    Post  sari_bunga on Thu Jul 10, 2014 9:25 am


    Jangan lagi menyalahkan porsi makan saat tubuh Anda melar. Sebab, peneliti telah mengungkap itu bukan penyebab utama kenaikan berat badan. Masalahnya adalah olahraga.

    Studi yang diterbitkan di American Journal of Medicine menyebut, 20 tahun terakhir latihan fisik masyarakat Amerika menurun tajam. Sementara, konsumsi rata-rata kalori masih cenderung sama.

    Menurut data NHANES yang dikumpulkan peneliti di Stanford University, wanita yang mengaku tidak berolahraga di tahun 1994 jumlahnya 19,1 persen. Tahun 2010, angka itu naik menjadi 51,7 persen.

    Di tahun yang sama, pria yang mengaku tidak berolahraga ada 43,5 persen. Padahal di tahun 1994, jumlah pria yang menyempatkan waktunya untuk berolahraga jumlahnya hanya 11,4 persen.

    Dalam rentang waktu itu, Body Mass Index (BMI) pria dan wanita sama-sama naik.

    “Kami menemukan hubungan signifikan antara pemanfaatan waktu luang untuk olahraga, dengan peningkatan BMI dan lingkar pinggang,” kata Dr Uri Ladabaum, penulis studi, dalam Time.

    Profesor kedokteran dari Stanford University itu menambahkan, kalori tak berpengaruh. Namun perlu diketahui juga, data USDA mencatat peningkatan 500 kalori per hari sejak tahun 1970. Jika dibandingkan tahun 1980, konsumsi kalori masyarakat Amerika meningkat 800 kalori per hari.

    Uri mengakui, masyarakat Amerika memang mengandalkan kalori untuk makan. Itu juga merupakan komponen utama penambah berat badan. Namun, cara berdiet tidak selalu dengan menguranginya.

    Ahli gizi berpendapat, yang terpenting bukan menghindari karbohidrat seperti roti atau gula, yang kini menjadi makanan pokok kebanyakan orang. Lebih disarankan memperbaiki kualitas makanan.

    Jika ditambahkan penelitian Uri, tentu saja aktivitas fisik juga harus ditingkatkan.

    • VIVAlife


      Waktu sekarang Tue Dec 06, 2016 1:36 am