Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Tue Sep 27, 2016 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Proses Mumifikasi oleh Suku Angga

    Share

    alia

    75
    18.09.11

    Proses Mumifikasi oleh Suku Angga

    Post  alia on Sat Jul 26, 2014 9:22 am


    Proses Mumifikasi oleh Suku Angga (Foto:odditycentral)

    SELAMA berabad-abad, suku Angga yang ada di Papua Nugini telah berlatih teknik mumifikasi yang cukup unik. Setelah merokok, mumi tidak dimakamkan di kuburan atau makam, melainkan ditempatkan di tebing curam.

    Penempatan mereka dapat dilihat oleh semua warga desa yang ada di bawahnya. Dengan kondisi hangus atau berubah menjadi merah, dari kejauhan memang terlihat aneh, namun bagi orang suku Angga merupakan bentuk dari penghormatan tertinggi terhadap orang mati.

    Proses mumifikasi dapat dilakukan yang berpengalaman. Pada awalnya, lutut, siku dan kaki mayat disayat, kemudian lemak di dalam tubuhnya dikeringkan sepenuhnya. Kemudian tiang bambu yang telah disiapkan digunakan sebagai tempat mayat ini nantinya.

    Tahap berikutnya, bagian yang berlubang dari mayat dijahit mengurangi asupan udara dan mencegah pembusukan daging. Hal ini diyakini sebagai langkah yang dapat menjamin mumi dapat sempurna diawetkan selama berabad-abad. Telapak kaki, lidah, dan telapak tangan juga dipotong serta\' disajikan kepada keluarga yang masih hidup. Sisa mayat kemudian dibuang ke dalam lubang api.

    Setelah itu pebalsem menggunakan tanah liat melindungi tubuh mumi dari kerusakan dan pemulung. Proses ini masih dipertahankan dan dilakukan oleh suku Angga. Meski proses cukup menakutkan, namun mereka tetap mempertahankannya.

    Tak ayal, banyak wisatawan yang berusaha Mengabadikan mumi-mumi ini sebagai tanda mereka pernah mengunjungi Papua Nugini. Bukan hanya memiliki keindahan alam yang indah, namun adat tradisional di kawasan ini masih terjaga dengan baik, seperti dilansir Odditycentral.


      Waktu sekarang Sun Oct 02, 2016 12:16 am