Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

» Kisah Mengagumkan Bocah Miskin India Jadi Direktur Utama Google
Wed May 24, 2017 12:17 pm by jakarta

IKLAN ANDA


    Fenomena "Amnesia Digital" di Kalangan Pengguna Media Sosial

    Share
    avatar
    sari_bunga

    14
    16.07.12

    Fenomena "Amnesia Digital" di Kalangan Pengguna Media Sosial

    Post  sari_bunga on Wed Dec 31, 2014 1:05 pm


    SETIAP orang tentu memiliki momen spesial di saat-saat tertentu dalam hidup. Namun penelitian baru menyatakan bahwa, hampir dua pertiga pengguna media sosial berbohong untuk membuat hidup mereka tampak lebih menarik daripada kenyataan yang ada.

    Temuan ini telah membuat psikolog memperingatkan bahwa, beberapa orang dapat mengalami “amnesia digital”, di mana mereka lebih mempercayai kehidupan versi imajinasi mereka sendiri dan melupakan apa yang sebenarnya terjadi.

    Dengan berbohong di situs, seperti Facebook dan Twitter, pengguna dapat “menulis ulang” ingatan mereka. Dan hampir setengah dari responden survei tersebut mengaku mereka mengalami paranoia, kesedihan, dan rasa malu akibat tidak mampu hidup seperti gambar rekaan mereka.

    Kebiasaan pamer kita di media sosial mengakibatkan erosi yang dapat berbahaya identitas pribadi kita, menurut Dr Richard Sherry, psikolog klinis dan anggota\' pendiri Society for Neuropsychoanalysis, yang dikutip dari Dailymail.

    “Kebutuhan kita untuk mendokumentasikan dan membagi kehidupan kita adalah bagian dari sifat alamiah kita. Tetapi, kekuatan dan kelemahan dari media sosial perlu lebih dipahami oleh masyarakat,” kata Sherry.

    Penelitian terbaru menunjukkan bahwa, memori dapat dimodifikasi dan kurang akurat setiap kali kita mengambilnya dari pikiran\' kita. “Kompetitif itu normal, namun sisi gelap dari usaha penyesuaian sosial ini adalah ketika kita meniadakan apa yang otentik dari diri kita menjadi sesuatu yang berbeda dari realita,” jelasnya.

    "Ketika hal ini mulai terjadi, perasaan bersalah dan jijik terhadap diri kita sendiri dapat membuat masalah psikologis. Hal ini dapat memperburuk kepribadian tertentu, yang secara tidak langsung merusak," imbuhnya.

    Survei baru yang dilakukan oleh situs jejaring sosial Pencourage, menemukan bahwa 68 persen pengguna biasa memperindah, membesar-besarkan, atau berbohong ketika mendokumentasikan suatu momen di media sosial.

    Satu dari sepuluh mengakui ingatan mereka tentang peristiwa yang mereka posting di media sosial terdistorsi. Dan 16 persen peserta berusia 18 sampai 24 tahun menunjukkan gejala amnesia digital.


      Waktu sekarang Fri Jul 21, 2017 7:42 pm