Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Para Hackers Cantik
Sun Nov 12, 2017 2:24 pm by flade

» 3 Tips Ini Sukseskan Bisnis Kopi
Sat Nov 04, 2017 8:57 am by flade

» Akhir Pencarian Mbah Wongso, Warga Suriname Keturunan Jawa
Mon Oct 23, 2017 10:22 am by zuko

» Ini Cerita Move On Wanita yang Diputusin Jelang Nikah Usai Pacaran 9 Tahun
Wed Oct 11, 2017 8:17 am by flade

» inilah cara agar kita bisa memuaskan pasangan
Tue Oct 10, 2017 12:38 pm by shoponline69

» manfaat pills klg
Tue Oct 10, 2017 12:29 pm by shoponline69

» manfaat titan gel
Mon Oct 09, 2017 8:28 am by shoponline69

» manfaat titan gel
Mon Oct 09, 2017 8:24 am by shoponline69

» Gores Mobil Rp 1,4 M, Gadis Ini Malah Dapat Keberuntungan Tak Terduga
Mon Sep 25, 2017 5:35 pm by lea

IKLAN ANDA


    Fenomena "Amnesia Digital" di Kalangan Pengguna Media Sosial

    Share
    avatar
    sari_bunga

    14
    16.07.12

    Fenomena "Amnesia Digital" di Kalangan Pengguna Media Sosial

    Post  sari_bunga on Wed Dec 31, 2014 1:05 pm


    SETIAP orang tentu memiliki momen spesial di saat-saat tertentu dalam hidup. Namun penelitian baru menyatakan bahwa, hampir dua pertiga pengguna media sosial berbohong untuk membuat hidup mereka tampak lebih menarik daripada kenyataan yang ada.

    Temuan ini telah membuat psikolog memperingatkan bahwa, beberapa orang dapat mengalami “amnesia digital”, di mana mereka lebih mempercayai kehidupan versi imajinasi mereka sendiri dan melupakan apa yang sebenarnya terjadi.

    Dengan berbohong di situs, seperti Facebook dan Twitter, pengguna dapat “menulis ulang” ingatan mereka. Dan hampir setengah dari responden survei tersebut mengaku mereka mengalami paranoia, kesedihan, dan rasa malu akibat tidak mampu hidup seperti gambar rekaan mereka.

    Kebiasaan pamer kita di media sosial mengakibatkan erosi yang dapat berbahaya identitas pribadi kita, menurut Dr Richard Sherry, psikolog klinis dan anggota\' pendiri Society for Neuropsychoanalysis, yang dikutip dari Dailymail.

    “Kebutuhan kita untuk mendokumentasikan dan membagi kehidupan kita adalah bagian dari sifat alamiah kita. Tetapi, kekuatan dan kelemahan dari media sosial perlu lebih dipahami oleh masyarakat,” kata Sherry.

    Penelitian terbaru menunjukkan bahwa, memori dapat dimodifikasi dan kurang akurat setiap kali kita mengambilnya dari pikiran\' kita. “Kompetitif itu normal, namun sisi gelap dari usaha penyesuaian sosial ini adalah ketika kita meniadakan apa yang otentik dari diri kita menjadi sesuatu yang berbeda dari realita,” jelasnya.

    "Ketika hal ini mulai terjadi, perasaan bersalah dan jijik terhadap diri kita sendiri dapat membuat masalah psikologis. Hal ini dapat memperburuk kepribadian tertentu, yang secara tidak langsung merusak," imbuhnya.

    Survei baru yang dilakukan oleh situs jejaring sosial Pencourage, menemukan bahwa 68 persen pengguna biasa memperindah, membesar-besarkan, atau berbohong ketika mendokumentasikan suatu momen di media sosial.

    Satu dari sepuluh mengakui ingatan mereka tentang peristiwa yang mereka posting di media sosial terdistorsi. Dan 16 persen peserta berusia 18 sampai 24 tahun menunjukkan gejala amnesia digital.


      Waktu sekarang Sat Nov 18, 2017 9:26 am