Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Fenomena "Amnesia Digital" di Kalangan Pengguna Media Sosial

    Share

    sari_bunga

    14
    16.07.12

    Fenomena "Amnesia Digital" di Kalangan Pengguna Media Sosial

    Post  sari_bunga on Wed Dec 31, 2014 1:05 pm


    SETIAP orang tentu memiliki momen spesial di saat-saat tertentu dalam hidup. Namun penelitian baru menyatakan bahwa, hampir dua pertiga pengguna media sosial berbohong untuk membuat hidup mereka tampak lebih menarik daripada kenyataan yang ada.

    Temuan ini telah membuat psikolog memperingatkan bahwa, beberapa orang dapat mengalami “amnesia digital”, di mana mereka lebih mempercayai kehidupan versi imajinasi mereka sendiri dan melupakan apa yang sebenarnya terjadi.

    Dengan berbohong di situs, seperti Facebook dan Twitter, pengguna dapat “menulis ulang” ingatan mereka. Dan hampir setengah dari responden survei tersebut mengaku mereka mengalami paranoia, kesedihan, dan rasa malu akibat tidak mampu hidup seperti gambar rekaan mereka.

    Kebiasaan pamer kita di media sosial mengakibatkan erosi yang dapat berbahaya identitas pribadi kita, menurut Dr Richard Sherry, psikolog klinis dan anggota\' pendiri Society for Neuropsychoanalysis, yang dikutip dari Dailymail.

    “Kebutuhan kita untuk mendokumentasikan dan membagi kehidupan kita adalah bagian dari sifat alamiah kita. Tetapi, kekuatan dan kelemahan dari media sosial perlu lebih dipahami oleh masyarakat,” kata Sherry.

    Penelitian terbaru menunjukkan bahwa, memori dapat dimodifikasi dan kurang akurat setiap kali kita mengambilnya dari pikiran\' kita. “Kompetitif itu normal, namun sisi gelap dari usaha penyesuaian sosial ini adalah ketika kita meniadakan apa yang otentik dari diri kita menjadi sesuatu yang berbeda dari realita,” jelasnya.

    "Ketika hal ini mulai terjadi, perasaan bersalah dan jijik terhadap diri kita sendiri dapat membuat masalah psikologis. Hal ini dapat memperburuk kepribadian tertentu, yang secara tidak langsung merusak," imbuhnya.

    Survei baru yang dilakukan oleh situs jejaring sosial Pencourage, menemukan bahwa 68 persen pengguna biasa memperindah, membesar-besarkan, atau berbohong ketika mendokumentasikan suatu momen di media sosial.

    Satu dari sepuluh mengakui ingatan mereka tentang peristiwa yang mereka posting di media sosial terdistorsi. Dan 16 persen peserta berusia 18 sampai 24 tahun menunjukkan gejala amnesia digital.


      Waktu sekarang Sat Dec 03, 2016 10:40 pm