Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Inspirasi bagi yang lemah

    Share

    kellyn

    123
    25.01.09

    Inspirasi bagi yang lemah

    Post  kellyn on Fri Nov 06, 2009 7:53 am

    Fanny J. Crosby - Penulis Lagu yang buta (1820-1915)

    Bila Anda menyanyikan lagu rohani lama, yang sudah sangat Anda kenal, kemudian Anda melihat ke bagian bawah buku nyanyian Anda, boleh jadi Anda akan menemukan nama Fanny J. Crosby sebagai pengarangnya.

    Selama karirnya yang panjang, ia telah menulis lebih dari 8500 lagu rohani, banyak di antaranya masih sangat populer hingga sekarang. – misalnya Blessed Assurance ('Ku Berbahagia, KJ 392), Safe in the Arms of Lord (Selamat Di Tangan Tuhan, KJ 388), Pass Me Not, O Gentle Saviour (Mampirlah, dengar doaku, KJ 26), Lord, Keep Me Near the Cross (Pada Kaki SalibMu, KJ 368) – setiap lagu merupakan bukti kecintaannya terhadap Tuhan.
    Lagu ang sangat terkenal adalah: AMAZING GRACE dan telah diterjemahkan dalam ratusan bahasa.

    Fanny dilahirkan pada 24 Maret 1820 sebagai puteri keluarga John dan Mercy Crosby. Pada bulan Mei 1820, ketika ia masih berumur enam minggu, ia terkena demam, dan matanya agak terganggu. Dokternya di Putnam County, New York, sedang keluar kota, dan orang yang mengaku sebagai dokter salah memberikan pengobatan, hingga penglihatannya rusak dan tak bisa melihat lagi, orang itu lari meninggalkan kota karena panik.

    Fanny tidak pernah merasa dendam pada orang itu. “Tak pernah sesaat pun selama hidup saya yang lebih dari delapan puluh tahun terkilas kebencian padanya, karena saya percaya…bahwa Tuhan yang Mahabaik… dengan cara itu memberkati saya untuk pekerjaan yang masih boleh saya lakukan.”

    Orangtuanya, orang Kristen yang taat, membesarkan Fanny menjadi anak yang berbahagia dan percaya diri. Ia mengenakan pakaiannya sendiri, membereskan rambutnya sendiri, dan berlaku tertib tanpa cela. Fanny banyak menghabiskan waktunya dengan memanjat pohon, berkuda, dan menceritakan humor pada teman-temannya.

    Orang yang mempunyai pengaruh kuat pada masa kanak-kanak Fanny adalah neneknya. Sebagai wanita yang cerdas dan sabar, ia sering mengajak Fanny berjalan-jalan di alam terbuka, menceritakan setiap kuntum bunga dan daun-daun secara sangat rinci dan Fanny mempelajarinya dengan sentuhan-sentuhan jarinya. Ia memperkenalkan pada karya-karya sastera dan puisi. Dan yang terpenting, ia membacakan cerita-cerita dari Alkitab setiap hari.

    Walaupun mendapat pendidikan dengan penuh perhatian, kehausan Fanny akan pengetahuan tak pernah terpuaskan; ingatannya sangat luar biasa. Pada umur sepuluh tahun ia dapat mengingat sebagian besar Perjanjian Baru dan lima kitab Perjanjian Lama. Sayangnya, karena sekolah pada masa itu belum dilengkapi dengan perangkat untuk mengajar orang buta, ia tidak dapat memperoleh pendidikan umum.

    Fanny berlutut bersama neneknya dan berdoa: “Tuhan yang Mahabaik, tunjukkan pada saya bagaimana saya dapat belajar seperti anak-anak lain.” Tak lama kemudian ibunya menyampaikan berita menggembirakan tentang kesempatan untuk masuk ke Institut Bagi Orang Buta di New York.

    Dalam tahun itu juga, ia menjadi siswi terbaik dan setelah lulus ia menjadi guru di situ. Minat utamanya pada puisi, pada waktu senggang ia menuliskan puisi. Ketika Fanny berumur duapuluh, ia terkenal di New York dan menjadi pembicara yang banyak dicari untuk kutipan-kutipan puisi maupun untuk upacara-upacara resmi.

    Walaupun populer, ia merasakan ada sesuatu yang kurang pada hidupnya, terjadinya wabah kolera yang hebat pada tahun 1849 menunjukkan padanya apakah itu. Lebih dari separuh siswa-siswi di Institut mati, salah satunya mati di pelukannya. Setelah membantu merawat mereka yang sakit selama beberapa bulan, ia hampir tertular oleh penyakit itu dan ia mengungsi ke luar kota.

    Kematian teman-teman dekatnya sangat mengguncangkan Fanny. Di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia belum siap untuk mati. Pada 20 November 1850 ia berlutut di depan mimbar gereja dan memberikan hatinya kepada Yesus. Penulis biografi Basil Miller menceritakan kata-katanya: “Untuk pertama kali saya menyadari bahwa saya telah mencoba memegang dunia di salah satu tangan dan Tuhan di tangan yang lain.”Akhirnya, Tuhan yang diperkenalkan oleh neneknya menjadi nyata baginya.

    Puisi-pusinya mencerminkan perubahan di hatinya, dan lagu-lagu pujian menggantikan puisi-puisinya. Ketika ia bertemu dengan komponis Kristen William Bradbury pada tahun 1864, segera mereka bersahabat. Bradbury membuat lagu-lagu bagi banyak syair-syair Fanny; walaupun ia bekerja dengan banyak komponis, kerjasama mereka yang paling erat.

    Fanny biasanya mengarang puluhan lagu di kepalanya sebelum ia mendiktekannya pada sekretarisnya, tetapi bagaimana pun ia mencipta, ia selalu menggunakan cara yang sama. Ia menyebutkan caranya: “Mungkin cara ini kuno, yaitu selalu memulai pekerjaan dengan berdoa, saya tak pernah menuliskan lagu tanpa meminta pada Tuhan untuk menjadi sumber inspirasi saya.”

    Ia menerima banyak undangan untuk berbicara hingga ia kewalahan, dan orang terkenal seperti Presiden Polk sering memanggilnya. Dengan memiliki banyak teman dan relasi, ia tak pernah merasa kesepian. Pada tahun 1858, Tuhan memberikan padanya seorang yang istimewa dalam kehidupannya, yaitu musisi buta Alexander Van Alstyne. Mereka menikah selama 44 tahun dan mempunyai seorang anak yang meninggal pada waktu bayi.

    Walaupun pada akhir masa-masa hidupnya, Fanny tetap sibuk seperti biasa, bukan hanya dengan menulis lagu. Ia menaruh perhatian pada mereka yang kurang beruntung, dan ia bekerja sukarela pada pusat pelayanan lokal. Bila ada seseorang yang datang padanya dengan pertanyaan atau keperluan, ia selalu menemuinya secara pribadi dan membagikan padanya terang Firman Allah.

    Fanny wafat dengan tenang di rumahnya di Bridgeport, Connecticut, pada 12 Februari 1915. Kerumunan pada saat pemakamannya merupakan bukti pengaruhnya yang luas yang dimilikinya bagi Tuhan. Kata-kata ini berasal dari salah satu lagunya (Saved by Grace) yang menyatakan hal yang paling diharapkannya: “And I shall see Him face to face and tell the story – saved by grace. (Dan aku akan bertemu muka dengan-Nya dan menuturkan kisah - diselamatkan oleh anugerah.)”
    Kata-kata yang sangat populer yang pernah fanny ucapkan adalah saat ikatan diokter ahli syaraf mata mendatanginginya dan berniat memberinya cangkokan mata. Fanny berkata: aku hanya ingin melihat jika pertama yang aku pandang adalah TUHANKU...

    mila

    36
    05.10.09

    Re: Inspirasi bagi yang lemah

    Post  mila on Fri Nov 06, 2009 8:04 pm

    cerita yang sangat indah dan memberi inspirasi:)

    yang posting umur berapa ini?lucu sekali.. Smile

    smile
    Skin Care Club

    264
    Age : 36
    Lokasi : Jawa Barat
    18.01.09

    Re: Inspirasi bagi yang lemah

    Post  smile on Mon Nov 09, 2009 12:53 am

    Lebih Penting Dari Hadiah


    Seorang laki-laki pergi ke luar negeri untuk bekerja dan meninggalkan gadis tunangannya tersedu-sedu. "Jangan khawatir, aku akan menulis surat untukmu setiap hari", katanya. Selama bertahun-tahun laki-laki itu memang menulis surat untuk tunangannya. Tetapi karena dia senang dengan pekerjaannya, dia tidak merencanakan untuk pulang dalam waktu dekat.

    Suatu hari, dia menerima undangan pernikahan. Ternyata kekasihnya akan segera menikah. Dengan siapa ? Dengan tukang pos yang tiap hari mengantar surat yang dia tulis. Jarak pemisah telah membuat hati berubah.
    Lelaki malang itu merenung, "Lho, apa salahku. Aku mengiriminya surat-surat, coklat, dan bahkan bunga-bunga". Ketika dalam suatu hubungan terjadi masalah, daftar barang-barang yang telah diberikan atau hal-hal yang telah dilakukan untuk seseorang, akan tiba-tiba muncul untuk dipermasalahkan. Kita akan berkata "Saya telah memberimu ini dan itu... Saya telah melakukan semuanya demi kamu". Tampaknya cinta dapat dibuktikan secara mudah hanya dengan pemberian hadiah-hadiah dan perbuatan baik.

    Namun, walaupun hadiah-hadiah itu penting juga, cinta memerlukan hal yang mendasar: KEHADIRAN. Kehadiran sang kekasih, kehadiran orang yang dicintai. Pengamatan saya terhadap anggrek ibu saya dapat dijadikan contoh. Saat ibu saya pergi agak lama, bunga-bunga itu tampak tak subur dan banyak diantaranya yang layu. Tapi saat ia kembali hadir, bunga-bunga itu mekar dengan indahnya. Padahal ibu saya tidak melakukan hal-hal yang luar biasa. Ia hanya memberikan banyak waktunya untuk berbicara dan merawat mereka.

    Saya kira, orang lebih memerlukan kehadiran perhatian dan kepedulian. Cinta secara fundamental adalah sebuah komitmen terhadap seseorang. Kita dapat mempunyai komitmen terhadap bisnis, pekerjaan, hobi, olahraga, maupun keanggotaan di klub, tetapi dapat dikatakan dengan tegas: semua itu tidak dapat mencintai kita. Hanya orang lain yang dapat membalas cinta kita, dan untuk itu, komitmen tertinggi sebagai manusia adalah memberikan waktu kita dengan orang yang kita cintai. Dan karena manusia memerlukan kasih sayang dan makanan, hadiah-hadiah material hanya dapat - secara terbatas - membantu untuk mengembangkan cinta. Tapi itu semua tidak dapat menggantikan kehadiran pribadi, yang merupakan hadiah terbesar!

    Martha sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia yakin harus bekerja keras, karena ia mencintai ayahnya yang sedang sakit kanker. Dia harus membeli obat-oabatan yang mahal. Saudara-saudaranya yang lain tetap tinggal dengan ayah mereka hampir setiap saat. Mereka memandikannya, bernyanyi untuknya, menyuapi makan, ataupun sekedar menemani sang ayah

    Suatu hari Martha sakit hati. Dia mendengar sang ayah berkata kepada ibunya, "Semua anak-anak kita mencintaiku kecuali Martha". "Bagaimana mungkin?", pikir Martha. "Bukankah aku yang bekerja mati-matian untuk mendapatkan uang guna membeli semua obat-obatan? Saudara-saudaraku bahkan tidak berbagi sebesar yang aku berikan".

    Suatu hari, Martha pulang larut malam seperti biasanya. Dia mengintip untuk pertama kalinya, ke dalam kamar di mana ayahnya berbaring. Dia melihat ayahnya masih terjaga, maka dia memutuskan untuk datang mendekat di samping tempat tidur ayahnya. Ayahnya memegang kedua tangan Martha dan berkata, "Aku merindukanmu. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Tinggalah dan temani aku". Dan itu yang ia lakukan, semalaman ia tinggal menemani ayahnya, berpegang, menggenggam tangannya.

    Pagi harinya martha berkata pada semua orang, "Aku mengambil cuti. Aku ingin menemani Ayah. Mulai saat ini aku akan memandikan dan bernyanyi untuknya". Sebuah senyum bahagia muncul menghias wajah ayahnya. Kali ini ia tahu Martha mencintainya.
    __________________

    kellyn

    123
    25.01.09

    Re: Inspirasi bagi yang lemah

    Post  kellyn on Tue Nov 10, 2009 12:08 am

    Harapan: Berkat Yang Selalu Gratis!

    “Dunia ini penuh kemungkinan, dan selama ada kemungkinan, di sana ada harapan.”

    Leo Buscaglia, dalam Bus 9 To Paradise

    harapan

    Kita hanya akan kehilangan harapan jika kita sendiri menolak untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Pilihan kita hampir tidak terbatas. Harapan membuka pikiran kita pada kepercayaan diri bahwa kita mampu melakukan sesuatu. Sesuatu diluar dari rencana yang sudah kita buat. Ada kemungkinan-kemungkinan lain diluar rencana kita yang dapat kita pilih.

    Tetapi yang sering terjadi adalah kita lebih memilih untuk putus asa dan kehilangan harapan. Berbagai cara kita ciptakan untuk putus asa. Kita menganggap dunia kita akan berakhir ketika kita tidak mendapatkan sesuatu persis seperti yang kita inginkan. Kita menolak mencoba segala sesuatu sebelum kita sungguh-sungguh mengetahui apakah itu bermanfaat atau tidak. Kita menghendaki agar masa yang akan datang sama persis seperti masa lalu dan masa kini. Dengan beranggapan bahwa segala sesuatu tidak akan pernah berubah, maka kita pun tidak perlu berubah. Ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Lalu kita putus asa dan menyalahkan perubahan itu sendiri. Mengapa semua harus berubah?

    Ketika kita sudah menyalahkan perubahan itu sendiri, maka saat itulah kita menutup harapan kita. Kita menghilangkan semua pilihan kita. Kita menghapus semua kemungkinan-kemungkinan yang ada bagi diri kita sendiri. Bagi orang yang mau berubah, maka harapan selalu ada.

    Harapan adalah bagian dari diri kita yang tidak pernah menyerah. Yang mengetahui bahwa kita akan baik-baik saja dengan kepastian dan keyakinan. Harapan adalah bagian diri kita yang mengatakan, mungkin saat ini aku sedang menyusuri lorong gelap, tetapi aku yakin di ujung sana ada cahaya, meskipun aku belum melihatnya.

    Harapan sangat penting bagi kehidupan kita dan dunia ini. Inilah hadiah terindah yang kita miliki dan bisa kita manfaatkan setiap saat. Harapan inilah yang memelihara kita agar tetap hidup. Jika kita percaya pada masa depan kita, masa depan orang lain, dan masa depan dunia ini, kita akan mampu bertahan dalam keadaan saat ini dengan penuh keberanian dan kegembiraan. Meskipun kita hanya dapat melihat harapan pada saat yang baik, yakni hari ini, itu sudah cukup. Esok hari kita dapat berharap lagi untuk hari yang baik. Dunia ini memang sungguh penuh dengan segala kemungkinan dan harapan.

    gie

    174
    Age : 35
    05.03.09

    Meja Kayu

    Post  gie on Wed Nov 11, 2009 8:47 pm

    Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

    Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

    Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

    Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

    Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

    kellyn

    123
    25.01.09

    Re: Inspirasi bagi yang lemah

    Post  kellyn on Tue Nov 17, 2009 2:47 pm

    Fred Douglas benar-benar memulai hidupnya tanpa apa-apa. Bahkan ia tidak
    memiliki dirinya sendiri ketika masih dalam kandungan ibunya. Sebagai anak
    budak belian, ia sudah dijadikan jaminan untuk melunasi hutang majikan orang
    tuanya. Ia jarang bertemu ibunya kecuali pada malam hari dimana ibunya harus
    berjalan sejauh dua belas kilometer hanya untuk bertemu anaknya selama satu
    jam.

    Ia tidak mempunyai kesempatan belajar, karena pada jaman itu, para budak
    belian tidak diperbolehkan belajar menulis dan membaca. Namun, tanpa
    diketahui siapa pun, ia belajar membaca dan menulis. Dalam waktu singkat, ia
    sudah membuat malu teman-temannya yang berkulit putih dalam hal pelajaran.

    Pada usia 21 tahun, ia melarikan diri dari perbudakan dan bekerja sebagai
    seorang pesuruh di New York dan New Bedford. Di Nantucket, ia berpidato,
    mendesak dihapuskannya perbudakan. Kesan yang ditimbulkannya sedemikian baik
    sehingga ia diangkat menjadi agen Lembaga Anti Perbudakan di Massachussetts.

    Sementara ia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk
    memberikan ceramah, ia tetap belajar. Ia kemudian dikirim ke Eropa untuk
    berpidato dan menjalin persahabatan dengan beberapa orang Inggris yang
    kemudian memberinya 750 dolar untuk menebus kebebasannya sebagai seorang
    budak. Ia menerbitkan surat kabar di Rochester dan kelak memimpin New Era di
    Washington. Bertahun-tahun lamanya ia menjadi kepala District of Columbia
    dan bisa menandingi setiap orang kulit putih mana pun.

    Apakah keadaan Anda lebih buruk dari Fred Douglas pada waktu dilahirkan? (adapted from Orion Sweet Marden)
    Smile

    Sponsored content

    Re: Inspirasi bagi yang lemah

    Post  Sponsored content Today at 10:23 pm


      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 10:23 pm