Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Duwet di Bibir Generasi Anggur

    Share

    flade

    936
    23.09.09

    Duwet di Bibir Generasi Anggur

    Post  flade on Thu Jan 22, 2015 6:37 am


    Sebagian orang menyebut Duwet. Ada juga Juwet. Sebagian lagi menyebutnya Jamblang. Masa kecil orang yang kini berusia 40 tahunan ke atas, makan Duwet itu bisa jadi hal yang biasa. Pada 1970-an Duwet sangat populer. Kini buah itu kian langka dan makin terlupakan.

    Seperti apa Duwet? Bentuknya lonjong. Warnanya hitam kemerahan. Ada yang merah kehitaman. Mirip buah anggur. Duwet rasanya agak sepet. Ada manisnya. Ada asamnya. Nano-nano gitu. Ada orang yang makan Duwet dengan sedikit garam. Bahkan ada yang disertai sedikit terasi. Enak katanya. Tapi saya belum pernah mencoba makan Duwet dengan terasi.

    Duwet yang kini sulit dicari di pasar atau toko buah itu, Minggu (27/11) pagi meramaikan rumah saya. Adalah istri saya, Hana, yang beberapa tahun lalu menanam pohon Duwet di halaman belakang rumah. Duwet hitam dan Duwet putih. Nah, pohon Duwet yang hitam, rupanya berbuah lebat. Pagi tadi kami pun panen.

    Tentu saja, buah Duwet ini melahirkan nostalgia masa kecil. Maklum sudah puluhan tahun tak lagi melihat apalagi mencicipi Duwet. Saya masih ingat betul, saya, dan juga teman-teman semasa kecil di Bojonegoro, Jawa Timur, begitu menyukai Duwet. Bukan sekadar rasanya, tapi efek di mulut seusai makan duwetlah yang melahirkan sensasi dan keriangan. Mulut dan pipi jadi hitam. Gigi pun jadi hitam. Kami berkejaran, mencoba mengusapkan jejak hitam di mulut ke baju teman. Tentu saja semua itu dilakukan dengan penuh canda dan tawa.

    Bening, anak saya yang berusia 1 7 tahun, saya tawari untuk mencicipi Duwet. “Ini beli dari mana?” tanyanya. “Panen dari pohon sendiri,” jawab saya. “Ohhhhh ….”

    Sebutir Duwet dimakannya dengan mimik agak ragu-ragu. Bibirnya sedikit menghitam. “Wah enak juga kok. Agak asam,” begitu komentar Bening seusai melahap sebutir Duwet. “Dibanding anggur enak mana?” begitu saya bertanya. “Enak Anggur,” jawab Bening dengan enteng.

    Huh, dasar generasi Anggur!


      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 4:58 pm