Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» 'Game Mode' di Windows 10 Bisa Bikin PC Ngebut
Mon Jan 16, 2017 1:24 pm by via

» 10 Rumus Kehidupan Ini Akan Buatmu Lebih Bijaksana dan Bahagia
Mon Jan 16, 2017 1:18 pm by via

» Korowai Tribe
Tue Jan 10, 2017 1:25 pm by via

» Cinta "Terlarang" Bung Karno dan Penari Istana
Tue Jan 10, 2017 1:02 pm by via

» 7 Rahasia Wanita yang Tidak Akan Diceritakan ke Pasangannya
Tue Jan 10, 2017 12:44 pm by via

» Ini Shampo Untuk Mengatasi Kulit Kepala Gatal
Tue Jan 10, 2017 12:30 pm by lanang

» Sejarah Koteka
Tue Jan 10, 2017 12:23 pm by lanang

» Saat Fantastic Beasts Bertemu Harry Potter di Dunia Anime
Tue Jan 10, 2017 12:15 pm by lanang

» Modifikasi Knalpot Motor Untuk Performa Terbaik
Tue Jan 10, 2017 12:01 pm by flade

IKLAN ANDA


    Duwet di Bibir Generasi Anggur

    Share

    flade

    938
    23.09.09

    Duwet di Bibir Generasi Anggur

    Post  flade on Thu Jan 22, 2015 6:37 am


    Sebagian orang menyebut Duwet. Ada juga Juwet. Sebagian lagi menyebutnya Jamblang. Masa kecil orang yang kini berusia 40 tahunan ke atas, makan Duwet itu bisa jadi hal yang biasa. Pada 1970-an Duwet sangat populer. Kini buah itu kian langka dan makin terlupakan.

    Seperti apa Duwet? Bentuknya lonjong. Warnanya hitam kemerahan. Ada yang merah kehitaman. Mirip buah anggur. Duwet rasanya agak sepet. Ada manisnya. Ada asamnya. Nano-nano gitu. Ada orang yang makan Duwet dengan sedikit garam. Bahkan ada yang disertai sedikit terasi. Enak katanya. Tapi saya belum pernah mencoba makan Duwet dengan terasi.

    Duwet yang kini sulit dicari di pasar atau toko buah itu, Minggu (27/11) pagi meramaikan rumah saya. Adalah istri saya, Hana, yang beberapa tahun lalu menanam pohon Duwet di halaman belakang rumah. Duwet hitam dan Duwet putih. Nah, pohon Duwet yang hitam, rupanya berbuah lebat. Pagi tadi kami pun panen.

    Tentu saja, buah Duwet ini melahirkan nostalgia masa kecil. Maklum sudah puluhan tahun tak lagi melihat apalagi mencicipi Duwet. Saya masih ingat betul, saya, dan juga teman-teman semasa kecil di Bojonegoro, Jawa Timur, begitu menyukai Duwet. Bukan sekadar rasanya, tapi efek di mulut seusai makan duwetlah yang melahirkan sensasi dan keriangan. Mulut dan pipi jadi hitam. Gigi pun jadi hitam. Kami berkejaran, mencoba mengusapkan jejak hitam di mulut ke baju teman. Tentu saja semua itu dilakukan dengan penuh canda dan tawa.

    Bening, anak saya yang berusia 1 7 tahun, saya tawari untuk mencicipi Duwet. “Ini beli dari mana?” tanyanya. “Panen dari pohon sendiri,” jawab saya. “Ohhhhh ….”

    Sebutir Duwet dimakannya dengan mimik agak ragu-ragu. Bibirnya sedikit menghitam. “Wah enak juga kok. Agak asam,” begitu komentar Bening seusai melahap sebutir Duwet. “Dibanding anggur enak mana?” begitu saya bertanya. “Enak Anggur,” jawab Bening dengan enteng.

    Huh, dasar generasi Anggur!


      Waktu sekarang Thu Jan 19, 2017 7:53 pm