Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Jaringan bikin janda di bawah umur kian menjamur

    Share

    julia

    138
    25.06.11

    Jaringan bikin janda di bawah umur kian menjamur

    Post  julia on Wed Mar 18, 2015 2:07 pm


    Jangan kaget jika berkunjung ke sekitar Pasar Jodoh, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, banyak wanita usia belasan sudah menjadi janda. Konon hal itu dikait-kaitkan dengan tradisi jaringan menjadi penyebab banyaknya janda di bawah umur. Jika di Kota Jakarta istilahnya di sebut 'Jamur': Janda di bawah umur.

    "Keponakan saya aja ada 3 mas yang jadi janda. Usianya 16 tahunan," kata Eka warga Desa Parean Girang saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu pekan kemarin.

    Pengakuan soal banyaknya janda juga dibenarkan oleh Yuani, warga desa Parean Bulak. Dia mengatakan jika kebanyakan warga yang tinggal di sekitar Pasar Jodoh mayoritas menikah muda. Wanita-wanita itu kebanyakan menikah di usia 14 tahun. "Usia 14 tahun dan baru SMP di sini sudah menikah," kata Yuani.

    Lalu bagaimana hubungannya dengan tradisi Jaringan? Eka mengatakan jika dia sempat mengalami tradisi jaringan sekitar 5 tahun lalu. Ajang mencari jodoh ini tadinya memang sakral, lantaran sejak lahir di Desa Parean Girang, tradisi ini memang diperuntukan bagi mereka yang ingin membangun rumah tangga.

    Namun seiring perkembangan zaman, tradisi itu justru diselewengkan hingga menabrak norma-norma masyarakat. Dia mencontohkan. Dulu, pasangan muda-mudi yang mendapat jodoh usai mengikuti tradisi jaringan, akan berlanjut ke pertunangan.

    Namun ketika masa pertunangan itu, terjadi pergeseran makna. Biasanya wanita yang ikut jaringan berorientasi pada materi. Kejadian ini pernah dilihat langsung oleh Eka.

    Ceritanya begini. Ketika itu temannya menemukan jodoh perjaka berprofesi sebagai nelayan. Sesuai tradisi jaringan baik wanita dan lelaki yang terikat pertunangan akan mengabdi bagi keluarganya hingga nanti menuju pernikahan. Biasanya, keluarga lelaki akan memberikan uang jajan kepada wanita tunangan anaknya setiap bulan sesuai kesepakatan yang ditentukan. Sebagai imbalan, wanita itu akan memberikan bawaan berupa kebutuhan untuk lelaki calon suaminya.

    Wanita itu datang ke keluarga lelaki dengan membawa bakul berisi kopi, gula dan segala jenis lainnya. Nanti wanitanya akan diberi uang sebagai balasan.

    Namun seiring bergesernya waktu, uang pemberian itu harus melebihi barang yang dibawa. Jika tidak, pihak wanita bakal memutus sepihak ikatan pertunangan kepada keluarga lelaki. "Kalau yang dikasih uangnya dikit, bisa langsung ditinggal. Barang bawaannya dibawa lagi," kata Eka bercerita.

    Jika merunut pada proses, sebetulnya, usai tradisi jaringan akan berlanjut ke dalam proses lamaran. Pada proses ini orangtua dari pihak laki-laki akan membayar sejumlah uang kepada pihak wanita. Selain itu ada tradisi membagi-bagikan sirih kepada tetangga sebagai isyarat bahwa si gadis sudah "diikat".

    Dalam tradisi itu juga diwajibkan jika lelaki dan wanitanya harus mengabdi kepada calon mertua. Tradisi ini dalam kacamata masyarakat Indramayu disebut dengan sambatan. Eka pun mengakui jika pemuda pemudi yang menghadiri tradisi jaringan sekitar 10 tahun lalu niatnya hanya bersenang-senang. Jarang dari mereka yang benar-benar ingin mencari pendamping hidup.

    "Mungkin karena itu di sini banyak janda," kata Eka yang sudah dua kali menikah ini.


      Waktu sekarang Sun Dec 04, 2016 8:54 am