Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Yesterday at 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Kisah Kakek Sebatang Kara Rawat Anak Telantar yang Menggetarkan Hati

    Share

    lea

    383
    Age : 31
    08.03.09

    Kisah Kakek Sebatang Kara Rawat Anak Telantar yang Menggetarkan Hati

    Post  lea on Wed May 13, 2015 12:38 pm


    Foto: copyright shanghaiist.com

    Jika Anda ditanya bagaimana cara kita mengukur ketulusan seseorang, apa jawaban Anda? Atau mungkin Anda berpendapat kalau ketulusan itu malah tak bisa diukur dengan cara apapun? Ketulusan yang datang dari hati yang paling dalam memang seringkali tak bisa dilihat oleh mata, tapi dirasakan oleh hati.

    Seorang kakek sebatang kara telah membuat hati siapa saja yang mendengar kisahnya terharu. Kakek berusia 70 tahun ini sudah merawat seorang anak terlantar selama 14 tahun. Dilansir dari shanghaiist.com, kakek bernama Li Yuhua itu sudah tinggal di daerah pegunungan di provinsi Anhuai selama 20 tahun. Dulu ia bekerja sebagai petugas keamanan kuil Shenquan di daerah tersebut. Hingga pada suatu hari ia menemukan anak perempuan terlantar di pintu rumah sakit.

    Pada tahun 2001, Li menemukan anak perempuan terlantar di pintu masuk sebuah rumah sakit di kota Xiao. Lalu ia membawa anak perempuan tersebut pulang dan memberinya nama Chen Hui. Chen Hui rupanya lahir dalam keadaan yang kurang sempurna, ia menderita serebral palsi dan epilepsi.


    Foto: copyright shanghaiist.com

    Berkat donasi dan sumbangan, Chen Hui sempat mendapatkan perawatan di sejumlah rumah sakit di Beijing. Sayangnya, kondisi kesehatannya tak kunjung membaik. Untuk biaya kebutuhan sehari-hari, Li menggantungkan pada subsidi pemerintah. Li mendapatkan 2.000 RMB (sekitar 4,2 juta rupiah) dan Chen Hui 400 RMB (sekitar 840 ribu rupiah) per bulannya. Terkadang, mereka juga mendapat kiriman nasi, mi, dan telur dari para donatur.


    Foto: copyright shanghaiist.com

    "Kami memang hidup miskin tapi bisa hidup bahagia bersama-sama," ujar Li. Setiap hari Li akan mengajak Chen Hui untuk bermeditasi bersama. Li akan menggendong putri angkatnya tersebut ke tempat mereka berdua meditasi.


    Foto: copyright shanghaiist.com

    Meski mungkin hidup sang kakek tak pernah bergelimpangan harta, ia tetap memiliki hati yang kaya. Di usia senjanya, ia masih merawat seorang anak yang sama sekali tak memiliki ikatan darah dengannya. Betapa tulusnya sang kakek mau mengadopsi Chen Hui dan menjaganya hingga saat ini. Kita doakan yang terbaik untuk mereka, ya.


      Waktu sekarang Wed Sep 28, 2016 3:36 pm