Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Kau Menolak Berdamai dengan Rasa Cemburu

    Share

    zuko

    152
    25.06.11

    Kau Menolak Berdamai dengan Rasa Cemburu

    Post  zuko on Fri Oct 07, 2016 10:36 pm


    Kau Menolak Berdamai dengan Rasa Cemburu, Itulah Sebabnya Aku Memilih untuk Meninggalkanmu

    Sungguh mengejutkan ketika sore itu kau memintaku untuk menjadi kekasihmu. Aku ingat, waktu itu kau sedang asyik berbincang dengan teman-temanmu di dekat area parkir meskipun sudah lama terdengar bunyi bel tanda jam pelajaran telah berakhir. Sebagai anak SMA yang masih tergolong murid baru, aku menurut saja ketika dipanggil mendekat olehmu dan teman-temanmu. Lalu tanpa banyak bicara dan berpikir, kau berlutut sembari mengutarakan seluruh perasaan cintamu padaku yang senantiasa berdiri terpaku sejak kalimat awal hingga akhir.

    Saat itu aku beranggapan betapa beruntungnya diriku ditembak oleh seorang kakak senior yang sangat digilai oleh seluruh perempuan di sekolah itu. Sehingga tanpa dihinggapi sedikitpun rasa ragu, aku langsung mengiyakan permintaanmu.

    Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri ketika pada jam istirahat kau selalu mengajakku untuk turut bergabung di meja kantin khusus bagi para anggota\' tim basketmu. Juga terasa sangat menyenangkan apabila di tempat parkir anak-anak lain secara otomatis mempersilakanmu yang sedang berboncengan denganku untuk lewat terlebih dahulu.

    Belum lagi saat melihat pandangan iri dari para perempuan lain yang kebetulan melihatku sedang berjalan bergandengan tangan denganmu. Namun belum sampai satu bulan, kemesraan itu tiba-tiba lenyap seperti hantu. Segalanya berubah ketika lama-kelamaan semua rasa manis tergantikan dengan munculnya sifat aslimu.

    Kau adalah pusat dunia, tidak boleh ada orang lain di antara kita.


    Setiap ada kesempatan untuk bertatap muka, bukan kabarku yang pertama kali kau tanya. Namun kau selalu memaksa untuk tahu di mana ponselku berada. Seakan menjadi sebuah kewajiban bagimu untuk mengecek dengan siapa saja aku bertukar pesan dan panggilan suara. Kau akan marah besar apabila aku mencoba menghapus beberapa di antaranya.

    Belum lagi ketika kau menemukan nomor asing atau adanya laki-laki lain yang sempat menghubungiku. Acara pertemuan kita pun hanya akan diwarnai dengan meledaknya amarahmu dan aku yang mencoba menjelaskan semuanya sembari tersedu-sedu. Kau memang tidak pernah pandang bulu. Selalu cemburu pada siapa pun termasuk teman kelompok belajar bahkan saudara sepupuku. Dan selalu pada akhirnya kau akan berkata bahwa usahamu ini adalah salah satu cara untuk melindungiku.

    Kau berhak memutuskan segalanya, aku hanya perlu bilang “Ya”.


    Kau mulai bertindak tidak biasa. Bukankah pada awalnya kau berjanji untuk menerimaku apa adanya? Tapi kini seakan hanya kau yang berhak mempunyai kehendak atas segalanya. Kau mengatur pakaian yang harus aku kenakan ketika kita akan pergi jalan berdua. Di tempat makan, kau memilihkan menu sehat agar nantinya tidak membuat badanku melar kemana-mana.

    Kau juga sering menegurku ketika di depan teman-temanmu aku terlalu banyak ikut bicara atau bercanda. Belum lagi tindakan-tindakan lain yang terkesan memaksa. Kau tidak pernah mau tahu betapa banyak pekerjaan rumahku yang tertunda ketika kau menyuruhku untuk menemanimu menonton pertandingan bola atau berbelanja kemeja. Dan seperti biasa, ketika sekali waktu aku berkata bahwa aku tidak bisa, kau menganggapku terlalu egois karena lebih memprioritaskan hal-hal lainnya.

    Published by Diyah Setiawati - idntimes



      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 12:47 pm