Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Jenis - Jenis Kertas Yang Sering Digunakan Dalam Dunia Percetakan
Fri Aug 18, 2017 1:34 pm by flade

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

IKLAN ANDA


    Hujan; Pelepas Rindu dan Kegundahan Terbaik yang Pernah Semesta Persembahkan

    Share
    avatar
    via

    863
    04.03.09

    Hujan; Pelepas Rindu dan Kegundahan Terbaik yang Pernah Semesta Persembahkan

    Post  via on Sat Mar 04, 2017 10:36 am


    Hujan turun menggoyangkan daun-daun di ranting. Angin membawa sejuknya sampai ke bulu kuduk. Aku suka sekali memandangnya dari depan jendela. Memperhatikan butir demi butir air hujan sampai ke tanah menjadikan warna coklatnya semakin pekat. Di beberapa tempat airnya menggenang, membentuk kolam dari penglihatan semut-semut merah yang berada di sekitar tempat kejadian.

    Hujan selalu membawa sejuknya. Hingga sesekali mendorongku untuk memejamkan mata menikmatinya. Aku suka melakukannya. Tidak hanya sekedar menikmati dingin hujan yang dibawa angin . Tapi angin juga seolah membawa dinginnya kenangan. Nikmatnya mengenang peristiwa yang telah tinggal di waktu lalu.

    Daun-daun di ranting itu jatuh helai demi helai menyapa tanah yang sudah basah. Demikian pula lembar demi lembar masa lalu itu datang menyapa pikiranku. Jatuh pada sebuah lubuk yang telah di genangi rasa bernama rindu. Rindu yang hanya dapat di kenang dan dilepaskan ketika hujan datang. Membiarkannya hadir hingga teduh membawanya kembali ke dalam lubuknya.

    Lembar demi lembar mulai bercerita. Lembar pertama mengingatkanku pada suara yang pernah menjadi nada di hidupku. Bagian yang aku ingat ketika dia tertawa lepas melihat aksi lucu dari pertunjukkan yang kami tonton malam itu di sebuah gedung pertunjukkan.

    Ketika seorang aktor berlari-lari kecil sambil mengupil persis seperti anak kecil berumur empat tahun.

    Lembar kedua mengingatkanku pada lekuk bibirnya. Ketika dia tersenyum bahagia menatapku. Menyampaikan betapa ia bahagia atas cintaku yang dirasakannya. Ketika itu dia duduk disampingku, menggenggam tanganku lalu mengembangkan bibirnya. Penuh kasih mengucapakan terima kasih atas keberadaanku di sampingnya.

    Hujan masih saja turun menjatuhkan daun-daun dari rantingnya. Masih membasahi tanah. Lembar kenangan berlanjut ke lembar berikutnya. Lembar ketiga mengingatkan aku pada air matanya. Masih teringat jelas olehku saat dimana dia menitikkan air matanya pertama kali di hadapanku. Dia hanya membisu. Tak berkata apapun. Pertanyaan-petanyaanku hanya mampu di jawabnya dengan tatapan yang penuh dengan air mata.

    Peristiwa di lembar ini yang paling kuingat. Hingga menghabiskan waktu paling lama mengenangnnya. Aku terus berusaha untuk dapat mencairkan suasana. Membuat bibirnya mengembang. Tapi bibir yang tipis itu tetap saja masih mengecut. Dia masih tanpa suara. Yang terjadi malah air matanya yang semakin melimpah. Membasahi pipinya yang tirus. Matanya yang sayu tak mampu terbelalak karena berat dengan air mata.

    Air matanya berhasil membawa aku ikut terhanyut di dalamnya. Aku masih saja terus berusaha untuk tak menambah air mata. Aku menggenggam tangannya yang terasa lebih dingin dari dingin yang dibawa angin. Tanganya lemah sepertinya tenaganya telah banyak terbuang bersama air mata. Aku tak mampu menahan air mata yang telah menyesak untuk keluar.

    Entah dia tahu atau tidak. Aku juga menangis. Tersedu-sedu di belakang bungkungnya. Aku sama takutnya dengan ketakutan yang dia miliki. Rintik hujan sudah mulai turun jarang-jarang. Tiga puluh rintiknya hitungan mundur. Kenangan itu pun ikut meneduh. Aku suka mengenangmu. Mengenang tawa, senyum dan yang yang paling basah mengenang air mata.

    Pipiku basah. Persis seperti pipi tirusmu waktu itu. Seperti tanah yang telah basah oleh hujan sore ini. Seperti sore waktu itu. Dimana kita masih duduk berdampingan menatap hujan bersama, melawan dingin yang di bawa angin dengan bergenggam tangan. Begitu waktu itu kita melepas rindu dalam kehangatan. Kini masih sama.

    Masih kulepas rindu untukmu dengan cara yang sama. Kulepas rindu dalam genggaman yang akan selalu terasa hangat. Kemarin, sekarang dan selamanya.


    ~source: hipwee



      Waktu sekarang Tue Aug 22, 2017 12:23 pm