Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Mencoba Setia..

    Share

    rose

    2
    19.01.10

    Mencoba Setia..

    Post  rose on Tue Jan 19, 2010 1:34 pm

    Mungkin aku layak disandingkan dengan Hajar yang setia pada Ibrahim, meskipun suaminya meninggalkan ia dan putra mereka yang masih bayi di tengah gurun dengan sedikit perbekalan. Atau mungkin juga tidak. Tapi sampai kini aku masih setia menunggunya.

    Aku masih ingat kata-katanya, bahwa aku akan menjadi prioritasnya kini, namun sampai detik aku bercerita padamu, dia sama sekali belum menjamahku sedikit pun. Lucu, padahal dia sendiri yang berjanji dan mengatakan bahwa ikatan diantara kami adalah suci, tapi ia sendiri yang tak kunjung menghampiri.

    Saat ini aku masih menunggunya setiap hari, setiap saat. Aku masih setia duduk manis menyambutnya, mencoba meraih perhatiannya, tapi sepertinya aku tak cukup berarti baginya. Entahlah, tapi proyek-proyek itu lebih penting, teman-temannya terlalu membutuhkannya, segala aktivitasnya terlalu berharga, selalu saja ada alasan untuk mengenyampingkan aku.

    Kadang aku berpikir mungkin aku belum layak menempati posisi tertinggi baginya. Tapi segera kubuang jauh-jauh pikiran itu. Tentu saja aku berharga, hanya saja waktunya belum tepat. Mungkin.

    Jadi kutunggu saja dia, sampai semua daftar kesibukannya habis, aku masih yakin dia tetap memikirkanku, setidaknya ada sedikit waktunya untuk memikirkanku. Setidaknya harapanku begitu. Semoga saja.

    Ah, dia pulang. Apakah hari ini ia akan menghampiriku? Kuharap begitu. Bukankah tadi malam dia menatapku dengan pandangan haru, agak sedikit kebingungan, tapi jelas merindukanku, sebelum akhirnya dia malah memilih tidur meninggalkanku.

    Ah, dia datang, dia mendekatiku. Menatapku. Tapi mengapa dia malah tertuduk, wajahnya lesu. Ooh, tunggu! Jangan beranjak! Tunggu, jangan pergi tidur dulu, ini baru jam... oh, sudah jam 10 malam, dia pasti kelelahan, tuh baru beranjak ke tempat tidur dia langsung mendengkur. Ah, betapa ku merindukannya, menginginkan perhatiannya, meski sedikit saja. Bukankah aku berhak. Tidak, tapi ini kewajibannya untuk memprioritaskan aku, memberiku waktu yang lebih banyak, memikirkanku, dan membuatku utuh.

    Ah, sudahlah, kutunggu saja dia lagi. Entah sampai kapan, tapi akan selalu kutunggu.

    -----------

    Lelaki itu pulang tergopoh-gopoh, setelah mencuci mukanya ia menatap komputernya lekat. Ia ingat dengan skripsi yang belum sempai ia susun. Belum satu kata pun berhasil ditulisnya, bahkan memikirkannya dengan serius pun belum dilakukan.

    Maaf, malam ini aku harus istirahat, besok saja ku kerjakan jika Jaka tak jadi mengajakku main basket. Tidur ah, capek...

    Zzz... (Niken Rosady)

      Waktu sekarang Tue Dec 06, 2016 1:36 am